Sadistic Brother

Sadistic Brother
21


__ADS_3

Rean membawa Reana pergi meninggalkan acara perjodohannya dengan Jane, ia merasa muak dengan Neneknya yang selalu bertindak semaunya sendiri.


Rean menghentikan mobilnya di sebuah danau yang berada di tengah hutan Pinus, hanya suara hewan malam lah yang menemani mereka saat ini.


Angin malam berhembus begitu dingin ketika Reana keluar dari mobil dan menyusul Rean yang sudah berada cukup jauh di depan nya. Gadis itu sedikit berlari agar secepatnya sampai pada Rean yang sudah mendudukkan dirinya di sebuah rakit.


"Kau kedinginan?" tanya Rean yang melihat Reana memeluk tubuhnya sendiri. Gadis itu mengangguk, ia sebenarnya tak kuat dengan udara malam yang begitu menusuk kulit, tapi ia tak berani berkata jujur pada Rean karena takut lelaki itu akan marah.


Rean melepas jas biru tuanya, memakaikan pada Reana dan gadis itu tersenyum karena rasa hangat yang mulai menyelimuti tubuhnya.


"Terimakasih, Kak." Reana berkata dengan tulus pada Rean yang kini hanya diam menatap ke arahnya. Ditatap sebegitu intens nya, membuat Reana salah tingkah, jantungnya berpacu lebih cepat dan wajahnya terasa begitu panas.


"Kenapa kau dilahirkan sebagai Adikku, Reana?" tanya Rean yang membuat gadis itu mendongak menatapnya. Kedua mata Reana berkaca-kaca, ucapan Kakaknya terasa menusuk tepat di ulu hatinya.


Reana kembali menunduk, ia bingung harus menjawab pertanyaan Kakaknya dengan jawaban seperti apa. Rean yang tadinya berlutut di depan Reana, kini mengubah posisinya seperti semula, duduk di samping Adiknya.


"Kakak?" Rean menoleh ke arah Reana yang memanggilnya lirih, gadis itu menggigit bibir bawahnya dan membuat bibirnya sedikit berdarah. Rean segera mengambil sapu tangannya dan menghapus noda darah itu dengan perlahan, takut jika si empunya merasa kesakitan jika ia mengusap sedikit kasar.


"Eh?" Reana kaget ketika Rean melakukan hal itu, ia tak sadar telah menggigit bibirnya sampai berdarah, bahkan ia sama sekali tak merasa kesakitan.


"Kau menggigit bibir mu hingga berdarah. Apa kau tak nyaman di sini?" tanya Rean yang merasa Reana tak nyaman dengan tempat yang ia pilih. Namun, gadis itu menggeleng pelan, ia hanya gugup berada di dekat Rean.


"Bu-kan ... aku hanya gugup a-da di de-kat Kakak," ucap Reana jujur. Rean terkekeh pelan kemudian mengacak Surai lembut sang Adik, ia menyukai Reana yang berkata jujur tentang perasaannya.


"Kunang-kunang, Kak, lihat!" seru Reana yang melihat sekelompok kunang-kunang tengah terbang di sekitar mereka. Rean kembali tersenyum kala melihat Reana yang begitu kagum pada hewan kecil yang mengeluarkan sinar itu.


"Apa kau mau aku menangkapnya untukmu?" tanya Rean yang merasa Adiknya begitu ingin menangkap kunang-kunang itu.


"Jangan, Kak!" pekik Reana menahan Kakaknya yang sudah akan berdiri menangkap mereka.


"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?" tanya Rean bingung.

__ADS_1


"Iya, tapi rata-rata rentang usia mereka hanya 2 bulan. Biarkan mereka terbang dan memberikan sinarnya untuk menerangi danau ini, sebelum mereka pergi untuk menerangi surga," ucap Reana yang tak sadar telah membuat Rean terdiam. Lelaki itu baru sadar bahwa panjang umur seseorang tidak ada yang mengetahuinya.


"Kakak, kenapa?" tanya Reana lirih, gadis itu menyentuh punggung tangan Rean, membuat pemiliknya sedikit berjingkat kaget.


"Jangan tinggalkan aku sendiri," ucap Rean yang membuat Reana menatapnya bingung.


"Jangan pergi ke mana pun, jika bukan aku yang meminta." Rean merengkuh tubuh mungil Adiknya. Ia merasa takut jika suatu saat Reana akan pergi meninggalkannya. Tidak, ia tidak menyayangi gadis itu, Rean hanya ingin terus menyiksa Reana selamanya. Itulah yang lelaki tersebut tegaskan dalam otaknya.


"Aku ... tak akan pergi ke manapun." Reana berkata lirih. Namun, entah kenapa Rean merasa cepat atau lambat Reana akan pergi meninggalkannya.


"Se-sak, Kak," tegur Reana kala pelukan Rean semakin erat dan itu terasa sesak sulit bernapas. Rean segera melepas pelukannya.


"Maaf," ucap Rean tulus. Reana sedikit tersentak kaget, baru kali ini Kakaknya meminta maaf padanya. Gadis itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia terharu melihat perubahan kecil Rean yang menjadi sedikit lebih lembut.


"Aku ... membencimu, Reana. Sangat membencimu." Rean berucap lirih, tapi masih didengar jelas oleh Reana. Gadis itu menunduk lesu, Kakaknya tak berubah. Rean tetap membencinya.


Rean menutup kedua mata Reana dengan telapak tangan kanannya, sedangkan tangan yang kiri ia gunakan untuk meraih tengkuk gadis itu.


Perlahan Rean menarik Reana mendekat padanya, gadis itu hanya diam menurut mengikuti tarikan Rean pada tengkuknya.


Reana seakan berhenti bernapas kala merasakan benda lembut dan basah menyentuh permukaan bibirnya. Ia yang kedua matanya masih ditutup oleh telapak tangan Rean, hanya diam tak bergeming kala Kakaknya begitu lembut menciumnya.


Menghanyutkan gadis itu ke dalam nikmatnya dosa ketabuan yang akan menyeret mereka ke dasar neraka terdalam.


'Biarlah seperti ini. Biarlah aku yang menanggung dosa ini. Dan biarkanlah dia tetap berada di sisiku, selamanya' ucap Rean dalam hati


Ia ingin menjadi lebih egois dibandingkan Neneknya, Karina.


***


Rean mendecih kesal kala pagi ini ia sudah dikejutkan dengan kehadiran Karina bersama dengan Jane yang mana mereka akan menginap di mansion Rean.

__ADS_1


Lelaki itu ingin rasanya menendang Neneknya keluar dari kediamannya, jika saja Reana tak begitu senang dengan kedatangan wanita itu hingga Adiknya memeluk erat sang Nenek.


"Tidak ku ijinkan!" tolak Rean meninggikan suaranya, sejak dulu ia memang tak pernah akur dengan Karina. Hubungan mereka memburuk di tahun-tahun terakhir, tapi entah kenapa sekarang wanita itu seolah begitu perhatian padanya hingga mencarikan Rean seorang calon istri.


"Rean, kalian harus semakin dekat. Bagaimanapun juga, Jane itu calon istri kamu, Rean." Karina berkata dengan nada lembut. Wanita tua tersebut menatap mata cucunya yang mana wajahnya kian terlihat marah.


"Calon istri? Apa Nenek bercanda? Aku tak mungkin Sudi menikah dengannya!" Rean kian marah kala Karina menyinggung status Jane di depan Reana. Lelaki itu memilih pergi dari sana, ia tak mau mengurusi kedua orang yang sebetulnya dirinya tak suka.


Berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya itu akan jauh lebih baik dari pada harus semakin lama berdebat dengan Karina.


Sedangkan Reana hanya diam menunduk menahan sakit di hatinya kala mengingat status Jane yang seorang calon istri Rean, sedangkan ia hanyalah seorang Adik bagi Rean.


"Nek, aku akan mengantarkan kalian ke kamar," ucap Reana pelan pada Karina. Ia ingin segera pergi dari sana untuk meredam rasa sesak di dadanya.


"Reana, berikan kamarmu untuk Jane," ucap Karina yang membuat Reana sontak menghentikan langkahnya yang tengah membawa koper sang Nenek.


"A-pa?" tanya Reana kaget hingga terbata. Sedangkan Jane hanya tersenyum senang dengan keputusan Karina.


"Kamarmu berada di samping kamar Rean, bukan? Akan lebih baik jika Jane yang menempati kamar itu, dan kau bisa tidur dengan Raina." Karina menepuk bahu Reana pelan. Gadis itu diam mematung, ia merasa begitu mustahil bisa bersama dengan Rean seperti ucapan Kakaknya semalam.


"Kita akan selalu bersama, tak akan ada yang bisa memisahkan kita, Reana. Aku ... mencintaimu, jadilah milikku." ucapan Rean semalam masih terngiang jelas di telinganya.


Sebuah pernyataan cinta tulus dari Rean, yang dijawab sebuah anggukan oleh Reana. Ia menerima Rean menjadi kekasihnya, bukan Kakaknya.


Namun kini, seakan semua angan untuk bersama-sama selamanya terasa kian menipis. Tak akan pernah ada satu pihak pun yang akan mendukungnya. Bahkan, Tuhan sudah pasti mengutuk mereka dari atas sana.


"Aku ... akan tidur di kamar lain saja, Nek." Reana segera berlalu dari sana membiarkan Diana membantu Karina ke kamarnya.


Sedangkan ia sendiri akan mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke kamar lain. Jane mengikutinya dari belakang.


"Kau pasti senang kan, Reana, jika aku menjadi Kakak iparmu. Lagi pula aku kan sahabatmu," ucap Jane yang begitu senang tanpa melihat kesakitan yang terpancar pada sorot mata Reana.

__ADS_1


Namun, gadis itu tak ingin terlalu terbawa suasana hingga nantinya akan membuat mood-nya memburuk, Reana memilih diam mengabaikan Jane yang terus berbicara tentang betapa bahagianya dia yang akan memiliki suami sesempurna Rean.


________________Tbc.


__ADS_2