Sadistic Brother

Sadistic Brother
28


__ADS_3

Raina menceritakan semua permasalahan dalam keluarganya pada Zefaro yang kini tengah duduk di depannya, secangkir capuccino berada di meja depan lelaki itu yang hanya menyisakan setengah dari isi cangkir tersebut.


Ia tak ingin melewatkan cerita gadis di depannya ini, meski tampak begitu ragu dan sangat lambat dalam mengutarakan permasalahannya, tapi Zefaro tetap sabar mendengarkan si gadis menyelesaikan ceritanya.


Kembali, Zefaro menyeruput capuccino ketika Raina seolah tercekat hingga tak mampu berbicara, gerakan Zefaro yang santai membuat Raina kembali tenang dan bercerita tanpa rasa khawatir akan dihakimi oleh pemuda di depannya kini.


"Jadi, mereka saling mencintai?" tanya Zefaro pelan, ia tak ingin menarik perhatian pengunjung cafe. Raina mengangguk mengiyakan, sesekali Raina menghapus air matanya yang mengalir di pipi pualamnya.


"Dan sekarang Reana pergi dari rumah ... Jane dan Nenek penyebabnya, tapi aku juga tak bisa menyalahkan mereka. Bagaimanapun, hubungan kedua Kakakku itu salah." Raina ingat kalau semalaman ia tak bisa tidur akibat Rean yang terus mengamuk hingga melukai beberapa penjaga dan nyaris menghabisi Karina, juga Jane tak luput dari amukan Rean. Meski pagi tadi Rean sudah sedikit tenang.


"Lalu, apa kau akan memisahkan mereka seperti yang dilakukan Nenekmu?" tanya Zefaro yang dijawab gelengan kepala dari Raina.


"Aku ... merestui mereka." Zefaro tampak kaget atas jawaban Reana. Mimik wajah lelaki itu yang berubah tegang karena terkejut, sempat membuat Raina khawatir akan dihakimi dan diserang dengan beribuh makian. Namun, detik berikutnya Zefaro malah menggenggam tangan kanan Raina yang ada di atas meja dan lelaki itu tersenyum lembut.


"Aku tahu ini sangat berat dan sulit untukmu, aku tahu keputusanmu itu salah. Mendukung mereka untuk bersatu bukanlah jalan keluar dari permasalahan ini. Tapi, aku akan coba menutup mata dan telinga atas kisah percintaan mereka yang tidak normal, karena aku tahu kau melakukan ini bukan tanpa alasan."


Raina menatap tangannya yang digenggam oleh Zefaro, detak jantungnya berdetak kian cepat bahkan terasa sedikit ngilu di rongga dadanya. Namun anehnya, Raina menikmati hal itu, momen di mana Zefaro berbuat manis padanya terbilang sangat langka, maka ia akan mengingat momen itu seumur hidupnya.


"Terimakasih, aku tahu kalau aku egois ... tapi, aku tidak ingin kehilangan mereka. Firasat ku buruk jika mereka berpisah, dan mempersatukan mereka di altar pernikahan juga bukan pilihan yang bagus."


"Percayalah, semua akan baik-baik saja."


Beberapa detik mereka bertatapan satu sama lain, dan selama itulah jantung Zefaro mulai menggila. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Lelaki itu dengan cepat menarik tangannya dari Raina, bersentuhan dengan gadis di depannya memiliki efek buruk bagi tubuhnya.


"J-jadi, apa kau tahu di mana Reana sekarang?" Zefaro merutuki kegagapannya yang entah dari mana ia dapatkan, juga pertanyaan konyol yang seharusnya tak ia tanyakan.


Karena, jika Raina tahu di mana Reana sekarang sudah pasti gadis itu akan membawa beberapa bodyguardnya untuk menjemput Reana, bukan menunggunya di depan gerbang sekolah seperti pagi tadi.


"Tentu saja aku tidak tahu," jawab Raina lemas. Zefaro mengetukkan jarinya beberapa kali di meja, mengurangi rasa gugup dan canggung yang tiba-tiba menyelimuti mereka.


Tak berapa lama kemudian ponsel Raina berdering tanda sebuah panggilan masuk ke benda itu yang ditujukannya untuknya, nama Saga tertera di layar pipih tersebut.


"Halo, ada ap--"


Raina tak bisa menyelesaikan pertanyaannya kala mendengar penjelasan Saga yang terdengar sangat terburu-buru.


Rean mengamuk dan membunuh beberapa anak buahnya, bahkan suara teriakan Rean dan letupan senjata api terdengar jelas di telinganya. Raina segera menutup ponselnya dan berlari keluar cafe tersebut diikuti oleh Zefaro.


Mereka harus cepat sampai ke mansion atau ia tak akan bisa menyelamatkan Neneknya dan Jane.


***


Jane meraung kesakitan kala sebuah katana menusuk bahu kanannya, kakinya juga terkilir akibat jatuh dari tangga, tentu saja Rean yang melakukannya.


Di sebelah kanan Jane, Karina tengah merintih sakit akibat timah panas yang bersarang pada paha kanannya, seorang bodyguard tengah memegangi Karina agar tetap berdiri di depan Rean.


"Kau gila!" teriak Jane tepat di depan wajah Rean. Gadis itu berusaha lepas dari sebuah tali yang mengikat lehernya. Tali panjang itu dipegang oleh Rean dan jika lelaki itu menariknya, maka Jane akan tercekik oleh tali tersebut.


SRET!

__ADS_1


"Akh!" Jane mendelik kala Rean menarik tali tersebut. Lelaki itu tertawa puas kala melihat Jane begitu tersiksa.


Rean menghampiri gadis itu, merobek baju gadis itu dan berdecak remeh kala melihat hanya bahu Jane saja yang terluka.


Jane kembali menjerit sakit kala sayatan demi sayatan kembali ia terima. Karina yang melihat itu semua merasa hatinya diremas, ia tak menyangka jika cucunya akan berlaku segila ini pada tunangannya dan juga dirinya selaku sang Nenek dari Rean.


"Ambilkan air lemon," ucap Rean pada salah satu maidnya. Segera wanita berseragam hitam putih itu mengambilkan semangkuk air lemon yang kemudian diambil Rean dengan cepat.


"JANGAN!!" teriak Jane yang melihat Rean berjalan perlahan mendekatinya. Tawa iblis laki-laki itu terdengar mengerikan bagi semua orang yang ada di ruangan tersebut.


"Rean, hentikan! Apa yang kau inginkan akan aku turuti! Tapi tolong lepaskan kami!" Karina mulai pucat karena kehilangan banyak darah, sedangkan Jane sudah tampak menggeliat di lantai akibat air lemon yang disiramkan Rean pada luka sayat menganga di tubuh gadis itu.


"Apapun?" tanya Rean menegaskan. Karina mengangguk dengan cepat. Ia tak ingin mengalami nasip seperti Jane. Luka tembak saja sudah sangat menyakitkan, apalagi jika harus disiram dengan air lemon seperti itu. Sungguh Karina ngilu dibuatnya.


"Katakan saja, apa yang kau inginkan?" tanya Karina dengan cepat.


"Berikan Reana untukku, dan singkirkan penghalang yang kau datangkan untuk jalan kami bersatu!"


Karina bagai disambar petir tepat di puncak kepalanya, wanita tua itu tak mungkin membiarkan mereka bersatu. Namun, Jane harus segera dibawa ke rumah sakit sebelum gadis itu tewas mengenaskan.


Mau tidak mau Karina mengangguk setuju. Tanpa diduga, Rean menyodorkan sebuah map berwarna merah. Di dalamnya ada sebuah surat perjanjian antara mereka berdua yang harus ditanda tangani oleh keduanya. Rean tak ingin lagi ditipu oleh Karina.


"Bagus! Sekarang Reana sudah resmi menjadi milikku, dan jika kau atau siapapun berani mengambil dia dariku, maka orang itu akan mati! Berlaku juga untukmu, Nenek." Rean tertawa terbahak setelah memberikan map itu pada Saga.


Tanpa perasaan sedikitpun, Rean menjambak Jane dan menyeret wanita itu keluar rumah, melemparnya bagaikan melempar seekor kucing yang kedapatan mencuri ikan di rumahnya. Rean kemudian menyuruh beberapa orangnya untuk membawa Jane dan Karina ke rumah sakit.


Gadis itu tak terima, Reana harus merasakannya juga. Bahkan lebih dari ini. Sumpah Jane dalam hati.


"Kakak!" pekik Raina yang datang bersama Zefaro.


"Reana!" Rean merasa bahagia luar biasa kala melihat sosok gadis yang dicintainya berdiri di belakang Raina dan Zefaro.


Reana tampak ketakutan melihat kondisi Jane dan juga Karina. Gadis itu mundur beberapa langkah kala Rean mendekatinya. Kakanya itu sangat mengerikan dengan tangan dan kemeja yang terdapat bercak darah.


"Ja-ngan sakiti aku ... hiks ... jangan," isak Reana ketakutan. Rean melihat ke arah Jane dan Karina, menyuruh beberapa orangnya untuk menyingkirkan dua orang yang menjadi sumber ketakutan wanitanya.


"Bawa mereka pergi, gadisku tak ingin melihat mereka." Reana menggeleng kala mendengar Rean mengatakan itu.


Bukan ia yang tak ingin melihat Neneknya, tapi Rean lah yang menjadi ketakutan Reana saat ini. Gadis itu merasa bibirnya kelu, bahkan lututnya terasa lemas hingga terjatuh di lantai dan menyerah pada pelukan posesif Rean.


Kakaknya itu juga menuntut ciuman panas darinya. Reana tak sanggup menolak, ia menyesal ikut kembali ke rumah saat dirinya bertemu dengan Raina tadi. Ia yang awalnya mencemaskan keadaan Rean, kini berubah menjadi kecemasan akan keselamatan dirinya sendiri.


"Kau tampak kotor, biar aku membersihkan tubuhmu sekarang." Reana menggeleng tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun dari bibirnya. Gadis itu berusaha merangkak pergi dari sana, akan tetapi Rean lebih cepat menggendongnya tanpa memperdulikan tangisan Reana.


"JA-NGAN, KAK!! KUMOHON, TOLONG AKU!" teriak Reana pada Saga, Zefaro dan Raina yang masih berdiri diam mematung di sana. Mereka hanya diam tanpa berani melakukan apapun.


Zefaro tampak shock dengan semua kejadian mendadak yang disaksikannya. Namun, Raina lebih terpukul darinya. Gadis itu gemetar, dan Zefaro secara refleks menenangkannya dengan cara memeluk Raina dengan erat.


"Kosongkan mansion, karena aku hanya ingin berdua saja dengan calon istriku." Saga membungkuk hormat pada Rean yang sudah berjalan menaiki tangga, ia tak bisa melakukan hal lebih selain mematuhi perintah tuannya.

__ADS_1


***


Reana menangis terisak kala mendapati kenyataan pahit yang ia terima. Mahkota yang selama ini ia jaga, telah direnggut paksa oleh Kakak kandungnya sendiri. Wanita itu hanya bisa menatap langit-langit kamarnya, tangannya masih terikat pada kepala ranjang. Fisiknya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit.


Sebegitu teganya sang Kakak melakukan hal biadab tersebut padanya. Entah berapa kali Rean menanamkan benihnya pada rahim Reana, wanita itu tak ingin mengingatnya dan berharap ini hanya mimpi.


Seharusnya ia diam saja di rumah Aldric saat itu, maka ia tak akan bertemu dengan Raina dan setuju untuk pulang. Sekarang, nasi sudah menjadi bubur, penyesalan yang datang terlambat pun tiada guna. Semua telah hilang dalam waktu satu malam. Kehormatannya, masa depannya, juga kebebasan wanita itu telah diambil oleh Rean.


Sungguh, betapa bodohnya Reana yang tak sanggup melawan Rean, seharusnya ia tusuk saja Kakak brengseknya itu dengan pisau. Namun, ancaman Rean yang akan menghabisi Karina dan Raina lebih menakutkan dari apapun.


"Kau sudah bangun, Sayang?" Reana sedikit beringsut kala Rean akan memeluknya. Tapi gerakannya tertahan karena rasa perih pada kewanitaannya. Reana mendesis akibatnya.


"Aku mencintaimu, jangan meninggalkanku lagi." Rean berkata tepat di telinga Reana. Wanita itu kembali menangis kala dirasakannya tangan kanan Rean yang tak bisa berhenti menjamah tubuh polosnya di balik selimut.


Ia merasa begitu direndahkan. Sungguh, Rean tak mengerti caranya memperlakukan seorang wanita dengan baik.


"Jangan menangis, kau sudah menjadi milikku sekarang."


"Kaka--"


"Jangan membantah!" ucap Rean sarkas. Reana diam seribu bahasa. Ia tak ingin mencari masalah pada pria dewasa di depannya kini.


Tak berapa lama kemudian Rean melepas ikatan Reana, kembali mencumbu gadis itu tanpa ampun dan berharap Adiknya bisa memberikannya keturunan.


Ia hanya ingin seorang bayi dari wanita yang ia cintai, meski nantinya Reana tak bisa memberikannya seorang anak pun, Rean sama sekali tak mempermasalahkannya. Mereka masih bisa mengambil jalan adopsi, bukan?


Kembali tangisan pilu menyayat hati terdengar memenuhi kamar Rean yang didominasi warna putih gading. Rean sebetulnya merasa kasihan pada rintihan kesakitan Reana, tapi mau bagaimana lagi? Lelaki itu terlanjur menikmati tubuh Adiknya dan merasa candu akan hal itu.


Reana jatuh pingsan kala ia tak sanggup lagi melayani nafsu Rean, Kakaknya itu seperti tidak akan pernah ada puasnya menyakitinya.


Rean tersenyum senang kala melihat bercak darah pada sprei ranjangnya. Rean adalah yang pertama untuk Reana, dan lelaki itu berjanji tak akan pernah meninggalkan Reana.


"Aku tak ingin kau pergi dariku, melihatmu memeluk lelaki lain saat itu, membuat hatiku sakit. Aku tidak mau kembali merasakannya." Rean memeluk Reana dengan posesif, hingga alam mimpi kembali menjemputnya.


_________Tbc.


*Ini bukan saya yang ngetik ..........


Tapi jempol saya😭😭😭😭😭😭


(Entah apa yang jempol tata pikirin pas ngetik ini cerita😭)


Mau hapus, tapi udah banyak.


Hadeehhh, galau saya😅🤭


Gimana ini, gimanaaa?????


Mau lanjut apa udahan aja ceritanya? Soalnya makin gak jelas dan gak ada pembelajaran yang bisa dipetik di sini😭😭

__ADS_1


__ADS_2