Sadistic Brother

Sadistic Brother
31


__ADS_3

Rean tersenyum penuh kelicikan kala menemukan alamat tempat tinggal Reana dan juga dua anaknya. Menurut informasi dari para tetangga Reana, wanita itu kehilangan suaminya kala mengandung si kembar.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Saga yang mulai cemas pada keadaan Reana.


"Memaksanya untuk menjadi milikku." Rean membayangkan bagaimana dulu ia memaksa Reana untuk melayani nafsunya yang berujung pada wanita itu yang nekat bunuh diri.


"Kau akan melakukannya lagi? Apa kau belum puas menyakitinya?" tanya Saga sedikit geram pada sifat egois Rean yang belum juga sembuh.


"Kali ini keadaannya akan berbeda." Rean menggeram kesal kala sisi lelakinya muncul hanya karena membayangkan sosok Reana saja. Ia menyuruh Saga keluar dari ruangannya, sedangkan ia memilih mengistirahatkan dirinya dengan sebotol vodka.


***


Reana dengan cekatan melayani beberapa pengunjung kedai mi ramen tempat ia bekerja. Beberapa dari mereka telah mengenal wanita itu dengan baik, apalagi Reana memang memiliki wajah Asia yang dominan dari pada dua saudaranya yang lain.


Reana mewarisi wajah Asia dari mendiang sang Kakek, suami dari Karina. Berbeda dengan dua saudaranya yang lain, yang tampak seperti kebanyakan warga London lainnya.


Reana juga sangat mahir dalam berbahasa Jepang, ia sesekali juga membantu wisatawan asing yang kesulitan dalam memesan makanan dan membantu mereka berinteraksi dengan pemilik kedai tersebut.


Hingga pukul 2 siang wanita itu memutuskan untuk kembali ke rumah dan menjemput kedua anaknya di sekolah. Hari ini jam kerjanya hanya sampai pukul 2 siang saja karena sudah ada seorang pegawai lagi yang akan membantu pekerjaan Reana, sehingga wanita itu tak perlu menghabiskan harinya di kedai mie tersebut.


"Sebaiknya aku berbelanja dulu saja." Reana masuk ke dalam sebuah mini market. Membeli beberapa kebutuhan rumah tangga selama satu Minggu ke depan akan sedikit membuatnya hemat akan pengeluaran.


Kini ia harus berusaha mandiri demi kedua anaknya agar memiliki kehidupan jauh lebih baik di masa depan.


Selesai dengan tugasnya berbelanja, Reana kembali melangkahkan kakinya ke arah motor maticnya yang terparkir di pelataran mini market itu. Ia harus secepatnya sampai di sekolah sebelum pukul 3, karena sekolah akan dibubarkan pada jam tersebut.


Tanpa sepengetahuan Reana, seseorang telah mengamati gerak geriknya dari kejauhan. Ia mengamati bagaimana wanitanya hidup dengan baik seorang diri. Ia tampak begitu mandiri serta bersikap lebih dewasa daripada terakhir kali ia melihat.


Meski wajah dan tubuhnya tetap terlihat seperti remaja usia 17 tahun. Namun, sifat dan sikapnya yang jauh berbeda.


"Kau hidup dengan baik, Reana." Rean tersenyum di balik kaca mobil mewahnya. Penampilan kontras mereka benar-benar kentara.


Rean dengan setelan kantor yang berharga mahal serta mobil mewah berharga milyaran, sedangkan Reana hanya dengan baju sederhana dilapisi kardigan berwarna krem, juga sebuah motor matic yang harganya tak seberapa.


Sungguh perbedaan yang sangat mencolok, bukan?


Rean tersenyum melihat wanita itu tumbuh begitu cantik. Rambutnya yang berwarna coklat telah tumbuh panjang dan diikat ekor kuda, juga poni tipis yang membuat ibu dua anak itu tampak seperti seorang remaja SMA pada umumnya.


Ia yang dulu begitu tertutup dan acuh pada sekitar telah berubah, kini Reana terlihat beberapa kali menyapa orang yang berpapasan dengannya atau membantu orang lain tanpa diminta terlebih dahulu.


Sungguh perubahan yang patut Rean banggakan dari sosok Reana saat ini.


Lelaki itu melajukan mobilnya perlahan beberapa meter di belakang motor Reana, hingga wanita itu berhenti di sebuah sekolah dan langsung disambut oleh sepasang anak kembar yang menjadi malaikat kecilnya.


Reana tampak mengecup pipi Sean, dan mencium kening Azura sebelum mengajak mereka untuk kembali ke rumah.


***


Rean menatap kagum rumah minimalis dengan taman bunga yang tampak begitu rapi dan indah yang kini ada di depannya. Sebuah pohon sakura tampak di samping kanan kediaman tersebut, terlihat begitu indah dan tenang. Rean merasa rumah itu jauh lebih indah daripada mansionnya yang mewah.


Apalagi di dalam rumah minimalis itu terdapat orang-orang yang Rean cintai. Kedua anaknya, juga Reana yang selama ini sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Paman?" suara anak perempuan yang berasal dari arah belakang Rean membuyarkan lamunannya. Lelaki itu berbalik arah dan menemukan Azura tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.


Sebuah boneka beruang berwarna putih berada di pelukannya. Ingin rasanya Rean memeluk sosok kecil itu, ingin rasanya Rean mengatakan pada gadis itu bahwa ia adalah Ayah dari mereka.


Namun, hal itu belum sempat ia lakukan karena Sean yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang Azura.


"Apa paman mencari ibu kami?" tanya Sean dengan pandangan bingung. Rean berjalan pelan ke arah keduanya, tatapan sendu ia layangkan untuk dua anaknya.


Tatapan penuh sayang ia berikan pada mereka yang kini hanya diam mematung di tempat. Rean berjongkok guna mensejajarkan tinggi mereka. Kedua anak itu saling berpandangan karena bingung.


"Nama kalian siapa?" tanya Rean lembut. Kedua anak itu tersenyum ramah dan memperkenalkan diri mereka.


"Nama aku Sean. Dia adik kembarku, Azura." Sean tersenyum memperkenalkan dirinya pada Rean, sedangkan Azura memilih sembunyi di balik punggung Kakaknya.


"Nama paman, Rean. Paman teman dari ibu kalian. Apa ibu kalian ada di dalam?" tanya Rean lembut. Diusapnya puncak kepala Sean, bocah lelaki itu mengangguk dengan senyum cerianya.


"Ibuku sedang memasak. Paman masuk saja ke dalam, kami harus pergi membeli bubuk kayu manis." Sean kemudian menggandeng tangan Azura untuk pergi dari sana, ibu mereka menyuruh kedua anak itu untuk pergi membeli bubuk kayu manis di mini market terdekat.


***


Rean memasuki rumah sederhana itu, tampak semua barang-barang yang ada di sana memiliki kualitas murah. Perbedaan yang sangat jelas jika dibanding dengan mansionnya.


Namun entah kenapa, Rean merasa lebih betah tinggal di rumah sederhana itu daripada di istananya yang megah. Lelaki itu melangkahkan kakinya ke arah dapur. Tampak sosok cantik berdress merah maroon tengah menyiapkan makan malam.


Rean rasanya ingin sekali memeluknya dari belakang, mengatakan bahwa ia merindukan Reana sebanyak yang lelaki itu mau. Namun, kenyataannya berbeda, Rean hanya berdiri diam mematung mengamati pergerakan Reana yang begitu terampil mengolah makanan Jepang.


"Paman?" suara dari Sean mengagetkan Rean dan juga Reana. Wanita itu refleks mundur dengan wajah pucat Pasih kala melihat sosok Rean ada di depannya.


"Kau, sedang apa di sini?!" tanya Reana ketus berusaha menstabilkan detak jantung dan nafasnya yang memburu karena takut.


"Pergi!" usir Reana ketus pada Rean yang menatapnya bingung.


"Apa?"


"Apa kurang jelas? Kubilang, pergi?" usir Reana lagi dengan jari telunjuk mengarah ke pintu keluar.


"Aku hanya ingin bertemu mereka, aku merindukan mereka." Rean berkata lirih penuh permohonan. Ia membuang semua image sombong yang melekat pada dirinya selama ini.


Saat ini ia benar- benar merendah pada Reana.


"Tidak! Mereka bukan anak-anakmu. Jadi, kau bisa pergi dari sini atau aku akan telepon polisi!"


"Apa salahku? Kenapa kau begitu membenciku? Selama ini aku mencarimu ke mana-mana." Rean berkata lembut pada Reana dan menggenggam tangan wanita itu.


Namun, dengan kasar Reana menghempaskannya dan mendorong bahu Rean untuk menjauh darinya sampai-sampai lelaki itu terhuyung ke belakang.


"Pergi dari sini, dan jangan menggangguku lagi! Aku akan segera menikah. Jadi, kuharap kau bisa menganggapku sebagaiman seorang kakak menganggap Adiknya."


"Tidak, kau pasti bohong. Kau tidak mungkin Setega itu meninggalkanku, Reana. Aku selama ini setia menunggumu kembali." Rean merasa dadanya begitu sesak kala Reana mengatakan hal menyakitkan itu padanya.


Ia tak menyangka kesetiaannya selama ini dibalas oleh penghianatan.

__ADS_1


"Aku serius! Aku tidak menginginkanmu lagi," ucap Reana penuh penekanan. Rean refleks menitikan setetes air mata. Ia begitu lemah sekarang, rasa rindunya yang menggebu pada Reana, dibalas sebegitu menyakitkan oleh wanita itu.


"Pergi!"


"Tidak!" kesabaran Rean telah habis. Ia menghapus air matanya dengan kasar sebelum mengejar Reana yang hendak kembali ke dapur.


SRET!


"Akh!" Reana memekik kala Rean dengan cepat menariknya ke sofa ruang tamu. Ketakutan mulai menjalar ke seluruh tubuh Reana kala lelaki itu mulai mencium dan menyentuh tubuhnya.


"Hiks ...," isak Reana kala Rean melumat bibirnya penuh nafsu, wanita itu berusaha melepaskan diri meski harus merelakan dress-nya robek karena tarikan tangan Rean.


"Lepas!" pekik Reana berusaha memukuli Rean yang hendak menindihnya di sofa. Wanita itu sudah menangis dan hendak berteriak, akan tetapi telapak tangan Rean membungkam mulutnya.


Keberaniannya yang tadi begitu besar, kini hilang entah ke mana.


"Ngh," lenguh Reana kala ia merasa sebuah benda memasuki tubuhnya. Wanita itu mengumpat dalam hati kala lagi-lagi Rean melecehkannya, bahkan di hari kedua pertemuan mereka setelah lima tahun berpisah.


Wanita itu hanya menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ia tidak sanggup melihat wajah Rean yang tampak seperti iblis baginya. Ia tidak menyangka kalau Rean akan sampai hati melakukan hal bejat itu Sekali lagi.


Sedangkan Rean semakin menggila, ia tak peduli meski Reana menolak atau menikmati permainannya. Sudah lama sekali ia merindukan Reana, sudah begitu lama ia mendamba tubuh Adik perempuannya itu.


Rean yakin kali ini wanita tersebut tak akan nekat bunuh diri lantaran telah memiliki dua anak yang tak akan mungkin ia tinggalkan begitu saja. Tentu Reana akan memikirkan seribu kali rencana bodoh itu.


"Sudah puas?! Apa kau puas sekarang, huh?!" maki Reana kala Rean menyelesaikan aktifitasnya. Lelaki itu menatap sendu Reana, melihat betapa berantakan dan lemahnya Reana membuat hati Rean merasa begitu miris.


Reana memungut helai demi helai dress yang telah dirobek Kakaknya, berjalan tertatih ke kamarnya dan menangis hingga puas di dalam ruangan temaram tersebut.


Sedangkan Rean hanya terduduk diam di sofa ruang tamu dengan kepala menunduk, ia menjambak rambutnya frustasi. Lagi-lagi Rean menyakiti Reana karena kalah akan nafsu dan emosinya pada wanita itu.


"Sampai kapan aku seperti ini?" sesal Rean pada dirinya sendiri.


"Paman?" Sean tampak berjalan mendekati Rean. Sepertinya bocah lelaki itu mencari keberadaan Ibunya.


"Ibu di mana?" Rean menghampiri putranya. Mengelus puncak kepala Sean sebelum menjawab pertanyaan anak itu.


"Apa kau mau makan malam? Paman akan menyiapkannya untuk kalian." Sean mengangguk dan memanggil Adiknya untuk makan malam bersama dengan Rean.


"Maafkan aku, Reana. Aku memang bukan lelaki yang baik."


_________Tbc.




**itu foto dari Rean sama Reana, bagi yang kurang sreg sama fotonya bisa bayangin yang lainnya hehehe


anggap aja gambar yang tata kasih itu cuma numpang lewat doang:v


mungkin Reana terlalu kecil kali ya:v

__ADS_1


tapi tata sukanya yang itu😅


tadinya mau up sore, cuma karena mati lampu seharian jadi gak ada jaringan**:(


__ADS_2