
Azura membuka matanya setelah satu bulan terbaring koma, hal pertama yang ia lihat adalah keberadaan Rean dan Reana yang ada di sisinya.
Reana dan Rean tersenyum lega kala Dokter menyatakan kondisi Azura sudah mulai membaik. Wanita itu tak henti-hentinya menciumi wajah sang putri dan menangis haru serta mengucapkan syukur pada Tuhan.
"K-kakak?" tanya Azura terbata. Ia melihat ke sekeliling ruangan dan tak melihat Sean di sana, gadis kecil itu sudah akan menangis jika saja Rean tak menjelaskan di mana Sean sekarang.
"Tenanglah, Azura, Sean saat ini sedang ada di sekolah," ucap Rean menjelaskan. Namun, wajah si kecil Azura tampak panik secara tiba-tiba. Gadis kecil itu juga seperti ketakutan saat mendengar nama sekolah.
"Tidak akan ada yang menyakiti kalian lagi. Karena Paman akan selalu menjaga kalian. Kakakmu saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Dia bersama dengan Saga." tampak Azura yang tersenyum senang mendengar penjelasan dari Rean.
Lelaki 28 tahun itu memeluk putrinya hangat, ia juga membisikkan kata-kata penyemangat agar sang putri merasa tenang dan kembali ceria.
Tak berapa lama kemudian, Karina datang dengan sebuah boneka beruang berukuran sedang yang langsung ia berikan pada Azura.
Tampak juga Sean yang langsung naik ke tempat tidur dan melepas rindu pada sang Adik. Meski hanya ditanggapi dengan senyum dan tawa kecil dari Azura, tapi bocah lelaki itu tetap bersemangat menceritakan harinya di sekolah.
"Rean, Nenek ingin berbicara dengan kalian," ucap Karina serius. Ia mendahului keduanya untuk keluar dari ruangan itu, disusul oleh Rean dan Reana di belakangnya.
"Sean, jaga Adik kamu, ya?" ucap Reana yang diangguki oleh Sean.
"Yes, Mom," seru Sean senang.
Reana keluar dari ruang rawat Azura, dan melihat Rean dan Karina sudah duduk tenang di ruang tunggu pasien dengan Rean yang sesekali mengecek ponselnya.
"Ada apa, Nenek?" tanya Reana sedikit canggung. Pasalnya ia merasa bahwa Karina telah mengetahui semuanya saat ini. Ia merasa Karina sudah mengetahui asal-usul kedua Anaknya.
"Mau berapa lama lagi kalian menyembunyikannya?" tanya Karina dingin. Tatapan matanya lurus ke arah Rean yang kini menunduk diam di depannya.
Tangan keriput Karina menggenggam tangan Reana, ia merasa tangan cucu perempuannya itu sangat dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Rean dingin. Pandangan mata lelaki itu tertuju pada Reana yang duduk di samping Karina. Wajah Adiknya itu sudah pucat pasi, dan Rean tahu bahwa wanita tersebut tengah panik dan ketakutan.
"Tentang Azura dan Sean!"
"Ah," kaget Reana yang kini menatap Rean dengan pandangan cemas. Lain dengan Rean yang tetap terlihat tenang.
"Mereka adalah anak-anakku. Darah dagingku." Rean berkata santai seolah itu bukanlah masalah besar. Karina merasa terpukul dan meneteskan air mata. Ia menatap Rean dan Reana dengan pandangan marah, kecewa, sedih, dan berbagai rasa sakit yang membuatnya kesulitan berkata-kata.
"Maaf," lirih Reana yang mulai ikut menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia malu, sungguh sangat malu pada Karina.
"Aku memaksanya, tepat lima tahun yang lalu aku yang memaksanya untuk mengandung anakku. Tepat sesaat sebelum ia melakukan bunuh diri." Rean berkata sinis penuh kemenangan. Angannya melayang pada malam di mana ia memaksa Reana untuk bersetubuh dengannya.
Rasa sakit kala mengingat Reana yang saat itu tampak begitu hancur dan terpuruk, membuat Rean menyentuh dadanya sendiri. Ngilu dan sesak di sana kala tangisan Reana kembali terngiang di telinganya.
"Kejam kamu, Rean!" desis Karina yang merasa bersalah karena saat cucu perempuannya dilecehkan, justru ia buang Reana ke negeri orang.
Mengandung dan membesarkan anaknya sendiri tanpa dampingan dirinya sama sekali. Ia menoleh ke arah Reana, wanita itu menangis semakin dalam. Menyesali perbuatannya.
"Aku memang kejam, karena saat itu dia tidak bisa menerimaku apa adanya. Aku terpaksa melakukan kekerasan, karena dengan terang-terangan ia menolakku." Rean kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Reana.
Mengusap puncak kepala sang Adik dan membuat wanita itu mendongak menatapnya dengan mata sembab. Rean tersenyum pada Reana, berlutut di depan wanita itu dan menggenggam tangannya.
"Apa kau bersedia menikah denganku, Reana?" pertanyaan Rean sukses membuat Reana dan Karina terhenyak sesaat. Tapi akhirnya Karina mendengarkan dengan seksama ucapan Rean pada Reana tanpa berniat mengganggu keduanya.
"Tapi, kita--"
"Lupakan bahwa aku Kakakmu, hilangkan semua itu dari pikiranmu. Aku bukan lagi Kakakmu sejak adanya perasaan terlarang di antara kita. Jangan lagi memanggilku 'Kakak', dan ubah pandanganmu pada diriku."
"Aku ... hiks, bagaimana dengan Raina?" tanya Reana yang bingung bagaimana cara menjelaskan hubungan mereka pada Raina dan kedua anaknya kelak.
__ADS_1
"Tak akan jadi masalah, karena yang menjalani hubungan ini adalah kita. Aku ingin memilikimu seutuhnya, sebagai pasanganku, bukan Adikku. Dan soal kedua anak kita, biarlah mereka tidak mengetahui masa lalu kita berdua, biarlah mereka tidak mengetahui asal usul kita yang terlahir dari rahim wanita yang sama. Karena kita akan memulai masa depan dengan cerita yang baru." Rean mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, membukanya di depan Reana dan tampak sepasang cincin indah di sana.
Karina merasa hubungan keduanya tak mungkin lagi dipisahkan. Ia sudah mencoba memisahkan mereka, akan tetapi takdir Tuhan menyatukan keduanya kembali.
"Nenek?" tanya Reana yang tak ingin mengambil keputusan hanya karena ego-nya saja.
"Rean, aku titip cucu Perempuanku padamu. Jaga dia dengan baik seumur hidupmu, dan cintailah dia sebagaimana kau mencinta pasanganmu." Karina berkata lembut pada Rean yang kini tersenyum bahagia.
Untuk pertama kalinya, Rean memeluk Karina dengan penuh kasih sayang. Lelaki itu juga mengucapkan terimakasih dan mengecup pipi kanan Karina yang dibalas hal serupa oleh wanita tua itu.
Setelahnya, Karina memeluk Reana dan memberikan ucapan selamat pada cucu perempuannya itu. Ia tahu bahwa ini adalah awal darinya memasuki lubang neraka yang diciptakan cucunya sendiri.
Namun, ia tak ingin memikirkan hal itu, yang terpenting adalah kedua cucunya hidup bahagia meski hanya di dunia. Karena di akhirat, Tuhan sudah menyiapkan hukuman yang pantas bagi mereka yang berani melanggar takdir-Nya.
***
Lima bulan kemudian mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. Raina yang mengetahui kedua Kakaknya akan menikah, tampak tak ambil pusing dan memberikan restu hanya dalam waktu kurang dari satu menit.
Gadis 22 tahun itu sedang konsentrasi pada pekerjaannya sebagai psikolog dan tengah menjalin hubungan serius dengan Zefaro. Meski hubungan mereka diwarnai dengan kata putus hampir setiap minggunya karena perbedaan sifat dan pendapat.
Meski begitu, Raina dan Zefaro tetap menjalin hubungan yang romantis. Zefaro yang mengidap ptsd, lambat laun mulai membaik karena rutin menjalani terapi pada Dokter Jonathan.
Lelaki itu bisa hidup dengan normal meski terkadang masih mengalami mimpi buruk berulangkali tentang penyiksaan Ibunya. Akan tetapi, Raina terus berada di sampingnya dan memberikan semangat juga dukungan pada Zefaro, alhasil membuatnya terhindar dari aksi bunuh diri yang kerap kali ia lakukan.
***
Reana menatap kesal pada Rean yang kini sudah tersenyum mesum ke arahnya. Padahal kini mereka tengah menemani si kembar bermain Lego di ruang tengah. Benar-benar bukan contoh Ayah yang baik, pikir Reana.
"Jagan menatapku seperti itu, kau terlihat mengerikan!" Reana mendumel kesal yang justru dibalas Rean dengan tusukan kecil dari jarinya ke lengan atas wanita itu.
Kelakuan kekanakan yang sesekali Rean tunjukkan, tak pelak membuat Reana tertawa. Pasalnya, sang suami kini seperti memiliki kepribadian ganda sejak pertama kali mereka menikah.
Lelaki itu akan menjadi sangat manja, suka memeluk, bahkan akan mendumel kesal jika Reana lebih memilih menghabiskan waktu bersama si kembar daripada dirinya di hari libur. Bukan berarti ia tak menyayangi kedua anaknya, Rean hanya ingin diperhatikan oleh Reana saja.
Rean juga suka sekali mengganggu Reana yang tengah memakai masker, pasalnya wanita itu akan terus mengomel tak jelas jika masker yang ia kenakan rusak karena ulah suaminya.
"Sepertinya Saga sedang menganggur," ucap Rean memberikan kode pada Reana agar wanita itu menyuruh Saga mengasuh kedua anak mereka. Tapi, Reana justru terlihat acuh hingga membuat Rean memberengut kesal.
Lelaki itu memutuskan berbaring di lantai dengan menjadikan paha Reana sebagai bantalnya. Wanita itu tetap tak merespon dan memilih melanjutkan acara bermainnya dengan Azura dan Sean.
"Ssh," desah Reana kala tangan kanan Rean menyusup ke dalam bajunya, memilin ** wanita itu hingga membuat si empunya gelisah. Tampak semburat merah muda di kedua pipi Reana, wanita itu kemudian menatap kesal ke arah Rean yang pura-pura tertidur di pangkuannya.
"Keluarkan," ucap Reana sedikit berbisik. Rean yang salah mengartikan langsung membuka kedua matanya dan tersenyum senang ke arah Reana.
"Ayo," ajak Rean semangat dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk di depan Reana. Sedangkan Reana sudah mengomel dalam hati atas ketidak pekaan sang suami. Ke mana perginya sosok Rean yang dingin dan jenius dulu? Reana mulai bertanya-tanya dalam hati.
"Maksudnya, keluarkan tanganmu dari bajuku!" desis Reana yang disambut kekehan gemas dari Rean.
Lelaki itu kemudian menarik tengkuk Reana dengan cepat dan mencium bibirnya dengan brutal di depan kedua anaknya yang tak memperdulikan kedua orangtua mereka yang tengah ribut sendiri. Mereka juga tak mengerti mengapa Reana dan Rean selalu saja berisik ketika keduanya bersama-sama.
"Azura, mereka sangat berisik, ayo kita main di kamar saja." Sean mengajak adiknya meninggalkan kedua orangtuanya yang sibuk bergulat di karpet berbulu. Sesekali Reana memarahi Rean yang hanya dibalas tawa tak berdosa dari lelaki tersebut yang masih sibuk menggelitiknya.
"Akhirnya," lega Rean kala melihat kedua anaknya pergi ke kamar mereka. Sedangkan Reana yang menyadari adanya alarm bahaya dari Rean, segera berlari ke arah lantai dua meninggalkan Rean yang mengejarnya di belakang. Tawa mereka dan panggilan Rean menggema di setiap sudut rumah.
Jika dulu Rean mengejarnya dengan penuh amarah dan dendam, tapi berbeda dengan sekarang. Ia mengejar Reana bukan untuk disiksa atau disakiti baik secara fisik atau mental seperti dulu.
Semua telah berubah, Rean menjadi sosok ayah sekaligus suami yang baik bagi keluarganya. Sedangkan Karina memilih kembali ke Jepang untuk tinggal di kediaman sang suami bersama dengan Raina yang juga akan menikah dengan Zefaro.
***
__ADS_1
PERINGATAN!!!
21++
HARAP YANG DIBAWAH UMUR UNTUK STOP SAMPAI DI SINI:V
Rean berbisik lembut pada telinga Reana dengan kata-kata cinta yang ia susun selama 7 hari belakangan ini. Dia bukanlah tipe pria romantis dan puitis, akan tetapi setiap kata yang terucap dari bibir Rean adalah kesungguhan hati dari seorang suami.
Reana kembali mendesah di tengah cumbuan dan juga rayuan yang Rean berikan padanya, sesekali ia mencengkram erat sprei putih itu hingga meninggalkan jejak kusut di sana. Reana tak sanggup menerima kenikmatan bertubi-tubi yang Rean berikan pada tubuhnya.
Ia yakin sebentar lagi dirinya akan kembali mendapatkan pelepasan yang sudah entah yang ke berapa kalinya untuk malam ini.
"Rean, ahh," desah Reana memanggil nama sang kekasih kala ** ***** itu kembali mengalir. Rean tersenyum puas memandangi wajah merona Reana yang tampak sangat cantik di matanya. Wanita itu terengah, peluh menetes dari pori-pori kulitnya dan sesekali rengekan kecil keluar dari bibir merahnya.
Dinginnya musim salju malam itu tak lagi terasa kala kehangatan cinta mulai membakar seluruh tubuh mereka. Cinta memang membutakan, dan mereka telah membuktikannya.
Berawal dari hubungan persaudaraan yang diselimuti dendam masa lalu karena ketidakadilan orangtua mereka dalam membagi kasih, kini mereka justru memutuskan ikatan persaudaraan itu karena kehadiran rasa yang tabu.
Rasa cinta yang tumbuh di hati keduanya, hingga dengan berani mereka menentang takdir Tuhan.
Biarlah, toh mereka tak peduli dengan semua itu. Omongan orang, cacian, bahkan mereka tak takut akan diasingkan dari masyarakat karena janji mereka untuk saling menguatkan dan selalu bersama.
Rean akan bertahan selama ada Reana di sisinya, begitupun sebaliknya.
Rean terus mengecup leher Reana, memberikan tanda kepemilikan di sana dan juga membisikkan kata cinta merayu hingga membuat Reana terhanyut akan kelembutan seorang Rean.
Kedua mata Reana terbuka sayu, menatap tepat di manik kelabu Rean yang juga tengah diselimuti kabut gairah hingga membuat lelaki itu terengah.
Rean menggigit bibir bawahnya, menahan desah yang akan keluar kala jemari lentik Reana meraba dada bidangnya.
Wanita itu terkekeh geli melihat sang suami yang terlihat begitu tersiksa akan nafsu yang semakin menjadi seiring desahan yang Reana loloskan dari bibirnya.
"Lepaskan, Rean," bisik Reana di telinga Rean. Tak berapa lama kemudian, mereka sama-sama melenguh nikmat kala pelepasan panjang telah mereka terima.
"Terimakasih, Sayang. Aku mencintaimu." Rean melumat bibir Reana mesra dengan penuh kelembutan. Menghanyutkan, hingga Reana merasa sengatan hebat datang kembali menyerang tubuhnya.
"Aku ... menginginkanmu ... lagi," ucap Reana dengan wajah menunduk. Ia malu jika harus menatap langsung pada wajah Rean.
Rean tertawa kecil melihat kepolosan Reana, laki-laki itu kembali menjamah tubuh Istrinya dan kegiatan panas itu pun kembali berlangsung di malam panjang musim salju tersebut.
_____________TAMAT____________
POJOK DIALOG
Reana : Kak, si tata jahat ya jadi penulis. Aku dibikin sengsara terus dari part awal, eh giliran bahagianya aja cuma satu part doang!
Rean. : Masih mending. Sedangkan gue, dulunya dingin, cuek, jenius, kenapa sekarang jadi mesum amat?_-
Raina : hilih, kalian mah mending masih nongol di part terakhir. Lah aku sama sekali kagak ada ambil bagian.
Zefaro : bener, Rain, gue aja gak tau hilang ke mana. Gini-gini gue juga tokoh utama.
Aldric : nasip kalian gak segantung nasip gue! Ini malah nama gue kagak ada di sebut di cerita. Gue gimana nasipnya???? Masih jomblo sampai tua?
Jane : paling apes tuh ya gue, udah gagal dapetin Rean, mati, kagak dikuburin lagi. Ambil dong jasad gue di jurang:(
Arz : terus gue ini siapa? Peran gue di sini juga apa? Lu lupa kalau ada gue di sini yang belum jelas keterangannya_-
Tata : berisik dah lu pada! Mau gajinya tata potong?!
__ADS_1
Auto kicep:3