
Reana menjerit kesakitan kala Rean menancapkan pisau buah pada paha kanan Reana, gadis itu meraung pilu merasakan pedih dan nyeri yang teramat sangat. Rean yang tak ingin Raina mendengar jeritan Reana, segera menyumpal mulut gadis itu dengan sebuah kain hingga Reana menggigit kain tersebut dengan kuat, seolah menyalurkan rasa sakit itu di sana.
Rean dengan kejamnya mencabut pisau itu kembali hingga darah segar mengucur dari paha Reana yang telah berlubang.
"Kau bahkan menghancurkan satu-satunya peninggalan Mommy yang ku punya ... kau sangat serakah, Reana, hingga tak ingin berbagi kasih sayang Mommy pada saudaramu yang lain!" desis Rean di telinga Adiknya.
Tubuh gadis itu menggigil menahan sakit yang teramat sangat, terlebih ketika Rean mencengkram bekas tancapan pisau itu dengan tangannya hingga darah segar mengalir di sela-sela jari Rean.
Rean tidak akan membuat tanda kekerasan itu di daerah wajah atau bagian tubuh lainnya yang sering terekspos, selama ada Raina ia harus membiasakan diri untuk memilih area tersembunyi sebagai sasaran amarahnya.
Rean takut jika Raina yang melihat semua perbuatan Rean pada Reana, akan men-cap lelaki itu sebagai monster. Rean tak ingin jika Adik kesayangannya akan takut atau yang lebih parahnya lagi tak ingin berdekatan dengan Rean.
"Umpt!" teriak Reana tertahan kala Rean menggores perut ratanya yang masih tebalut seragam dengan pisau buah yang sudah berlumuran darah tadi.
Reana merasa pedih hingga kepalanya ikut berdenyut sakit, darah kembali merembes hingga membuat kemeja putihnya berubah warna di beberapa tempat.
Rean dengan kasar merobek kemeja seragam Reana, begitu juga dengan rok gadis itu membuat pemiliknya menjerit kian pilu.
Ia sudah merasa sangat sakit di sekujur tubuhnya, haruskah ia juga menanggung malu karena pakaiannya yang dilucuti paksa oleh Rean?
Posisinya yang terikat pada kepala ranjang membuat Reana tak bisa lari menyelamatkan diri, ia hanya bisa berdoa semoga Tuhan segera mencabut nyawanya hingga akhirnya ia bisa berbahagia di surga tanpa merasakan kesakitan karena siksaan Rean lagi.
Rean berjalan keluar kamar seperti sedang terburu-buru dan kembali ke kamar dengan sebuah cambuk di tangannya. Reana yang melihat cambuk itu langsung menggelengkan kepalanya kuat, ia berharap sang Kakak tak akan tega mencambuknya.
CTAS!
Pupus sudah harapan Reana karena setelah membuat tubuh Reana tertelungkup, Rean dengan cepat mencambuknya tampa ampun. Lebih dari tiga kali tubuh belakang Reana sudah dicambuk oleh Rean hingga terdapat luka menganga dengan darah yang mengalir.
__ADS_1
Reana menangis tertahan sumpalan kain yang ia gigit guna meredam suaranya, Kakaknya tak ingin Raina mendengar apalagi menyaksikan adegan penyiksaan itu. Rean sangat menyayangi Raina.
Rean terengah dan melihat sang Adik sudah lemas dan nyaris kehilangan kesadarannya. Rean segera menaiki ranjang, melepas ikatan tangan Reana dan membuang kain yang menyumpal mulut gadis itu.
Rean membalik tubuh Reana hingga gadis itu kembali tertentang. Mereka saling berpandangan dengan Rean yang berada di atas tubuh Reana.
"Apa kau kedinginan? Mengapa kau menggigil?" tanya Rean setengah berbisik. Dasar gila! Apa dia tidak melihat Reana tengah menahan sakit dan tangisnya secara bersamaan? Batim Reana kesal.
Rean mengelus lembut wajah Reana dengan ibu jarinya. Seperti seakan ia tak ingin wajah cantik Adiknya rusak hanya dengan menyentuhnya dengan sedikit kasar saja.
Rean mengagumi kecantikan Reana, ia akui Adiknya sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik daripada Raina bahkan gadis bermake-up tebal yang sering menggoda Rean.
Rean tersenyum melihat Reana menggigit bibir bawahnya guna menahan rasa pedih dan nyeri di beberapa titik tubuhnya. Namun, ia salah mengartikan gerakan Reana hingga setitik nafsu muncul di diri Rean pada Adiknya.
"Kau menggodaku, heum?" tanya Rean yang seakan menatap lapar pada Reana yang terengah sesak seakan malaikat maut sudah memegang ubun-ubunnya.
Rean semakin menatap Reana dengan penuh minat, bagaimanapun ia seorang lelaki normal. Dan melihat Reana dalam kondisi seperti itu, membuat Rean memanas.
Tubuh lelaki itu mengeras hingga membuat Rean sendiri nyaris kehilangan akal sehat dan hendak melepas celana dalam Reana, jika saja Adiknya itu tak memanggilnya 'Kakak' dengan isakan dalam yang seakan mengiba minta dikasihani, mungkin Rean sudah melakukan hal lebih jauh lagi.
Rean menggeram frustasi, ia tak suka dipanggil 'Kakak' oleh Reana. Terasa sakit di ulu hatinya kala mendengar panggilan itu, seakan menariknya pada kenyataan status mereka yang sebenarnya.
"Kumohon, jangan hancurkan masa depanku, Kakak." Rean terhenyak dengan mata memanas, setetes air mata jatuh tanpa di sadari Rean. Adiknya itu seolah meminta pengampunan dari seorang penjahat yang akan dengan kejam memperkosanya.
Rean menarik kembali tangannya yang sudah siap melepas satu-satunya kain yang masih melekat di tubuh bawah Reana. Ia merasa sebuah palu menghantam jantungnya kala Adiknya itu mengiba padanya, demi masa depan yang memang nyaris Rean hancurkan.
Rean menarik selimut agar menutupi tubuh Reana yang penuh darah dan luka di beberapa bagian, bahkan kemejanya sendiri juga terkena darah Reana.
__ADS_1
Rean memutuskan keluar untuk memanggil Diana dan Sienna agar membersihkan tubuh Reana. Ia akan menelpon Dokter Arthur setelahnya.
***
Rean memijit pelipisnya yang berdenyut sakit, entah kenapa sisi laki-lakinya muncul kala berdekatan dengan Reana. Ia memukul meja dengan penuh amarah, Rean merasa dirinya seperti lelaki pedofil yang tengah tergila-gila pada tubuh seorang gadis kecil seperti Reana.
Lelaki itu sedikit kaget kala terdengar ketukan pintu dari luar ruang kerjanya, itu pasti Saga yang tadi disuruhnya untuk mengawasi Dokter Arthur yang memeriksa Reana.
"Masuk!" ucap Rean dingin. Tak berapa lama pintu terbuka dan tampak seorang lelaki tampan berwajar datar, tak lain adalah Saga.
"Dokter Arthur sudah kembali ke rumah sakit dan kondisi Reana sudah stabil. Pendarahannya sudah berhenti dan sekarang ia tengah tertidur di kamarmu." Saga menjelaskan kondisi Nona mudanya dengan nada dinginm ia muak pada sikap Rean yang semena-mana dan tak memiliki hati.
Namun, ia tak memiliki kuasa apapun untuk melindungi Reana. Ia menyayangi Reana seperti menyayangi Adiknya sendiri, tentu sangat sakit hatinya kala melihat Reana selalu terluka dan nyaris kehilangan nyawa karena Rean.
Tapi ia bisa apa? Ia hanya bisa ikut menangis dalam diam meski air mata tak menetes di pipinya, ia ikut merasakan sakit meski tak ada luka sedikitpun di kulitnya. Apapun yang terjadi pada Reana, ia ikut merasakannya.
"Hm," gumam Rean seakan tak peduli atas kondisi Reana. "Jangan sampai Raina melihat kondisi Reana, aku tak ingin Raina ketakutan."
Saga mendengus kesal, jujur ia kurang menyukai sifat Raina yang manja dan selalu semaunya sendiri.
"Aku akan memindahkan Reana ke kamarnya sendiri," ucap Saga kemudian hendak pergi dari sana sebelum Rean memanggilnya lagi.
"Biarkan dia di kamarku, biarkan dia tidur denganku ... mulai malam ini!" final Rean yang tak bisa dibantah Saga. Rean membayangkan wajah Reana, ia menyukai semua yang ada di dalam diri gadis itu.
Setengah mati ia memerintahkan otaknya agar membenci Reana. Namun, hatinya tak sejalan dengan otak jeniusnya, ia menginginkan gadis kecil itu agar selalu berada disisinya dan ia tak akan pernah membiarkan lelaki manapun atau siapa pun mengambil Reana darinya.
"Dia hanya milikku!" ucap Rean yang masih tak dimengerti Saga yang tak senagaja mendengarnya karena lelaki itu belum sempat keluar ruangan sang Tuan. Kemudian Rean tertawa terbahak setelahnya, lelaki itu membayangkan Reana yang tak berdaya oleh kuasanya.
__ADS_1
__________Tbc.