
Reana membuka kedua matanya dan melihat Rean ada di sampingnya. Lelaki itu memeluk sang Adik dengan posesif.
'hancur,' ucap Reana dalam hati. Ia menangis dalam diam, tak ada lagi yang bisa ia perbuat sekarang. Ingin rasanya ia meraung dan menangis sekencang mungkin, tapi percuma toh waktu tak bisa diputar kembali.
Reana berjalan menuju kamar mandi, merendam tubuhnya dalam air dingin dan tak peduli meski tubuhnya menggigil kedinginan sekali pun. Hatinya sakit, ngilu, kecewa, ia juga malu pada seluruh keluarganya terutama sang Nenek.
Apa yang ia akan katakan pada mereka semua perihal masalah ini? Tidak ada jaminan untuk Rean yang tak akan membeberkannya ke mereka. Lelaki itu tidak pernah takut apapun, bahkan kematian sekalipun.
Reana menangis terisak, ia merasa tak sanggup menjalani takdir yang digariskan Tuhan padanya. Bukan, mungkin ini bukan takdir yang Tuhan berikan untuknya, tapi takdir buruk yang Rean ciptakan untuknya.
Mengingat betapa dulu Rean begitu membenci dirinya, dan kenapa lelaki itu tiba-tiba menyatakan cinta padanya sungguh di luar dugaan. Bisa saja ini adalah salah satu cara Rean untuk menyiksa Reana sekaligus menghancurkan masa depannya.
Jika itu memang benar, sungguh Reana tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri yang sempat terlena oleh permainan Rean. Wanita itu tak bisa menahan isakannya lagi, ia juga menggosok kulitnya yang memiliki bekas ciuman Kakaknya di sana. Percuma, noda itu tetap menempel di sana, tampak keunguan dan semakin memperjelas betapa hinanya seorang Reana.
"Maafkan aku ... aku bisa menahan segala sakit yang kau berikan untukku selama ini, tapi kali ini aku tak bisa menahannya lagi. Aku menyerah, Kakak, kau membuatku kehilangan masa depan. Aku tak bisa menghadapinya, aku tidak bisa," ucap Reana terisak.
Gadis itu menoleh pada pintu kamar mandi yang terbuka, meraih handuk yang tersampir di dekatnya dan keluar dari sana secara perlahan dengan tatapan kosong tertuju pada meja yang diatasnya terdapat buah-buahan segar tersusun dengan rapi.
Bukan buah-buahan tersebut yang menjadiadi fokusnya, tapi pisau buah yang ada di atasnya.
Reana meraihnya ...
TES ...
TES ...
Wanita itu kembali berjalan ke kamar mandi. Mengunci pintunya dari dalam dan kembali merendam dirinya ke dalam air dingin.
Menenggelamkan dirinya di sana, dengan cepat air bening tersebut berubah warna menjadi merah pekat.
Reana menutup mata, ia telah siap mendapat hukuman dari Tuhan juga tengah menyiapkan diri menerima tatapan kecewa dari kedua orangtuanya.
***
Rean membuka kedua matanya dan tak menemukan Reana di sana. Lelaki itu tersenyum kala membayangkan Reana tak akan pernah lagi meninggalkannya, juga kehidupan mereka yang akan lebih bahagia ke depannya.
Ia sangat mencintai Reana, hanya wanita itulah yang menjadi alasan Rean untuk tetap bertahan hingga hari ini. Tak peduli siapa mereka dan seberapa tebal dinding pemisah diantara keduanya. Reana adalah wanitanya, bukan Adiknya, itulah yang Rean pikirkan.
Lelaki itu mencoba untuk duduk dan memakai kembali bajunya yang tercecer di lantai. Ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor hari ini karena ingin bersama dengan Reana di setiap detiknya.
"Apa?" Rean tercekat kala melihat darah segar yang tercecer di lantai kamarnya. Darah itu mengarah ke kamar mandi yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri kini.
__ADS_1
Dengan keadaan panik, Rean segera membuka pintu kamar mandi tersebut. Namun percuma, pintunya terkunci dari dalam.
"Ya Tuhan." Rean untuk pertama kalinya merasa ketakutan luar biasa. Bahkan tubuhnya gemetar dan tak sanggup mendobrak pintu tersebut.
"Reana," panggil Rean lirih seperti orang yang nyaris kehilangan kesadarannya.
"Tuan!" terdengar panggilan Saga dari Luar, sudah waktunya sarapan dan Rean belum juga turun membuat lelaki itu bergerak membangunkan Tuan-nya.
Tak ada jawaban dari Rean, lelaki itu masih mematung kaku di depan pintu kamar mandi yang masih terkunci rapat. Seakan pergerakannya terkunci, ia sama sekali tak dapat melakukan apapun meski otaknya menyuruhnya untuk mendobrak pintu kayu di depannya.
"Tuan, ada ap--" Saga tak dapat menyelesaikan kata-katanya kala melihat kondisi Rean dan darah segar yang tercecer di sekitar pria itu.
"Astaga, Nona!" Saga segera berlari ke arah kamar mandi, mendobrak pintu tersebut dan pemandangan yang Rean takutkan kini terpampang jelas di depan matanya.
Lelaki itu jatuh lemas terduduk di lantai yang dingin, ia merasa separuh nyawanya telah hilang kala melihat sosok itu terangkat ke permukaan.
Wanita itu begitu lemas, seluruh tubuhnya berwarna kemerahan akibat air yang tercampur cairan kental tersebut. Matanya juga terpejam seperti seseorang yang tengah tertidur dan bermimpi indah.
Tanpa pikir panjang lagi, Rean segera berlari ke arah Saga yang tengah memangku Reana. Mengambil alih gadis itu dan menggendongnya untuk dibawa ke rumah sakit.
***
Raina terus saja menangis dan berharap ini hanya mimpi. Pagi tadi ia terbangun dan mendapati keributan yang terjadi di lantai bawah. Ia yang tak tahu menahu segera berlari ke arah sumber suara dan melihat Kakaknya tengah menggendong Reana yang dalam keadaan pingsan. Darah segar juga terus berceceran di lantai dan tanpa diberitahu pun Raina sudah faham apa yang terjadi.
Sudah empat puluh lima menit mereka menunggu di ruang tunggu rumah sakit tersebut, tapi entah kenapa Dokter belum juga keluar dan memberikan kabar baik seperti yang mereka harapkan. Bukan kabar buruk yang seperti mereka cemaskan.
Tak berapa lama kemudian Zefaro, Lucas, dan Vanessa tampak berlari ke arah mereka. Dengan nafas tersengal, Lucas bertanya keadaan Reana yang hanya dijawab gelengan kepala dari Raina.
Segera Vanessa memeluk gadis itu, membiarkannya menangis di dalam pelukannya. Ia tak menyangka jika persahabatan mereka akan hancur karena masalah cinta.
Jane yang dulu begitu baik berubah menjadi jahat dan menghalalkan segala cara agar bisa bersama dengan Rean, orang yang sangat dicintai gadis duplikat Reana tersebut.
Dan sekarang, Reana yang dulunya terlihat begitu dingin dan tegar, secara mengejutkan melakukan aksi bunuh diri tanpa ia tahu apa penyebabnya.
"Bagaimana?" tanya Rean pada seorang Dokter yang kemudian melepaskan maskernya.
Dokter tersebut memancarkan sorot mata sendu, tak ada sirat kelegaan di sana, Dokter tersebut menunduk. Ia kemudian bergumam.
"Ikhlaskan dia," gumam Dokter tersebut yang membuat Rean segera berlari masuk ke dalam ruangan tersebut. Mengabaikan larangan Dokter dan beberapa perawat yang akan melepas semua alat medis yang melekat pada tubuh Reana.
Lelaki itu melarang mereka melepasnya, melarang mereka untuk memutuskan usaha Reana yang akan membuka mata. Ia yakin wanitanya akan kembali padanya.
__ADS_1
"Bangunlah! Jangan menghukum ku seperti ini! Bangunlah, kumohon," tangis Rean pecah begitu pilu sembari mengguncang tubuh Reana yang sudah memucat.
Lelaki itu memeluk sosok gadis yang amat ia cintai begitu erat. Kembali ia merasakan kehilangan. Mengapa Reana yang sudah berjanji akan selalu berada di sisinya begitu tega meninggalkannya seorang diri?
Takdir yang teramat kejam telah Tuhan gariskan untuk Rean. Sekarang ia tak lagi memiliki seseorang yang dapat membuatnya bertahan di dunia. Rasanya ia ingin menyusul Reana ke surga, jika saja tangisan Raina tak lagi ia dengar.
Gadis itu memeluk Rean begitu erat, ia menangis dan berdoa meminta kebaikan Tuhan agar mengembalikan saudaranya. Ia bahkan juga berjanji akan melakukan apapun asalkan saudari kembarnya tersebut kembali menyapanya.
Namun, sepertinya Tuhan telah menyiapkan takdir yang lebih indah lagi untuk mereka.
Tak berapa lama kemudian, Karina datang dengan derai air mata di pipi tuanya. Tangan keriputnya gemetar menyentuh pipi pucat sang belia. Ia menangis tanpa isakan, hanya air matanya yang meluncur deras tanpa bisa ia bendung lagi.
Karina menatap kedua cucunya yang lain, mereka tampak begitu terpukul dan rapuh. Apalagi Rean yang kini hanya menatap kosong pada sosok gadis yang begitu ia cintai.
Karina berjalan menghampiri Rean, untuk pertama kalinya wanita tua itu memeluk cucunya dengan penuh kasih sayang.
Begitu juga dengan Rean yang menangis terisak dalam pelukan Karina.
"Tidurlah, Sayang. Tenanglah kau di sana, dan tunggulah aku di surga. Aku berjanji akan menjaga cinta ini sampai nafasku yang terakhir. Tidurlah, aku mencintaimu," bisik Rean pada telinga Reana.
Lelaki itu kemudian pergi dari sana meninggalkan Reana yang meneteskan air mata.
"Aahh!" pekik perawat yang melihat kristal bening itu mengalir dari sudut mata sang pasien.
"Rahasiakan," ucap wanita tua tersebut. Para tim medis menatap bingung padanya, Karina hanya mengelus lembut puncak kepala Reana.
"Maafkan Nenekmu ini, Reana." Karina berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan senyum kelegaan terpatri di wajahnya.
"Maaf karena aku begitu kejam memisahkan kalian."
________Tbc.
akhirnya tata bisa up lagi........ maaf ya kalau cerita yang berjudul kusut belum bisa up. soalnya tata belum dapat ide.
dan satu lagi tata pengen minta tolong ke kakak pembaca untuk manggil saya dengan panggilan nama saya saja. tata. bukan
author:(
tata belum pantas dipanggil authorrrš„š
makasih.....:)
__ADS_1