
Raina melihat foto Zefaro dengan Reana yang tengah duduk berdua di rooftop sekolah, terlihat mereka begitu dekat, dengan Reana yang tengah meniup api pemantik yang digunakan untuk menyulut sebatang rokok milik Zefaro.
Terlihat begitu dekat hingga Raina merasa meradang karenanya. Gadis itu tak terima jika lelaki yang ia cintai dekat dengan wanita lain, apalagi itu adalah Reana. Raina menganggap Reana sebagai orang yang begitu serakah sampai-sampai semua yang dimiliki Raina, diambil dengan mudahnya oleh Reana.
Sebuah ide jahat terbersit di benak gadis itu, ia tahu bahwa selama ini Rean begitu membenci Reana, dan jika Rean mengetahui Adik yang begitu ia benci berbahagia seperti itu, sudah pasti Rean akan murka karenanya.
Senyum licik nan cantik terukir indah di bibir merah mudanya, ia tahu bagaimana caranya menyadarkan Reana dari ketamakannya.
Raina segera mencari kontak Rean, menyiapkan sebuah foto untuk di kirim ke ponsel Kakaknya itu.
Send ...
Raina tersenyum dan berdoa pada Tuhan, semoga setelah Rean mengetahui semua ini lelaki itu akan mengirim Reana ke rumah Neneknya, sehingga ia akan mendapatkan cinta Zefaro dan perhatian Rean hanya untuknya.
"Maafkan aku, Reana ... tapi, aku harus menyadarkanmu dari keserakahanmu."
***
Rean tengah meeting dengan klien dari Jepang ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya, sebuah chat dari Raina yang menunjukkan sebuah foto Reana dan seorang lelaki. Begitu mesra hingga membuat darah Rean mendidih.
Seketika ia menghentikan meeting dan tak peduli dengan anggapan kliennya tentang dirinya, meski kemudian nantinya mereka akan membatalkan kontrak kerjasama pun Rean tak memperdulikannya.
Ia mengobrak-abrik isi dalam kantornya, berteriak memaki hingga tak ada yang berani masuk ke sana. Rean sangat murka sekarang, hanya saja ia berusaha sekuat tenaga untuk tak melampiaskan kemarahan itu ke Reana.
Rean sudah berjanji bahwa ia akan berubah dan tak akan menyakiti Reana lagi. Haruskah kini janjinya tempo hari tersebut dilanggar? Ia hanya ingin Reana patuh padanya.
"Jangan menyakiti teman-temanku juga, Kak," ucapan Reana tempo hari kembali terngiang di telinganya. Tepatnya saat ia berjanji tak akan menyakiti Reana lagi.
"Jika mereka berulah, maka aku akan menghabisi mereka tanpa sisa!" jawab Rean kala itu.
"Kau menyakiti mereka sama dengan menyakitiku."
"Apa mereka lebih berharga dari pada aku?"
"Kau lebih segalanya."
Rean mengingat semua percakapan mereka tempo hari, kini ia merasa terlihat lemah di depan Reana, maka dari itu sang Adik mulai berani bermain api dengan dirinya.
"SIAL!" teriak Rean emosi. Ia melempar apapun yang ada di depannya, bahkan ia tak sadar tangannya terluka dan mengucurkan darah kala Rean memukul lemari kaca hingga pecah tadi.
Semua rasa sakit ia abaikan, hatinya terasa jauh lebih sakit. Entahlah apa yang terjadi padanya hingga merasa sesakit itu kala melihat Reana bersama pria lain.
__ADS_1
Rean segera melangkah pergi meninggalkan kantornya setelah emosi lelaki tersebut mereda. Sebisa mungkin ia tak boleh menyakiti Reana, ia harus bisa menahannya.
***
Raina kembali ke mansion dengan harapan Reana sudah dikirim Kakaknya ke rumah Nenek mereka atau ke luar negri. Namun, harapannya pupus ketika ia melihat Reana tengah duduk santai di depan televisi.
Raina langsung menuju ke atas, tepatnya ke kamar Rean. Namun, kamar lelaki kosong tak ada Rean di sana.
"Raina," suara bass Rean mengangetkan Raina, segera ia menoleh ke belakang dan mendapati Rean sudah memakai pakaian santai, lengkap dengan sebuah buku tebal di tangannya.
"Ka-Kak?" Raina tergagap kala melihat Rean mentapnya begitu tajam.
"Lain kali jangan mengirim foto seperti itu padaku, dan aku harap kau hidup rukun dengan saudaramu yang lain," ucap Rean datar. Kemudian lelaki itu melenggang pergi dari hadapan Raina, ia masuk ke kamarnya dan mengacuhkan keberadaan Raina begitu saja.
"Kenapa Kakak tidak marah melihat Reana tertawa dengan Zefaro?" gumam Raina semakin kesal dengan Reana.
"Jadi, itu semua ulahmu?" kembali Raina dikejutkan oleh suara seorang gadis, Reana sudah berdiri bersandar pembatas lantai dua yang hanya setinggi perut atasnya.
Wajah Raina pias kala melihat tatapan datar Reana, seperti terluka, tapi juga kecewa. Raina membuang muka, ia enggan melihat mata Reana yang seakan menatap penuh kasih sayang padanya.
"Itu bukan urusanmu!" sungut Raina. Ia pergi dari sana meninggalkan Reana yang menatap punggungnya kian menjauh. Gadis itu merasa sedih dan kecewa atas sikap Raina yang tega mengirim foto dirinya dan Zefaro di rooftop sekolah.
Rean kemudian menunjukkan foto Reana dan Zefaro dari galeri ponsel lelaki itu, beruntung Reana sigap memberikan alasan yang masuk akal untuk mengelabuhi Rean.
Reana mengatakan kalau dirinya tak membawa bekal makanan akibat insiden pencekikan Rean pada Sienna pagi tadi, maka Zefaro memberikan makan siang saat Reana lapar dan sebagai gantinya gadis itu menyelamatkan Zefaro dari bahayanya merokok.
Rean percaya dan ia justru merasa bersalah, karena ulah dirinyalah Reana tidak dapat membawa bekal makanan yang sudah disiapkan Sienna untuk gadis itu.
***
Reana menatap bingung pada lelaki seusia Saga yang kini berdiri di depannya, lelaki itu tak lain adalah Aldric William yang 'katanya' adalah rekan kerja sang Kakak.
Sekarang ia berdiri di samping mobil Rean, lelaki itu tengah membeli minuman kaleng bersoda untuk Reana yang mengeluh haus kala mereka berada di perjalanan menuju sekolah.
"Kita bertemu lagi, Reana." Aldric tersenyum mengerikan bagi Reana, gadis itu bahkan sampai merinding dan beringsut mundur menempel pada pintu mobil yang tertutup.
"Kakakku sedang ada di dalam, Paman." Reana menunjuk pada Rean yang menghilang di balik toko mini market.
"Aku ke sini ingin bertemu denganmu, sudah lama aku ingin mengobrol denganmu, Gadisku." Aldric menyentuh wajah Reana, mengelus pipi gadis itu dan membuat si pemilik bergidik takut.
Alarm bahaya berdering di kepalanya, ia ingat kata-kata Saga bahwa jika ada lelaki asing yang berani menyentuh dirinya, maka orang itu wajib diberikan tendangan pada alat vitalnya dan kabur sejauh mungkin dari orang tersebut.
__ADS_1
Reana segera menendang alat vital Aldric sekuat yang ia bisa, kemudian gadis itu lari dari sana menuju pada Rean yang kebetulan sudah keluar dari pintu mini market tersebut.
Rean menatap bingung pada Reana yang berdiri di balik punggungnya, gadis itu menunjuk ke arah mobilnya dan Rean menemukan Aldric tengah membungkuk kesakitan sembari merapalkan berbagai macam umpatan.
Rean nyaris terbahak akibat ulah Reana yang dirasa berlebihan, tapi sangat efektif untuk menjaganya dari kejahatan.
"Paman itu tiba-tiba menyentuh pipiku," ucap Reana pelan, gadis itu menyentuh pipinya seolah memberi tahu Rean bahwa di tempat itulah tangan Aldric mendarat.
Rean mengusap pipi Reana dengan lembut seolah menghapus jejak tangan dari Aldric. Kemudian Rean mengajak Reana menuju mobilnya, di mana Aldric sudah berdiri di sana mentap Rean dengan kesal penuh dendam.
"Minggir!" Rean sengaja menabrakkan bahunya pada Aldric hingga lelaki yang lebih tua darinya itu mundur ke belakang. Segera, Rean membukakan pintu untuk Reana dan menyuruh Adiknya masuk ke dalam.
"Jangan mengganggunya ... atau aku akan menghabisimu jika kau tak mendengar peringatanku!" Rean berkata dingin penuh ancaman pada Aldric, membuat lelaki yang menjadi lawan bicaranya itu sedikit tersentak kaget.
Rean pergi meninggalkan Aldric yang masih diam di tempat sembari menatap kepergian mobilnya. Terlihat Reana yang duduk di samping Rean hanya diam sembari meminum minuman soda yang di belikan oleh pria itu tadi.
***
Rean menatap jengah seorang gadis cantik yang seumuran dengan Adiknya, penampilannya mirip dengan Reana, hanya saja gadis itu terlihat lebih genit dibanding Reana yang dingin dan kaku.
Sedangkan Reana, entah kenapa ia merasa begitu cemas dan merasa takut jika nantinya Karina akan menjodohkan Rean dengan Jane. Begitulah yang ia tangkap dari ajakan makan malam mewah keluarga Ackerley.
Jane tersenyum senang ketika tahu bahwa lelaki yang akan dijodohkan olehnya adalah Rean, Kakak dari Reana. Meski Rean terlihat dingin, tapi lelaki itu sangat tampan hingga semua wanita yang bertemu dengannya sudah pasti akan langsung memujanya.
"Rean, Jane ini adalah putri tunggal dari Tuan Anson Ackerley, juga pewaris tunggal dari Ackerley Corp. Nenek harap kau bisa lebih dekat dengannya," ucap Karina lembut, pandangan matanya tertuju pada Rean yang terlihat seolah ingin merobek mulut Neneknya sendiri.
Reana semakin menundukkan wajahnya, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit mendengar penuturan sang Nenek. Ia merasa ingin menangis tanpa sebab, bukankah seharusnya ia merasa bahagia atas perjodohan Kakaknya ini? Tapi, kenapa hatinya seolah menentang keras.
Rean meski terlihat jengah dengan pertemuan antar keluarga tersebut, tetapi ia masih memperhatikan gerak gerik Reana. Dan lelaki itu menangkap ketidak nyamanan yang sama seperti yang ia rasakan. Berbeda dengan Raina yang terlihat begitu antusias.
"Jane ini adalah gadis yang pintar, ia selalu mendapat peringkat teratas di sekolahnya, dan Jane juga seorang gadis yang mandiri. Ia cocok denganmu yang pekerja keras dan--"
"Ayo pergi!" Rean tiba-tiba menarik pergelangan tangan Reana untuk ikut pergi dengannya tanpa memperdulikan ucapan neneknya yang terus memuji Jane agar ia tertarik padanya.
Reana hanya mengikuti ke mana Rean akan membawanya pergi. Jane menatap punggung kedua orang yang pergi begitu saja, dengan perasaan kecewa.
Ia sangat menginginkan Rean untuk mendampingi dirinya seumur hidup, hanya saja lelaki itu seolah tak tertarik sama sekaki pada Jane.
Karina mencoba memberi pengertian pada Jane dan kedua Orangtuanya yang nampak sangat kecewa pada Rean. Beruntungnya mereka mau menerima alasan-alasan kecil dari Karina.
_______________Tbc.
__ADS_1