
Rean menatap penuh amarah pada pria yang usianya lebih tua darinya itu, lelaki yang menjadi lawan bicara Rean kini tak lain adalah Aldric William, calon suami Adiknya.
Karina menatap cucunya dengan pandangan penuh kasih sayang, meski dibalas tatapan penuh dendam dari Rean, ia tak peduli. Baginya Rean tetaplah cucunya dan Karina ingin cucunya itu hidup lebih baik tanpa perilaku menyimpangnya pada sang Adik.
Reana masih menjadi seorang remaja yang tengah mencari jati diri, gadis itu belum mengerti tentang keslahan fatal yang diperbuat Kakak kandungnya pda dirinya.
Akibat kurangnya pergaulan, membuat gadis belia itu tak mengerti apapun hal tabu yang dipandang rendah masyarakat. Yang gadis itu tahu hanyalah sang Kakak yang mulai menyayanginya.
"Jawabanku tetap sama, aku tak akan menyerahkannya padamu!" Rean berucap penuh penekanan pada setiap katanya. Aldric yang memang memiliki minat pada Reana tak akan menyerah hanya karena ancaman anak kecil seperti Rean yang berucap akan menghabisinya jika mengambil Reana dari lelaki itu.
Aldric sudah melihat bagaimana sosok Reana, seorang gadis kecil yang sangat cantik dan manis, ia begitu menyukai Reana. Dan tanpa diketahui oleh Rean maupun Reana, Aldric telah mengirim beberapa orang untuk mengawasi keseharian gadis itu, juga menyuruh seseorang untuk mengambil foto Reana secara diam-diam yang akan dipasang Aldric di kamarnya bersama dengan koleksi foto wajah Reana yang lainnya.
Aldric bukan hanya menyukai Reana, tapi ia juga sangat teribsesi dengan sosok gadis kecil seperti Reanam dan baginya Rean bukanlah halangan yang berarti untuknya mendapatkan Reana selama Karina berada dipihaknya.
"Bagaimana kalau kau menukar Reana dengan uang ... aku akan memberikanmu berapa pun yang kau mau." Aldric menyerahkan cek kosong yang sudah dibubuhi tanda tangannya pada Rean. Ia yakin lelaki yang juga gila harta seperti Rean akan dengan mudah menyerahkan Reana jika diiming-imingin tumpukan dolar di depannya.
Sangat cerdik!
"BRENGS*K!" Rean menggebrak meja dan cepat mencengkram kerah depan kemeja Aldric yang ada di seberang mejanya. Rean menatap Aldric penuh amarah, sedangkan yang ditatap hanya mendecih remeh.
"Kau pikir aku akan menjual Adikku? Sampai aku mati pun, aku tak akan menyerahkannya pada siapapun, termasuk padamu!" desis Rean tajam. Seketika Aldric membalas tatapan Rean dengan tajam, ia sangat menginginkan Reana dan ia tak ingin Rean menjadi batu sandungan kelak.
"Rean ... kau juga sudah seharusnya memikirkan masa depanmu. Aku dengar Lilian telah meninggal karena kecelakaan, untuk itulah aku juga sudah menyiapkan gadis terbaik untukmu." Karina membuka suara, ia tak ingin ada keributan antara dua orang yang tengah diliputi amarah itu.
"Kau tidak berhak mengatur hidupku, Nenek." Rean mendorong Aldric kebelakang hingga pria itu terhuyung dan terduduk di kursi depan Rean.
"Kau tau, aku sangat mencintai Adikmu, dan aku yakin dia juga akan mencintaiku seperti aku mencintainya," ucap Aldric penuh percaya diri. Rean mendecih kesal, ia tak suka jika miliknya di lirik oleh orang lain.
__ADS_1
"Carilah gadis lain ... Adikku masih terlalu belia untukmu," tolak Rean datar.
"Sayangnya aku tak semudah itu untuk menyerah, Tuan Hounten." Aldric berdiri dan membetulkan jasnya sejenak, lelaki itu tersenyum remeh pada Rean yang menatapnya dengan pandangan datar.
Dengan langkah santai ia pergi dari ruangan Rean meninggalkan Karina yang sepertinya akan berbicara dengan sang cucu.
"Aku harap kau memikirkan semuanya ... ini demi kebaikan kalian," ucap Karina sembari menyentuh bahu Rean. Lelaki itu hanya duduk tenang dengan pikiran yang tertuju pada Reana. Bagaimana jika lelaki itu menemui Reana di saat ia lengah?
"Aku tetap tak akan menyerahkannya, Nenek," jawab Rean telak, ia tak ingin dibantah.
"Aku akan ke bandara untuk menjemput Raina," ucap Karina pelan. Ia bisa melihat ekpresi cucunya yang berubah.
"Akan ku antar." Rean segera berdiri dari kursinya dan mengajak wanita tua itu untuk menjemput seorang gadis di bandara. Gadis yang sudah lama ia rindukan.
***
Raina berlari ke arah Rean, mengabaikan koper yang ia tinggalkan begitu saja. Ia sangat ingin segera memeluk lelaki yang sangat ia sayangi.
"Aku merindukanmu," ucap Rean dengan senyum mengembang, ia memeluk gadis itu dengan hangat.
"Aku juga ... Kakak," balas Raina sebelum mengurai pelukan mereka.
Raina menatap ke arah Karina dan detik berikutnya ia juga memeluk wanita tua tersebut. "Kau sudah remaja sekarang, Cucuku." Karina tersenyum melihat cucu perempuannya tumbuh dengan baik di negara orang.
Sejak Raina lahir, ia sudah di titipkan pada Karina dengan alasan Orangtuanya yang ingin lebih fokus pada Reana yang kala itu memiliki kesehatan kurang baik. Raina tumbuh dengan baik dan lebih sehat daripada Kakaknya, Reana.
Hanya sesekali Orangtua mereka mengunjungi Raina, bahkan ketika Orangtuanya meninggal saja Raina hanya dikabari lewat telepon karena memang ia yang tengah sekolah di negara lain.
__ADS_1
"Reana mana?" tanya Raina yang tak melihat saudara kembarnya. Padahal ia begitu ingin bertemu dengan Reana.
"Dia ada di rumah," jawab Rean singkat. Kemudian ia merangkul bahu Raina dan mengajaknya je mobil, mereka segera kembali ke mansion dengan mengantar Karina ke hotel tempatnya menginap lebih dulu. Seeprtinya wanita tua itu akan segera kembali ke kotanya esok hari.
***
Reana tengah duduk santai di depan televisi lengkap dengan camilan dan novel dari Zefaro di pangkuannya, ia sedang tak ingin diganggu oleh siapa pun sekarang.
"KAKAK!" teriakan memekakkan dari seorang gadis itu membuat Reana menutup kedua telinganya secara refleks. Ia mendecih kesal dan melihat ke arah sumber suara, ada Rean dan seorang gadis seusia dengannya di sana.
Reana memandang datar gadis yang tak lain adalah saudara kembar tak identik darinya itu, gadis dengan penampilan jauh lebih feminin darinya itu tengah berjalan ke arah Reana yang seakan tak memperdulikan kehadiran Raina.
"Aku sangat merindukanmu," ucap Raina senang setelah memeluk Kakaknya dengan hangat.
"Hm," gumam Reana seadanya. Gadis itu kembali duduk di tempatnya semula, mengabaikan Adiknya yang tengah membongkar isi tasnya untuk mencari entah apa itu. Sedangkan Rean memilih duduk di samping Raina yang kebetulan duduk di sofa panjang.
"Ini untukmu, aku membuatnya sendiri," ucap Raina senang sambil menyerahkan sesuatu ke Reana, Kakaknya itu menerima dengan enggan pemberia darinya.
"Amigurumi?" tanya Reana memastikan. Ia meneliti bentuk gantungan kunci itu, boneka koala lengkap dengan ranting di pelukannya. Kecil dan rapi.
"Kau menyukai koala, bukan?" tanya Raina lirih, ia takut salah dan membuat Reana kecewa. Ia tak suka membuat Reana kecewa maka dari itu Raina berusaha melakukan semua dengan sempurna untuk Reana.
"Hm," gumam Reana yang tak dimengerti Rean maupun Raina. Gadis itu tiba-tiba berdiri dan membawa novel yang tadi ia letakkan di meja kaca depannya. "Terimakasih," ucapnya sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Dia mengucapkan 'terimakasih' padaku, Kak?" tanya Raina tak percaya pada Rean. Lelaki itu mengangguk membenarkan dan menepuk kepala Adiknya yang kini terlihat sangat senang hanya karena ucapan 'terimakasih' dari Reana.
__________Tbc.
__ADS_1