
Reana sudah kembali ke mansion tiga hari yang lalu, kondisinya sudah cukup membaik meskipun ia masih merasa nyeri pada beberapa bagian tubuhnya yang cidera.
Rean kini sudah sedikit berubah, ia tak lagi dingin dan pemarah seperti dulu. Bahkan lelaki itu juga beberapa kali sempat tertawa karena cerita Reana perihal teman-teman sekolah gadis tersebut.
Dan kini, Vanesha, Jane, Zefaro, juga Lucas tengah duduk tenang di karpet berbulu di depan televisi yang menampilkan film Animasi kesukaan mereka.
Reana duduk bersandar pada pundak Vanesha, sesekali tertawa ketika melihat kekonyolan tokoh Animasi dalam televisi. Bahkan mereka tak sadar jika Rean sudah berdiri memperhatikan mereka sejak beberapa menit yang lalu.
"Eh." Reana memekik kaget kala merasakan tubuhnya melayang, sepasang lengan kokoh telah mengangkatnya dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuan sang Kakak. Reana menunduk malu ketika melihat teman-temannya yang lain tersenyum seakan menggoda dirinya.
"Bagaimana keadanmu?" tanya Rean lirih, ada sesuatu yang ia rasakan ketika Reana duduk di pangkuannya. Jantungnya berpacu dengan cepat serta sensasi aneh yang membuatnya senang hanya dengan menatap wajah sang Adik.
"Aku sudah lebih baik, Kak." Reana menunduk menyembunyikan rona pink di wajahnya. Ia sendiri bingung kenapa jantungnya berdebar begitu kencang hanya karena diperlakukan sedikit manis oleh Kakaknya.
"Aku akan membawamu ke kamar, kita istirahat," ucap Rean kemudian menatap ke arah teman-teman Adiknya yang seolah berkata 'cepat pulang sekarang!'
Mereka yang mendapatkan kode tersebut langsung salah tingkah secara kompak tanpa dikomando. Zafaro yang lebih dulu berdiri dan disusul tiga temannya yang lain.
"Kita pulang dulu, Reana. Semoga kau cepat sembuh. Nanti di sekolah aku akan membelikanmu banyak makanan lagi seperti waktu itu," ucap Zefaro yang mendapat anggukan antusias dari Reana. Gadis itu suka sekali dengan berbagai makanan yang dibelikan Zefaro ketika jam makan siang tiba.
"Bye," ucap mereka serempak sebelum pergi meninggalkan mansion. Rean memerintahkan Saga dan anak buah lelaki itu untuk mengawal mobil ke empat remaja tersebut hingga mencapai jalanan kota.
Mansion yang terletak di pegunungan dengan hutan pinus di sekelilingnya, membuat daerah itu rawan akan binatang buas maupun penyusup yang dikirim oleh saingan bisnis Rean. Biasanya mereka dilengkapi senjata api lengkap dengan penembak jitu yang siap melesatkan timah panas pada siapa pun yang behubungan dengan Rean.
"Aku merindukanmu," ucap Rean kemudian mengecup bibir Reana singkat. Lelaki itu juga menyuruh beberapa maid untuk kembali ke rumah mereka masing-masing, ia ingin berdua saja dengan Reana hingga beberapa hari ke depan.
Rean menggendong Adiknya menuju ke kamar lelaki itu. Mengunci pintunya dengan rapat dan segera membersihkan tubuh mereka di bawah guyuran shower. Sesekali mereka bercumbu mesra layaknya sepasang kekasih, Rean tak perduli ketika mendapati dirinya telah menyeret sang Adik dalam lembah dosa yang dalam.
Gadis itu sudah bisa mengimbangi ciuman mesra Kakaknya, bahkan ia juga melenguh nikmat ketika Rean menyentuh daerah sensitifnya secara sensual. Reana tak mengerti apa yang dilakukan Kakaknya itu tidaklah benar, ia hanya merasa nikmat dan juga respon tubuhnya yang seakan menyukai sentuhan Rean.
"Kakak." rasa nyeri langsung menghantam dada Rean kala Reana mendesah memanggil dirinya. Kakak, Rean menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Reana, setetes demi setetes air mata jatuh tersamarkan air shower.
Ia sadar dirinya salah, ia sadar apa yang ia lakukan salah. Namun, ia tak ingin mengakhirinya. Rean terlanjur menikmati setiap inchi tubuh si belia, ia sudah merasa candu akan tubuh Adiknya yang polos.
__ADS_1
Reana yang tak mengetahui bahwa perbuatan Kakaknya telah menyimpang, hanya diam saja tanpa memprotes sedikitpun. Membuat Rean semakin gila akan tubuh Adik kandungnya sendiri.
***
Reana tengah memasakkan makan malam untuk Rean kala lelaki itu turun mencari Adiknya. Rean tersenyum tipis melihat Reana begitu cekatan dalam meracik bumbu masakannya. Gerakannya begitu lincah seolah memasak bukanlah hal sulit untuknya.
Rean mendekatinya, lelaki itu memeluk Adiknya dari belakang hingga membuat kegiatan si belia terhenti. Ia menoleh dan mendapati Rean tengah menumpukan kepalanya pada bahu gadis itu.
"Kalau Kakak seperti ini aku tak akan bisa memasak," ucap Reana pelan, ia takut Kakaknya marah atas tegurannya. Namun lelaki itu hanya bergumam tak jelas sembari makin mengeratkan pelukan pada pinggang Reana.
Jantung gadis itu berdegup kencang, ia merasa begitu gugup dan senang dalam waktu bersamaan. Rean mematikan api kompor yang hampir menghanguskan masakan Adiknya, kemudian lelaki itu mengambil piring dan menyiapkan makanan selagi Adiknya hanya diam mematung di tempat.
"Eh." Reana kaget kala Rean menarik pelan hidungnya, gadis itu menunduk dengan rona merah di pipi tirusnya. Rean tersenyum samar kemudian mengacak surai Adiknya yang sewarna dengan milik lelaki itu.
"Ayo kita makan," ucap Rean kemudian menarik Reana pada pangkuannya, lelaki itu kemudian menyuapkan makanan pada mulut Reana, mereka makan dalam satu piring yang sama.
Berbagi makanan dengan sendok yang sama, Reana semakin gugup menghadapi Kakaknyanyang memperlakukan dirinya begitu ... romantis?
"Aku akan menciummu hingga kau kehabisan napas, jika kau terus memandangiku seperti itu," ucap Rean menggoda Adiknya. Lelaki itu terkekeh pelan kala melihat Reana yang salah tingkah dengan kedua pipi yang memerah.
***
Reana tengah berjalan di halte bus, mobil yang di gunakannya untuk mengantar ke sekolah memang sudah usang sehingga mogok di tengah jalan. Gadis itu terpaksa berjalan kaki ke halte bis untuk menaiki bis hingga ke perbatasan wilayah milik Kakaknya. Jika sudah sampai sana ia bisa meminta salah satu penjaga perbatasan untuk mengantar hingga ke mansion.
Seharian di sekolah tadi banyak kejadian lucu terjadi, terutama ketika Vanesha yang terang-terangan menyatakan cintanya pada Lucas dan di tolak lelaki itu di muka umum.
Membayangkan wajah lucu Vanesha yang menahan malu membuat Reana terkikik geli sendiri, padahal sekarang ini ia tengah berada di dalam bis.
"Sepertinya kau baru saja mengalami hari yang lucu, Nona," ucap seorang pria dengan tuxedo biru gelap di sampingnya, pria itu juga berdiri sepertinya padahal masih ada banyak bangku yang kosong.
"Eh?" Reana kaget ketika melihat seorang lelaki seusia dengan Saga, lelaki yang pernah ia lihat tengah bersitegang di mansionnya bersama dengan Karina, Neneknya.
Sedang apa dia di sini?
__ADS_1
"Ada apa, Nona?" tanya pria itu lagi. Seulas senyum manis terukir dibibirnya menambah ketampanan lelaki itu. Bahkan kini beberapa wanita yang ada di sekitar mereka sudah sibuk berbisik dengan pekikan berlebihan seakan tengah bertemu Artis idola.
"Kau,"
"Rekan Kakakmu. Kau ingat?" Reana hanya tersenyum canggung. Apakah yang seperti itu bisa dikatakan rekan?
"Namaku Aldric Orlando William," ucap lelaki yang di ketahui bernama Aldric. Reana terkesiap ketika tiba-tiba Aldric mengulurkan tangan padanya, gadis itu membalas uluran tangan Aldric sembari tersenyum tipis sebagai pemanis.
"Reana Alexa Austin," ucap Reana yang mendapat tanggapan heran dari sang lawan bicara. Gadis itu menarik tangannya dengan cepat, ia berharap segera sampai di perbatasan.
Beberapa saat lalu ia sudah mengetik pesan pada Saga, menyuruhnya menunggu di perbatasan dan ia rasa lelaki itu sudah berada di sana sekarang.
"Austin? Ku kira margamu adalah Hounten." Aldric seolah terlihat bingung kemudian berpikir seakan lelaki tersebut tak tahu apa pun.
Reana hanya menghembuskan napas pelan, ia malas berurusan dengan orang yang seakan ingin tahu kehidupan peibadinya.
"Urusan keluarga," jawabnya singkat berharap dapat membungkam sejuta pertanyaan yang aka dilontarkan Aldric, lagi.
Sebuah halte bus yang terletak dekat dengan perbatas kawasan Hounten mulai terlihat, ia bernapas lega ketika melihat mobil Lambor hitam milik Saga terparkir tak jauh dari sana.
Bus berhenti tepat di halte tersebut, segera Reana turun setelah berbasa-basi sedikit dengan Aldric. Saga terlihat berjalan menghampiri Reana.
Tatapan mata Saga seketika menajam kala melihat sosok Aldric yang berada dalam satu bus yang sama dengan Reana. Lelaki tersebut sempat melihat senyum remeh tersungging di bibir pria bermarga William itu, Saga mendecih pelan.
"Kau bertemu dengannya?" tanya Saga telak, ia tak suka berbasa-basi.
"Hum," gumam Reana menunduk, ia lebih memilih melihat ujung sepatunya daripada melihat ke netra Saga yang penuh dengan kilatan emosi.
"Jangan berkata apapun pada Rean, ini jadi rahasia kita ... meskipun aku tak yakin dia akan diam." Reana mengangguk paham, ia tak ingin membantah Saga.
Segera ia berjalan menuju mobil dan duduk di kursi depan samping kemudi dengan tenang, Saga bukan supirnya maka ia tak mau duduk di belakang.
____________Tbc.
__ADS_1