
Reana menghentikan langkahnya di pintu utama mansion, kakinya seakan lemas kala melihat Rean sudah berdiri di depannya dengan katana mengkilat di tangan kanan lelaki itu. Reana menatap bingung pada Kakaknya yang memancarkan amarah hingga membuat kedua mata Rean memerah.
"Ka-kak?" Reana terbata kala Rean dengan cepat menghampirinya.
SRET!
"Akh!" Reana memekik sakit kala katana milik Rean merobek kulit perutnya. Ia masih merasa beruntung karena luka itu tak dalam sehingga Reana tak perlu susah-susah mengumpulkan ususnya kalau-kalau perutnya robek. Pikir Reana.
Darah segar merembes dari luka sayat itu. Seakan tak puas melihat Adiknya terluka, Rean menampar Reana sekuat tenaga hingga gadis itu tersungkur di lantai.
"Akh!" Reana kembali memekik kala Rean menjambak rambutnya agar sang Adik mendongak menatapnya.
"Siapa lelaki itu?" Rean bertanya dengan nada dingin yang menusuk. Sekelebat bayangan Adiknya tengah berciuman dengan lelaki di sekolahnya membuat darah Rean mendidih. Ia tak suka Reana bahagia.
"JAWAB!" Reana terlonjak kaget kala mendapat bentakan dari Rean. Gadis itu masih bingung apa maksut dari pertanyaan Rean, ia tak ingat pernah dekat dengan lelaki lain selain Rean.
"Apa ini?" Rean melempar beberapa lembar foto tepat di depan Reana yang tenga bersimpuh sembari memegang luka sayatnya yang semakin nyeri.
"SIAPA DIA, BANGS*T?" teriak Rean dengan tangannya yang menarik lebih keras rambut Reana. Air mata gadis itu mengalir dengan deras, namun Rean semakin menggila.
Rean menyeret Reana tanpa belas kasihan sedikitpun. Dengan keras ia menghantamkan kepala Reana pada dinding ruang tengah, darah segar mengucur dari sana membasahi seragam sekolah Reana.
"Aku tidak mengenalnya, kami tidak sengaja bertabrakan di koridor--"
"BOHONG!" Rean semakin kesal karena ia menganggap Reana melindungi laki-laki itu.
JLEB!
"Ugh!" Reana kembali merasakan sakitnya benda tajam yang telah menusuk paha kirinya, Reana yakin lukanya cukup dalam sekaranh. Rean mencabut pisau lipat itu dan darah kembali keluar deras dari sana, gadis itu berharap ia kehilangan semua darahnya sekarang.
"A-ku ti-dak ber-bohong," ucap Reana terbata kala Rean mencekik lehernya dengan kuat. Ia merasa akan kehilangan oksigen sebentar lagi.
BRAK!
PRANG!
Vas bunga mahal yang berada di atas meja kayu ruang tengah tersebut jatuh dan pecah setelah Rean melempar tubuh Reana ke atas meja itu.
Kondisi yang sangat parah membuat Reana hampir kehilangan kesadarannya, punggungnya begitu sakit setelah menghantam dinding dan berakhir naas di atas meja kayu. Ia sudah tak mampu berdiri lagi, napasnya bahkan sudah tersengal dengan darah yang ia keluarkan ketika terbatuk.
"Sudah kuperingatkan padamu untuk menjauhi lelaki manapun, bukan? Kau hanya boleh kusentuh karena kau adalah milikku. Sekarang kau malah melanggar semua itu dan masih mau melindunginya? Cepat katakan siapa dia?" ucap Rean sambil mencengkram rahang Adiknya dengan kuat.
"A-ku ti-dak ta-hu," jawabnya terbata. Rean semakin kesal dengan Reana, ia tak ingin Adiknya bahagia. Lelaki itu akan merasa sakit jika Reana bahagia bersama lelaki di luar sana, dan Rean tak mau merasakan sakit yang kian mendalam kala Reana tetap melindungi identitas pemuda itu.
Cup~
Rean melumat kasar bibir Adiknya. Reana menangis keras dan dengan sisa tenaganya ia memukul dada Rean. Lelaki itu tak peduli, ia akan menyalurkan rasa sakitnya pada Reana agar Adiknya tahu betapa sakit dirinya kini. Ia ingin Reana tahu bahwa ia benci melihatnya bahagia.
"Astaga, Tuan!" pekik beberapa maid yang menyaksikan Rean mencium Reana yang tengah terbaring bersimbah darah di atas meja.
"Uhuk ... uhuk ... mph-" Reana berusaha menendang Kakaknya juga mendorong pria itu sekuat tenaga. Namun, ia kesulitan menendang tubuh Rean karena pria itu berdiri di antara kedua kakinya.
Reana sudah pasrah jika harus meregang nyawa detik itu juga, percuma ia melawan Kakaknya. Sedikit demi sedikit kesadarannya menipis, hingga tangannya terjatuh lemas di sisi tubuhnya. Rean yang menyadari Adiknya pingsan segera menghentikan aksinya dan menggendong Reana ke kamarnya.
__ADS_1
"Panggilkan Dokter Arthur!" Rean memerintahkan maidnya yang kini menatap takut padanya, Diana segera berlari untuk meraih telepon rumah dan menghubungi Dokter Arthur secepat mungkin.
***
Rean menatap dengan dingin wajah pucat Reana, beberapa perban menghiasi kulitnya. Beberapa saat lalu Dokter sudah datang dan mengobati Reana, hanya saja kesadarannya belum juga kembali.
Rean memijit keningnya kala mengingat foto yang memperlihatkan punggung seorang pemuda tengah mencium Reana di sekolah, ia bersumpah akan menghabisi orang itu di depan mata Reana.
Rean tidak rela jika Reana menjalin hubungan dengan pria lain, menikah dan hidup bahagia bersama pria itu kemudian meninggalkannya pergi begitu saja. Rean masih belum puas menyiksa Reana, maka dari itu ia akan mengurung Adiknya di mansion selamanya.
Rean mengangkat ponselnya yang berdering, sebuah nama orang yang ia perintahkan mencari kebaradaan lelaki itu tertera di layar ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Rean tak ingin berbasa-basi.
"Kami sudah berhasil menangkapnya dan sekarang lelaki itu ada bersama kami." penjelasan dari orang suruhan Rean, membuat senyum mengerikan di bibirnya terukir.
"Aku akan segera membereskannya," ucap Rean kemudian menutup ponselnya.
Reana yang sudah sadar hanya bisa diam tak peduli dengan nasip laki-laki yang entah siapa namanya itu. Ia kini sedang tak bisa memikirkan nasip orang lain ketika nasipnya sendiri berada di ujung tanduk.
Semua hidup dan matinya kini ada di tangan Rean, ia hanya berharap Kakaknya segera menarik pelatuk revolver miliknya agar penderitaan Reana selama ini segera berakhir.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Rean dingin. Kondisinya? tanya Reana dalam hati, mungkin Kakaknya itu harus diberi tahu bagaimana rasanya luka sayat dan juga luka tusuk itu seperti apa, agar besok ia tak perlu bertanya lagi.
"Aku ... cukup baik," jawab Reana berbohong. Ia terlalu takut untuk melawan dari Rean, dan ia juga yakin bahwa sekarang Kakaknya akan menyuruhnya untuk melihat acara eksekusi pria malang itu.
"Ikut denganku!" Rean segera menggendong Adiknya dan membawa gadis itu pergi menemui lelaki malang tersebut.
***
Ruangan luas tanpa jendela dan nampak kotor itu menjadi pemandangan yang Reana lihat selain seorang lelaki seusianya yang tengah menderita dengan luka di sekujur tubuhnya.
Reana hanya menatap si pria dengan tatapan datar, ia tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Rean pada pemuda itu nantinya. Toh ia juga tak bisa merubah keadaan jika Rean sudah mengatakan 'harus'.
"Reana, tolonglah aku ... aku tak bersalah!" pemuda itu memohon pada Reana yang didudukkan pada meja kayu oleh Rean. Lantai di bawah sana terlalu kotor sehingga Rean mendudukkan Adiknya di atas meja yang ia alasi dengan jaket dari seorang pengawalnya.
"Reana, apa kau tak merasa kasihan padaku? Kenapa kau hanya diam seperti patung?!" teriak pria itu kesal ketika Reana hanya diam saja melihatnya dipukuli oleh orang suruhan Rean.
"Lalu, aku harus apa?" tanya Reana acuh. Pemuda itu melotot tak percaya, ternyata orang yang terlihat lemah seperti Reana juga bisa berlaku sejahat itu pada seseorang.
"Bukankah kau adalah teman sekolahku? Apa kau tak merasa kasihan padaku?" pemuda itu makin depresi kala Reana hanya duduk diam di samping Rean yang tengah berdiri dengan memegang Barretanya.
"Tidak!" jawaban dari Reana sukses membuat lelaki itu membulatkan matanya tak percaya. Sejahat itukah Reana pada semua orang? Pantas saja selama ini tak ada yang berani mendekati gadis itu.
"Aku ... aku menyesal telah menerima perintah orang itu, Reana. Tolong maafkan aku dan suruh Kekasihmu untuk menghentikan siksaan ini." pemuda itu menangis pilu kala seseorang menusuk bahunya dengan pisau lipat. Reana hanya diam tak bergeming, gadis itu duduk dengan tangan yang ia lipat di depan dadanya.
"Aku tak peduli, karena itu konsekuensi yang harus kau terima jika melakukan suatu kebodohan. Terima saja nasipmu sekarang dan jangan banyak mengeluh padaku!" balas Reana menusuk. Rean menatap Adiknya tak percaya, ini semua di luar dugaannya. Lelaki itu berpikir mungkin yang dikatakan Reana kalau ia tak mengenal pemuda itu, benar adanya. Karena, jika Reana mengenal pemuda itu dengan baik pasti kini gadis itu sudah memohon agar Rean mengampuni pemuda tersebut.
__ADS_1
"Apa kau tak merasa kasihan padanya?" tanya Rean dingin. Ada sedikit rasa senang di hatinya kala melihat Reana sama sekali tak peduli dengan pemuda itu.
"Untuk apa aku kasihan pada orang yang tak ku kenal sama sekali?" Rean tersenyum tipis mendengar jawaban dari Reana. Ia kini percaya bahwa Adiknya tak memiliki hubungan apapun dengan pemuda itu.
"Lepaskan dia dan bawa pemuda itu ke rumah sakit. Aku yang akan mengurus semua pembayarannya, berikan perawatan yang terbaik untuknya," ucap Rean yang membuat si pemuda menatap tak percaya.
Ia melihat ke arah Reana yang kini hanya menarik samar ujung bibirnya, Reana tersenyum dan pemuda itu tersadar bahwa sikap acuhnya tadi adalah bentuk dari pertolongan Reana.
Pemuda itu tak akan melupakan kebaikan Reana sampai kapanpun. Gadis itu mengangguk sekilas kala melihat si pemuda menatapnya penuh haru, Reana seolah berkata 'kau bebas sekarang'. Ia tersadar bahwa dirinya telah salah menilai Reana selama ini.
"Ayo kita pergi!" Rean kembali menggendong Reana untuk dibawa kembali ke mansion.
***
Rean kini memangku Reana di balkon kamar pria itu, duduk di atas sofa tunggal dan menikmati keindahan malam yang terlihat sangat cerah. Reana bersandar pada dada bidang Kakaknya yang tengah duduk santai sembari memainkan rambut panjangnya.
Kepalanya terlalu sakit akibat benturan keras, juga ia yang harus di lilit perban di beberapa bagian tubuhnya. Nyeri akibat berbagai macam luka kini berbaur menjadi satu, ia hanya takut jika bekas-bekas luka tersebut tak akan hilang selamanya, maka sudah dipastikan kalau kulitnya akan terlihat jelek dengan bekas luka di sana sini.
"Aku sangat membencimu, Reana. Kenapa kau harus menjadi Adikku?" tanya Rean tajam. Adiknya mendongak dan menatap polos dirinya yang juga tengah menatap Reana.
Wajahnya, bibirnya, matanya dan bahkan warna rambut mereka benar-benar sama persis. Rean semakin kesal melihat Reana yang seperti duplikat dirinya, ditambah dengan sifat cuek dan pendiam Adiknya yang menurun dari Rean.
"Kalau begitu biarkan aku tinggal dengan Nenek," ucap Reana lirih. Ia ingin tinggal dengan Karina agar tak lagi merasakan siksaan seperti sekarang ini. Rean menggeram kesal, ia tak suka jika Adiknya bahagia di luar sana, ia hanya ingin Reana bersama dengannya dan disiksa selamanya.
"Kau!" geram Rean kemudian menarik kasar rambut Adiknya hingga gadis itu mendongak ke atas, dengan cepat Rean menempelkan bibirnya pada permukaan kulit leher Reana. Menghisap dan memberikan tanda kepemilikan di sana hingga membuat Reana meneteskan air matanya. Ia sangat lemah jika ada di depan Rean.
Rean tersenyum melihat beberapa warna ungu kemerahan menghiasi leher putih Reana, kemudian lelaki itu beralih pada bibir Reana untuk ia lumat dengan begitu lembut dan menjadi ciuman yang panjang malam ini.
Tanpa mereka sadari sepasang mata milik Lilian menangkap semua adegan yang Rean dan Reana lakukan. Ia semakin membenci Reana yang ia anggap akan merusak hubungan percintaannya dengan Rean.
Bahkan selama mereka pacaran lebih dari lima tahun, tak pernah sekalipun Rean menyentuhnya. Lelaki itu bersikap dingin dan begitu acuh selama ini. Jangankan mencium bibir seperti yang Rean lakukan pada Reana, sekedar mencium kening saja Rean tak mau melakukannya.
"Beraninya kau bermain denganku, Reana!" gumam Lilian kemudian pergi meninggalkan Rean yang tengah ******** bibir Reana dengan panasnya.
_______Tbc.
sekali lagi saya peringatkan ya Kakak-kakak, kalau ini kisah PERCINTAAN SEDARAH. jadi, bagi siapapun yang merasa geli atau jijik dengan cerita seperti, mohon jangan dilanjutkan.
karena saya tidak akan menanggung jika para pembaca sekalian merinding berjama'ah saat membaca cerita saya.
terimakasih:)
__ADS_1