
Reana mengigau memanggil Mommy-nya, gadis itu demam tinggi hingga terus saja Sienna mengompres dan bergantian jaga dengan Diana.
Sedangkan Rean, entahlah lelaki itu ke mana, bahkan hingga pukul dua dini hari Rean tak menampakkan batang hidungnya.
Kondisi Reana sudah cukup membaik, tak seperti beberapa saat lalu yang bahkan gadis itu tak bisa menelan air putih yang diminumkan dengan sendok secara perlahan.
Ia yang merasakan sakit di sekujur tubuh, hanya bisa tidur dengan posisi yang serba salah. Ia tak mungkin tidur tengkurap dengan luka menganga dibalik perban yang membelit perutnya. Ia juga tak mungkin terlentang menekan luka sayat yang berlajur-lajur di punggungnya.
Gadis itu hanya bisa tidur miring ke kiri karena paha kanannya juga telah dijahit karena berlubang oleh pisau Rean.
"Reana!" terdengar panggilan Raina dari luar kamar, sepertinya gadis itu tak tahu apa yang terjadi pada Kakaknya. Sienna segera mengambil botol The Winston Cocktail yang tergeletak di bawah sofa yang ia duduki, botol minuman milik Rean yang belum sempat ia buang sore tadi.
"Reana," panggilan Raina semakin dekat ke kamar Rean, sepertinya gadis itu bangun tengah malam dan tak mendapati Diana di sana sehingga ia memutuskan untuk keluar kamar mencari Reana.
Sienna keluar kamar sesaat sebelum Raina meraih gagang pintu kamar Rean, secepat dan senatural mungkin Sienna kembali menutup pintu kamar Rean seakan tak ada sesuatu di dalamnya.
"Sienna, sedang apa kau malam-malam buta keluar dari dalam kamar Kakak?" tanya Raina penuh selidik, gadis itu hendak meraih gagang pintu kamar akan tetapi segera di hentikan Sienna.
"Maaf, Nona, tadi saya mengambil botol minuman Tuan Rean yang kebetulan belum saya buang. Saya tidak ingin mendapat amarah Tuan Rean karena kedapatan lalai dalam pekerjaan saya," jawab Sienna sebiasa mungkin.
"Lalu di mana Kakak? Apa dia sudah tidur?" tanya Raina yang mendapat gelengan tidak tahu dari Sienna.
"Sejak sore tadi, Tuan Rean belum kembali ke rumah, Nona!" Sienna mulai berdoa dalam hati semoga Raina tak banyak tanya lagi dan segera pergi dari sana.
Belum sempat Raina menyarakan pertanyaan lagi, mereka sudah mendengar deru halus mobil Rean. Raina memekik senang kemudian berpikir akan tidur di kamar Rean bersama sang Kakak.
"Kenapa kalian berdiri di depan kamarku?"tanya Rean dingin ketika ia sampai di depan Adik bungsu dan juga pengasuh Reana.
"Kakak, bolehkah aku tidur bersamamu?" tanya Raina antusias, gadis itu dengan semangat dan sangat manja bergelayut di lengan Rean. Sang Kakak menghembuskan napas lelah.
"Kakak sedang lelah, ingin istirahat. Tidurlah bersama Diana," tolak Rean berusaha sesabar mungkin.
"Tapi dia meninggalkanku saat aku tidur. Reana juga pintu kamarnya tekunci!" Raina terlihat merajuk dan cemberut kesal. Ia ingin tidur juga bermanja dengan Rean.
"Sienna, temani Raina tidur di kamarnya, mulai malam ini," ucap Rean kemudian segera masuk ke kamar sebelum Raina sempat menyuarakan penolakannya.
***
__ADS_1
Rean tersenyum senang saat melihat Reana yang tidur meringkuk di bawah selimut tebalnya. Lelaki itu membersihkan tubuhnya sendiri sebelum menaiki ranjang dan memeluk Reana dari belakang.
Aroma Vanila yang begitu manis menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Rean, ia menyukai aroma itu. Rean dengan pelan menyibak rambut Reana hingga terlihat leher jenjang Adiknya yang tampak putih dan bersih.
Rean dengan sengaja menyibak selimut mereka, membuat Reana menggigil karena ac yang menyala terlalu dingin untuk Reana yang tidak tahan dengan suhu dingin.
Reana terbangun dari tidurnya saat tubuhnya menggigil, ia hendak mengambil selimut yang ada di bawah kakinya. Namun, Rean malah membuang selimut itu ke bawah.
"Apa kau kedingingan?" tanya Rean dengan pandangan mata fokus pada Reana yang ternyata sedang memakai kemejanya. Terlihat kebesaran dan justru membuat gadis kecil itu tampak semakin imut karenanya.
"I-iya, Kak," jawab Reana takut-takut. Terlihat Rean yang tersenyum licik dan terus menatap pada dada Reana yang tak sengaja terlihat karena memang kancing baju bagian atasnya terlepas.
Melihat Kakaknya yang semakin terlihat aneh, Reana memutuskan untuk tidur dengan memunggungi Rean. Gadis itu memilih memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil dari pada mengambil selimut yang sudah jatuh ke lantai. Luka di tubuhnya membuat pergerakannya menjadi sulit.
"Kau bisa memintaku untuk memelukmu," ucap Rean dengan napas berat. Lelaki itu memeluk Adiknya dari belakang, menyibak rambut Reana lagi ke atas hingga leher jenjang Reana tampak di depan mata Rean.
Reana menegang kala Rean mengecup leher bagian belakangnya, menjilat daerah itu hingga ke daun telinga Reana. Menyesap kulit leher sang Adik hingga tanda merah keunguan tampak kontras dengan kulit pucat gadis itu.
Reana merasa dadanya sesak, sakit, tubuhnya terasa panas, dan ketakutan membuatnya berkeringat dingin dan justru semakin menggigil kedinginan. Gadis itu terisak, ia merasa was-was dengan tingkah aneh Rean yang terus memainkan lidahnya di atas kulit leher dan sekitar telinganya.
Mommy, panggil Reana dalam hati. Ia lebih baik dipukuli dari pada harus di perlakukan demikian kurang ajar oleh Kakak kandungnya sendiri.
Dan Reana menyesali keterlambatannya menyadari hal itu, mungkin saja Rean salah mengartikan diamnya selama ini sebagai bentuk penerimaan atas perbuatannya yang menyimpang.
"Tidurlah ... aku akan memelukmu dan membuatmu merasa hangat sepanjang malam," ucap Rean berbisik dengan halus di telinga Reana. Gadis itu meremang, ia berusaha sekuat tenaga untuk merapatkan kelopak matanya dan secepatnya tertidur, ia terlalu takut pada Rean hingga keringat dingin muncul di pori-pori kulitnya.
***
Pagi harinya ketika Reana membuka mata ia tak menemukan Rean di sisinya. Entah ke mana Kakaknya pergi. Ia tak mau ambil pusing, perutnya sudah terasa lapar dan mulai nyeri minta diisi.
KRIEEETTT....
Pintu kamar terbuka ketika Reana berusaha bangkit dari tidurnya, ototnya terasa kaku dan hal itu semakin menghambat pergerakan Reana.
Rean nampak berjalan ke arah ranjang Reana setelah menutup pintu, lelaki itu membawa nampan berisikan susu, roti lapis, serta buah yang sudah di potong. Setangkai bunga mawar juga nampak tergeletak di sisi kiri nampan. Rean tersenyum ketika Reana menatap dirinya bingung.
"Sarapan, aku akan menyuapimu," ucap Rean lembut. Ia membantu Reana untuk duduk bersandar pada kepala ranjang, membuat gadis itu merasa nyaman dengan posisinya sekarang.
__ADS_1
"Ini untukmu." Rean memberikan setangkai mawar merah yang terlihat sangat segar, Reana tersenyum dan menghirup dalam aroma bunga itu. Harum, Reana menyukainya.
Cup~
Rean memgecup bibir Reana singkat, gadis itu diam mematung, masih bingung dengan bagaimana ia harus bersikap. Rean tersenyum dan mulai menyuapkan sandwich yang sudah di potong-potongnya pada Reana.
Gadis itu bersyukur Rean tak menyuruhnya memakan bubur seperti kebiasaan Diana, ia tak akan suka dengan makanan lembek seperti itu.
Selesai makan, Rean membersihkan tubuh Reana. Dengan telaten lelaki itu menyeka tubuh Adiknya dan ikut meringis ngilu kala Reana mendesis sakit pada luka yang tak sengaja terkena sapuan tangan Rean.
Lelaki itu menatap nanar pada tubuh Adiknya yang dirasa kian kurus. Rean sendiri bingung dengan dirinya yang memiliki emosi mudah sekali meledak meski hanya hal kecil.
Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Rean akan merasa menyesal dan ikut merasa sakit ketika melihat luka pada tubuh Adiknya. Namun, ia juga belum puas meluapkan amarahnya sebelum menghajar Reana habis-habisan.
Rean mengambil selembar baju kemeja miliknya dari dalam lemari. Memakaikan kembali kemeja miliknya pada sang Adik yang perbannya juga sudah ia ganti. Rean tak mengerti bagaimana cara mebgikat rambut panjang Reana seperti yang sering Sienna lakukan, maka ia hanya menyisir dan merapikannya sebisa mungkin.
"Terus menurutlah padaku, maka aku akan menyayangimu lebih dari siapa pun di dunia ini." Rean berkata dengan menatap lekat pada manik mata kelabu Reana.
Gadis itu hanya diam menunduk, ia bingung harus menjawab apa. Jika ia menolak, tentu saja Rean akan menyiksanya tanpa ampun lagi. Apabila ia menurut, ia takut jika Rean akan semakin berbuat nekat pada dirinya.
Semua pilihan tak ada yang menguntungkan untuk Reana.
Gadis itu membulatkan matanya kala Rean sudah melumat habis bibirnya, ia ingin berteriak tapi lumatan Rean yang menggebu membuatnya kesulitan untuk menjerit.
Alhasil ia hanya bisa pasrah dengan menangis tiada henti yang kian menyayat hati, kedua tangannya sudah diikat ke belakang menggunakan dasi Rean. Lelaki penuntut itu memang tak melakukan lebih selain menciumi bibir hingga leher jenjangnya.
Namun, meski hanya seperti itu sudah membuat sensasi berlebihan pada tubuh Reana. ia meremang, ketakutan, dan juga gelenyar aneh yang seakan menikmati perlakuan Rean padanya.
Rean menatap bibir Reana yang sudah membengkak, serta leher sang Adik yang sudah di penuhi tanda merah keunguan hasil karyanya. Lelaki itu menghapus air mata Reana, ia tersenyum lembut sebelum mengecup kening Adiknya.
"Menurutlah padaku, maka aku akan berusaha membahagiakanmu, Sayang." Rean menatap penuh minta pada Reana yang menunduk takut di depannya, ia senang akhirnya si pembangkang Reana bisa tunduk padanya.
Rean melepas ikatan pada pergelangan tangan Reana, mengecup lembut jejak ikatan yang memerah membekas di sana. Reana meremang takut, ia hanya bisa diam dan berusaha agar terlihat normal supaya Rean tan menghajarnya, lagi.
___________Tbc.
saya peringatkan sekali lagi ya, ini adalah cerita percintaan sedarah(incest) jadi bagi yang tidak menyukai cerita seperti ini tolong jangan di baca. dan buat yang berharap mereka mendapatkan pasangan lain, tolong jangan terlalu berharap karena kemungkinan besar saya tidak akan memasangkan mereka dengan orang lain.
__ADS_1
terimakasih:)