
Pagi harinya Reana terbangun dari tidurnya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 siang, ia melihat ke sisi kanannya dan sudah tak menemukan Rean di sana.
CEKLEK
Pintu kamar Rean terbuka dan terlihat oleh Reana Kakaknya itu tengah memakai pakaian santai, apa dia tidak ke kantor? Pikir Reana.
Rean menghampiri Adiknya yang tengah duduk diam sembari menatapnya bingung, Rean mengacak pelan rambut Reana dan mengecup bibirnya singkat.
"Ayo, kau harus mandi dulu," ucap Rean menyadarkan gadis itu.
"Aku akan meminta bantuan Sienna, Kak." jawab Reana yang memang ia kesulitan untuk mandi sendiri akibat beberapa luka dan lebam di tubuhnya. Bahkan luka tusuk pada pahanya membuat Reana kesusahan untuk berjalan.
"Sienna sedang sibuk sekarang, aku yang akan memandikanmu!" Reana membulatkan matanya tak percaya, selama ini ia tak pernah dimandikan oleh laki-laki meski itu Kakaknya sendiri.
Wajahnya memerah menahan malu dan ia hanya menunduk dalam. Rean meraih dagu Reana, memandang mata Adiknya yang memerah.
"Apa kau malu padaku?" Reana mengangguk membenarkan ucapan Kakaknya. Lelaki itu menghembuskan napas pelan, dielusnya pipi Reana dengan lembut.
"Aku meliburkan beberapa maid, dan sekarang tugas mereka semakin menumpuk. Jadi, biar ini menjadi tugasku." Reana menatap Kakaknya tak percaya. Seumur hidup baru kali ini Rean bersikap baik padanya, akhir-akhir ini sikap Rean nampak mulai berubah menjadi lebih manis pada Reana.
Rean menggendong Adiknya dan membawa gadis itu ke kamar mandi, mengisi bak dengan air hangat dan menuangkan sabun beraroma strawberry kesukaan Reana. Dengan telaten Rean memandikan Adiknya, ia juga yang mengganti perban luka di tubuh Reana.
"Terimakasih, Kak." Reana berucap lirih pada Rean yang sudah selesai dengan tugasnya mengganti perban.
Cup~
Rean mengecup singkat bibir Reana sebelum menggendongnya untuk turun ke bawah, lelaki itu mengambilkan sarapan untuk Reana. Tampak Reana tengah memakan sarapannya dengan lahap, Rean terkekeh pelan sembari menepuk puncak kepala Adiknya.
Ia senang jika Reana menyukai masakan yang ia buat untuk gadis itu.
__ADS_1
***
Rean tengah duduk santai pada ayunan di belakang mansionnya, sebuah kolam renang dan beberapa tumbuhan hias yang tertata rapi membuat siapapun yang berada di sana akan merasa nyaman.
Lelaki itu mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, orangtuanya tewas kecelakaan dan ia yang hampir kehilangan Reana. Ia bingung dengan perasaannya selama ini, perasaan aneh yang membuat Rean sendiri bingung menjelaskannya.
Ia merasa kesal dan marah ketika Reana bersama dengan pria lain, ia tak suka melihat Adiknya bahagia lalu pergi meninggalkannya sendiri.
Ia selalu menyiksa Reana dengan kejam bahkan nyaris menghilangkan nyawa gadis itu, akan tetapi ia juga merasakan sakit ketika melihat Adiknya terluka sedemikian parah. Perasaan aneh yang membuat Rean semakin membenci Reana.
Akan tetapi ia merasa senang ketika Reana menurut padanya, ia senang melihat Reana tak membantah semua perintahnya dan anehnya ia juga merasa senang ketika Reana tersenyum karena perbuatan kecilnya.
Ia tak pernah merasa demikian pada Lilian, bahkan Rean terlalu malas dan risih jika harus menyentuh wanitanya. Berbeda dengan saat ia menyentuh dan mencium bibir Reana, ia menyukainya.
PRANG!
Rean kaget mendengar suara gaduh yang berasal dari dalam mansion, segera ia lari ke dalam dan menemukan Reana tengah duduk di lantai bersama dengan serpihan guci mahal milik Rean.
"Kau tak apa? Apa kau terluka?" pertanyaan bernada panik dari Rean membuat Reana membuka matanya dan menatap Kakaknya yang kini tengah memasang raut wajah cemas, Rean memeriksa tubuh Adiknya dan merasa lega ketika tak menemukan luka baru di sana.
"Ma-af kan a-ku ... hiks ... aku tak se-ngaja," ucap Reana terbata, ia sungguh takut jika Kakaknya akan menghajar dirinya lagi.
"Kau mau pergi ke mana? Aku sudah menyuruhmu diam di kamar, kan? Jika kau butuh sesuatu, panggil Sienna atau kau juga bisa memanggilku." Rean berujar lembut pada Reana, membuat Adiknya merasa diperlakukan selayaknya manusia oleh Rean.
"Aku ingin menemui Vanesha yang menungguku di luar mansion, Kak." Reana menjawab lirih pertanyaan Rean. Lelaki itu ingat bahwa Adiknya memiliki satu orang teman bernama Vanesha.
"Aku akan mengantarmu ke sana." Rean segera menggendong Reana dan membawa Adiknya menemui Vanesha.
***
__ADS_1
Rean melihat ada dua orang gadis yang tengah duduk di sofa ruang tamu, mereka nampak mengagumi interior dari mansion Rean. Hingga perhatian mereka teralihkan pada Reana yang memanggilnya.
Vanesha dan seorang gadis cupu entah siapa itu menatap Rean dengan mulut menganga, mereka begitu terpesona melihat ketampanan seorang Rean.
Cup~
Rean melumat pelan bibir Adiknya sebelum meninggalkan gadis itu bersama dengan teman-temannya. Dua pelajar SMU tersebut dibuat menganga tak percaya melihat adegan ciuman yang dilakukan oleh sahabatnya itu
"Kau bermain gila dengan majikanmu, Reana?" tanya Vanesha setelah Rean pergi meninggalkannya.
"Apa? Majikan?" tanya Reana bingung. Mungkin temannya itu berpikir bahwa ia salah satu maid di mansion Kakaknya, dan Reana tak peduli dengan hal yang ia rasa tak penting itu.
Vanesha memang baru kali ini datang ke mansionnya, bahkan gadis Taiwan itu memastikan beberapa kali pada Reana bahwa alamat yang ia tunjukkan tak salah.
"Bukankah dia itu Rean Enziro Hounten, kan? Lelaki sempurna yang begitu dipuja kaum hawa?" Vanesha berkata berlebihan yang membuat Reana merinding mendengarnya.
Sepertinya para perempuan yang memuja Kakaknya itu harus tahu betapa mengerikannya seorang Rean, agar mereka berpikir seribu kali lagi untuk mengagumi Kakaknya.
Reana hanya menjawab seadanya pertanyaan dari dua orang teman sekelasnya itu, dan gadis cupu tersebut menyerahkan sebuah buku catatan yang dituliskan untuk Reana.
"Aku tak ingin kau ketinggalan pelajaran, semua sudah ku catatkan di sini." terlihat gadis itu takut pada Reana yang menatapnya datar. Bahkan si cupu itu juga nampak gelisah dan beberapa kali membenarkan letak kaca matanya.
"Hm, terimakasih," ucap Reana singkat dan datar. Tampak si cupu itu tersenyum senang.
"Namaku Jane," ucap Jane sambil mengulurkan tangannya pada Reana. Namun, Jane segera menariknya kala Reana hanya menatap bingung sikap Jane yang antusias berkenalan dengan Reana.
__________Tbc.
Assalamualaikum, Kakak pembaca ... maaf ya jika kemarin saat ada adegan kekerasannya saya tidak memberikan tanda A di partnya. Karena saya belum mengerti menggunakan aplikasi ini, tapi kemarin saya sudah bertanya-tanya dengan satu kakak author dan beliau menjelaskan semuanya ke saya, jadi sekarang saya sudah mengerti bagaimana caranya memberikan tanda A itu.
__ADS_1
Kemarin soalnya belum saya update aplikasinya, jadi saya benar-benar bingung menggunakannya. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan pembaca sekalian, dan terimakasih sudah berkenan membaca cerita saya:)
Semoga kalian suka ...