
**maaf ya, dari kemarin tata cuma bilang mau up, mau up, dan mau up tapi gak di update².
soalnya tata tuh sibuuuuukkkkk banget, jadinya cuma bisa janji-janji doang tapi nggak di tepati:(
please, jangan kesal sama saya ya kakak😭😭😭😭✌🏼✌🏼
ok deh, langsung baca aja yuk🤗🤗**
.
.
.
.
.
.
.
.
Zefaro menatap seorang wanita paruh baya yang kini terbaring lelap di ranjangnya, kamar bercat putih gading itu selalu menenangkan untuk Zefaro.
Namun, kini ia duduk di kamar itu dengan air mata yang menetes. Ibunya, wanita itu tampak menderita lebam di beberapa titik yang disebabkan oleh kekerasan dari sang Ayah yang temperamental.
Sudah seringkali Faro mengajak ibunya untuk pergi meninggalkan Ayahnya, akan tetapi cinta sang Ibu begitu kuat sampai tak sanggup meninggalkan Ayahnya yang berhati kejam itu.
Terang-terangan sang Ayah telah menjalin kasih dengan perempuan lain, tapi Ibunya masih tetap saja setia pada lelaki seperti itu yang selalu membuat Faro muak.
"Mom, maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik," sesal Faro seraya melihat ke cermin rias yang ada di kamar Ibunya.
Terdapat beberapa lebam dan darah yang memenuhi wajahnya, lelaki itu baru saja dihajar oleh bodyguard sang Ayah kala ia akan melindungi Ibunya.
Lukanya memang sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit saat melihat wanita paruh baya itu dihajar di depan mata kepalanya sendiri.
Ia merasa tak berguna sebagai anak lelaki, ia tak bisa menjaga Ibunya dengan baik.
***
Reana terbaring lemah di rumah sakit dengan Rean yang menggenggam tangannya, ia menyesal telah mempercayai Jane dan memilih menghajar Reana lagi. Ia yang tak pandai menjaga emosi, langsung memukuli Reana tanpa memberikan gadis itu kesempatan untuk menjelaskan.
Sudah hari ke-2 sejak kejadian itu, tapi Reana belum juga sadar dan sejak dua hari yang lalu juga Rean tak kembali ke rumah. Bahkan ia tak ingat kapan terakhir kali ia mengisi perutnya.
Rean hanya akan duduk di dekat Reana, menggenggam tangan Adiknya dan ikut tertidur kala malam telah tiba. Ia juga tak mempedulikan wajahnya yang sudah nampak pucat, begitupun dengan pekerjaan kantor yang ia tinggalkan begitu saja.
Ia hanya ingin Reana-nya kembali, ia tak ingin gadis itu pergi meninggalkannya.
"Sebaiknya kau pulang terlebih dulu, biar aku yang menjaganya!" seru Saga yang entah sudah ke berapa kalinya. Ia tahu betul bahwa Rean butuh istirahat, tapi lelaki itu tak mau peduli akan kondisinya sendiri dan memilih tetap duduk diam di samping gadis itu tanpa mau beranjak sedikit pun.
"Biarkan aku saja yang menjaganya, kau urus saja Raina. Aku tak ingin pergi dari sini." Rean tak mengalihkan pandangannya dari Reana, ia berharap gadis itu segera membuka mata dan Reanlah orang pertama yang dilihatnya. Bukan Saga atau orang lain.
"Tapi--"
"Pergilah!"
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, setidaknya isilah perutmu sendiri," ucap Saga setelah mengganti makanan Rean yang sudah basi dengan makanan baru. Tampaknya lelaki itu sama sekali tak menyentuh makanan itu semalam.
"Hm," gumam Rean tak jelas. Akhirnya Saga memilih pergi dari sana dan kembali ke mansion. Raina yang marah pada Rean, enggan bertemu dengan lelaki itu. Bahkan Raina juga membuang muka kala berpapasan dengan Kakak sulungnya tersebut.
***
Raina menatap marah pada Jane yang kini berdiri dengan bersidekap dada, Raina sudah tahu penyebab kemarin Kakaknya murka adalah ulah dari Jane.
Gadis yang 'katanya' adalah tunangan Rean itu, mengambil diam-diam foto Vanessa yang tengah berciuman dengan Lucas, pacar baru Vanessa.
Postur tubuh Vanessa dan Reana memang sama, apalagi ketika itu Vanessa tengah meminjam jaket Reana, karena blazer sekolahnya tertumpah milk shake saat di kantin sekolah.
Raina tahu semua kejadian itu karena saat Vanessa meminjam jaket Reana, gadis itu berada di sana. Dan saat Lucas mencium Vanessa di roof top sekolah, Raina sudah pulang dengan Reana karena saat kejadian itu senja sudah tiba.
Jadi, tak mungkin Reana ada di dua tempat berbeda di waktu yang sama.
"Licik!" desis Raina menatap tajam. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum congkak. Ia merasa menang dari Reana.
"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Rean adalah milikku, dan Reana hanyalah batu sandungan yang harus disingkirkan." Jane berbicara dengan congkaknya. Berbeda saat gadis itu tengah berada di tengah keluarga Reana yang lain, Jane nampak begitu baik, sopan dan terpelajar.
"Jika kau berani melakukan hal itu pada Reana, maka aku tak segan menghabisimu!" ucap Raina mengancam.
"Kau tak akan berani melakukannya, Raina. Kau hanyalah gadis lemah yang bahkan melawan Reana saja kau tak bisa. Apalagi melawanku," desis Jane meremehkan Raina.
Tanpa diduga oleh Jane sebelumnya, Raina mengeluarkan Revolver dari saku mantelnya. Mengacungkan tepat di kening Jane.
Jane membeku seketika, ia lupa satu hal tentang Raina, gadis itu memiliki trauma masa lalu tentang penghianatan dan kekerasan. Maka bukan tidak mungkin jika Raina bisa berbuat nekat dengan mudah.
Apalagi pembunuhan dan penyiksaan bukan hal baru lagi bagi keluarga Hounten.
Akhirnya Jane memutuskan pergi dari sana meninggalkan Raina tanpa sepatah kata pun. Ia masih menyayangi nyawanya.
"Padahal ini kan hanya pistol mainan milikku dulu," ucap Raina kemudian memasukkan kembali pistol mainan itu ke saku mantelnya. Ia baru saja menemukan mainan lamanya di gudang tadi.
***
Reana membuka kedua matanya, dan yang pertama dilihatnya adalah Rean yang berada di sisi kanannya dengan tangan yang menggenggam tangannya.
Rean yang melihat Reana siuman, segera mendekat ke arah gadis itu dan raut wajah khawatir sekaligus lega terukir di wajah tampannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rean panik, disentuhnya pipi kanan Reana, gadis itu sedikit beringsut karena takut.
"Aku ... ti-dak salah ... hiks," Isak Reana kala mengingat tuduhan sang Kakak padanya.
Rean menarik napas berat dan menghembuskannya perlahan. Adiknya tampak ketakutan padanya, lelaki itu menyesal telah berbuat kekerasan pada Reana tanpa memberi kesempatan Reana menjelaskan.
"Kuenya ... kueku," lirih Reana meracau. Rean bingung dengan apa yang dimaksud oleh Reana.
"Kue?" tanya Rean bingung. Reana mengangguk cepat, Kakaknya sedang ulang tahun dan dia telah membuatkan kue untuknya. Tapi, sekarang ia ada di rumah sakit dan bagaimana dengan kue juga kadonya.
"Kue ulang tahun untuk Kakak."
DEG ...
Rean terpaku kala mendengar sang Adik mengingat hari ulang tahunnya, bahkan gadis itu juga membuatkan kue ulang tahun untuknya.
"Reana," panggil Rean parau, lelaki itu menggenggam tangan Adiknya. Rean merasa sangat bersalah karena sama sekali tak melihat kebaikan hati Reana dan kasih sayang gadis itu untuknya.
__ADS_1
Ia masih saja bisa termakan berita bohong tentang gadis itu. Rasa cinta Rean yang begitu besar untuk Reana, membuatnya selalu ketakutan akan pengkhianatan yang suatu saat Reana lakukan.
'saat ini Adikmu memang masih kecil, maka dari itu ia masih belum mengerti tentang rasa sayang yang dimilikinya untukmu. Aku yakin jika sudah dewasa nanti, Reana akan meninggalkanmu pergi karena ia telah sadar bahwa semua yang terjadi dengan kalian itu salah. Bisa saja Reana akan membencimu selamanya,' kata-kata dari Karina terus terngiang di telinga Rean. Ia tak sanggup jika harus kehilangan Reana, gadis kecil yang ia cintai.
"Kakak, selamat ulang tahun," ucap Reana lirih. mendengar ucapan ulang tahun dari Adiknya, Rean merasa bahagia hingga terharu dibuatnya.
"Terimakasih, Reana, kau sudah mengingatnya," ucap Rean bahagia. Lelaki itu kemudian mendekat ke arah Reana, menyentuh pipi kanannya, dan mengecup bibir gadis itu dengan hangat.
Rean tak peduli dengan siapa dan apa status mereka berdua, yang ia pedulikan adalah mereka yang saling mencintai selayaknya sepasang kekasih, itu sudah cukup.
"Mmhh." Reana melenguh kala ciuman Kakaknya semakin liar. Bahkan Rean juga menyentuh aset Reana yang selalu ia jaga dengan baik. Kini, Kakaknya itu dengan lancang menyentuhnya begitu saja.
Reana yang kaget langsung mendorong Rean, akan tetapi usahanya gagal karena Rean begitu kuat. Gadis itu mulai menangis katakutan kala jemari Kakaknya bermain di sana, sungguh ia tak ingin Rean berbuat hal yang lebih jauh lagi.
"Ekhem."
Deheman seseorang berhasil membuat Rean kembali tersadar atas aksi gilanya pada Adik kandungnya sendiri. Ia merasa bersalah saat melihat Reana sudah pucat pasi dengan isakan yang dalam. Kenapa ia bisa tidak mendengar Adiknya menangis?
Rean menoleh ke arah pintu, ada Raina yang sudah berdiri di sana dengan sekeranjang buah dan sebuah paper bag berwarna coklat yang dijinjing di tangan kanannya.
"Raina," panggil Rean pelan, ia rasa Adiknya masih marah padanya.
"Apa?!" jawab Raina ketus pada Rean. Ia enggan berdekatan dengan lelaki itu, kilas balik masa lalu tentang Ayahnya kembali berputar saat ia melihat Rean memukuli Reana kemarin. Membuatnya merasakan ketakutan, kesakitan, dan kebencian yang sama seperti saat ia masih berumur 5 tahun dulu.
"Kakak hanya ingin bicara denganmu," ucap Rean pelan. Namun, Raina tak peduli. Ia justru memilih merapikan kembali baju Reana yang tadi diacak-acak oleh Rean.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah melupakan semuanya. Dan soal foto itu, gadis yang ada di dalam foto itu bukan Reana." Mendengar hal itu, Rean serasa kehabisan kata-kata. Ia seakan tak percaya, akan tetapi Raina tak mungkin berbohong perihal masalah yang serius seperti ini.
"Vanessa meminjam jaket Reana hari itu, karena blazer seragamnya tertumpah oleh jus ketika jam makan siang di kantin sekolah. Postur tubuh mereka sama, ditambah lagi kau hanya melihat jaket yang dikenakannya.
Saat kejadian itu, aku dan Reana sudah berada di dalam mobil bersama Saga untuk kembali ke mansion. Jadi, tidak mungkin Reana ada di dua tempat berbeda di waktu yang sama, 'kan?"
Raina menjelaskan semuanya pada Rean hingga lelaki itu mengerti semuanya. Ia juga tahu sekarang, bahwa semua masalah ini bersumber dari Jane.
"Jane ... gadis tak tahu diri!" desis Rean dengan penuh amarah.
"Ini kado Reana untuk Kakak," ucap Raina sembari menyodorkan sebuah paper bag pada Rean. Lelaki itu mengambilnya dan tersenyum kala melihat isi kado dari Reana.
"Kau membawanya?" tanya Reana tak percaya Adiknya itu mau repot-repot membawa kado darinya untuk Rean.
"Tentu. Tapi maaf, Reana, kuenya sudah masuk ke dalam perutku dan Saga," ucap Raina dengan wajah menyesal. Reana hanya terkekeh pelan dan mengatakan kalau itu bukan masalah.
Raina melihat Rean yang melepas jam tangan mahalnya dan mengganti dengan jam tangan dengan harga lebih murah dari Reana. Lelaki itu tampak bahagia dan kembali mencium Reana dengan mesra. Terus mengucapkan terimakasih dan kata maaf untuk Reana.
Meski Raina tahu ini salah, tapi gadis itu coba menumpulkan otaknya agar menganggap semua itu menjadi benar. Toh mereka saling mencintai dan terlihat sangat bahagia. Itu saja sudah membuatnya senang.
Sebetulnya Raina tak berniat membawa kado dari Reana tersebut ke rumah sakit, hanya saja ia melihat Jane yang akan merusak kado milik Reana hingga mau tak mau gadis itu membawa serta ke rumah sakit.
Dan yang lebih membuat Raina kesal adalah sang Nenek yang lebih membela Jane dari pada Reana, cucunya sendiri.
Namun, Raina memilih diam tak memberi tahu semua itu pada dua saudaranya yang lain karena tak ingin merusak momen kebahagiaan mereka.
'Ayah, Ibu, maafkan kedua Kakakku yang telah melakukan kesalahan. Dan maafkan aku juga yang memilih menutup mata atas semua aib ini'
Raina berucap dalam hati sebelum meninggalkan mereka berdua yang tengah bercengkrama hingga sesekali Reana tertawa karena ulah Rean yang sengaja menggelitiknya.
_______________Tbc.
__ADS_1