Sadistic Brother

Sadistic Brother
17


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


.


2 minggu kemudian luka pada tubuh Reana mulai membaik, ia kini sudah bisa menggerakkan tubuhnya lebih leluasa dan perban yang melilitnya juga sudah di lepas beberapa.


Kini Reana duduk di sofa tunggal sembari membaca novel yang dibelikan Rean kemarin, novel percintaan romantis yang mengharu biru menghadapi segala cobaan dalam kisah cinta pemerannya.


Kisah cinta yang sangat menyentuh di mana sang lelaki berjuang keras sembuh dari penyakit Leukemia yang menggerogoti tubuhnya demi agar bisa menjaga kekasihnya yang seorang tunanetra.


Reana menghapus air matanya yang tak terasa menetes pada pipi pualamnya. Ia terhanyut dalam paragraf demi pragraf yang mengandung drama percintaan begitu romantis hingga halaman terakhir novel tersebut.


Seandainya saja ia menemukan lelaki sebaik dan seromantis lelaki yang ada di dalam cerita karangan itu, begitulah hayalan Reana.


Namun, semua itu hanya tinggal hayalan yang ia tahu tak akan pernah bisa terwujud. Sekarang saja ia hanya bisa duduk diam di kamar Kakaknya, tak ada ponsel, bahkan tak ada siapa pun yang diijinkan masuk ke kamar itu selain dirinya dan Rean.


Rean akan menyiapkan sarapan untuk Reana juga makan malam akan mereka lakukan di dalam kamar, hanya sesekali Rean makan di meja makan bersama dengan Raina agar Adik kesayangannya tak curiga tentang ia yang menyekap Reana di dalam kemarnya.


Dan untuk makan siang, Sienna diijinkan masuk tak lebih dari dua menit hanya untuk mengantarkan nampan berisikan makanan dan tak lebih dari tiga menit juga untuk membereskan semuanya.


Rean memasang kamera pengawas yang terhubung pada laptopnya, juga alarm yang terhubung ke ponselnya ketika ada orang lain masuk ke dalam sana. Kecuali Sienna.


Dan begitu alarm berbunyi maka Rean akan memerintahkan bodyguardnya untuk menyeret siapa pun yang masuk ke kamar mereka tanpa belas kasihan. Tak terkecuali Raina.


Rean menginginkan Reana tetap berada di sisinya, tak peduli bagaimana tanggapan Reana terhadap dirinya yang seperti seorang iblis.

__ADS_1


Reana melihat ke arah pintu, sepertinya akan ada yang masuk. Benar saja, Sienna masuk membawakan nampan berisikan makan siang untuk Reana, gadis itu tersenyum hambar, dan dengan terburu-buru Sienna keluar dari kamar itu sebelum waktu yang ditentukan sang Tuan habis.


"Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Sebegitu bencikah Kakak padaku?" tanya Reana miris pada pintu yang kini sudah pasti kembali dikunci rapat oleh Saga.


Sudah lama sekali bagi Reana tak bertemu dengan Saga, sudah lama sekali ia tak mengobrol ringan dengan Saga,


Dan entah berapa lama lagi ia akan keluar dari sangkar emas sang Kakak.


Reana menangis menatap jendela besar yang memperlihatkan bagian luar mansion. Taman kecil miliknya yang sangat ia rindukan, juga kebebasan yang sangat ia dambakan. Terlihat beberapa maid dan penjaga berjalan mondar-mandir mengurus tugas mereka masing-masing.


Dan Reana hanya bisa menatap mereka dari kamar Rean yang ada di lantai empat.


***


Rean menggebrak meja kayu di depan Aldric dan Karina, ia sungguh murka mendengar Neneknya yang dengan mudah akan segera menikahkan Reana dengan Aldric yang usianya bahkan jauh lebih tua dari pada Adiknya.


Bahkan Karina sepakat dengan Aldric yang akan melangsungkan pernikahan tanpa menunggu kelulusan Reana. Tentu saja Rean murka dengan keputusan Neneknya yang dianggap akan membuatnya kehilangan Reana.


Sejujurnya ia juga tak perduli dengan pendidikan Reana akan sampai di mana, yang ia perdulikan adalah Adiknga harus berganti status menjadi Istrinya, bukan Istri Aldric atau lelaki lain.


"Keputusanku sudah bulat, Rean, aku akan tetap menikahi Adikmu. Suka tidak suka, kau harus menerimanya!" Aldric berbicara dengan nada pongahnya. Ia sudah lama menginginkan Reana dan tak ingin hanya berfantasi tentang gadis itu demi untuk memuaskan hasratnya.


"Kau gila! Sampai mati pun Aku tak akan menyerahkan Reana padamu, atau pada siapa pun! Dia hanya milikku!" Rean yang emosi sudah mencengkram kemeja depan Aldric.


"Kau memiliki dua orang Adik, bukan? Jika kau menyerahkan Reana pada Aldric, kau masih memiliki Raina untuk menemanimu dan bisa kau manjakan sepuas hatimu, Rean." Karina berkata lembut pada cucunya yang keras kepala itu. Rean menampik tangan Karina yang tengah memegang lengannya tanda supaya cengkramannya pada Aldric dilepaskan.


"Nenek boleh menjodohkan Raina dengan siapa pun, aku tak akan melarangmu. Tapi, jika yang kau jodohkan itu adalah Reana, maka aku siap mati demi mempertahankannya!" Rean membuat kedua orang itu terbelalak, mereka tak menyangka bahwa Rean akan seserius ini dalam mempertahankan Reana.


Karina menatap manik kelabu milik Rean, ia dapat melihat keseriusan itu terpancar dari mata cucu kesayangannya. Jika sudah seperti ini maka tak akan ada yang bisa membantah keputusan dan ucapan rean, diam adalah cara aman yang bisa mereka pilih jika tak ingin menyetujui keputusan lelaki itu.


Yang jelas, apapun keputusannya Rean akan tetap melakukannya degan atau tanpa restu dari Neneknya atau dari siapapun.


"Kita pergi, Aldric!" Karina lebih dulu meninggalkan mereka, disusul dengan Aldric yang juga meninggalkan Rean.


***

__ADS_1


Rean memasuki kamarnya dengan tubuh yang sangat lelah, ia melonggarkan dasinya setelah menyampirkan jas kerjanya pada sandaran sofa dengan sembarangan.


Rean mendekati Adiknya yang sudah tertidur pulas, ia mengelus pipi pucat Reana dengan lembut seolah takut membangunkan gadis itu.


"Ka-kak?" panggil Reana terbata, ia kemudian duduk dan menghadap pada Rean yang terlihat lesu dan acak-acakan.


"Kau sudah makan malam?" tanya Rean lembut. Reana menggeleng sebagai jawaban.


"Tunggulah di sini, akan ku siapkan makan malam untuk kita," ucap Rean. Setelah itu Rean mengecup pipi kiri Reana dan segera ia melenggang pergi dari kamar tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.


Kini mereka makan malam dalam keadaan hening tanpa ada yang membuka suara. Keadaan sunyi yang sama-sama mereka sukai. Rean memangku Reana dan menyuapi gadis itu seperti biasanya, mereka makan dalam satu piring dan sendok yang sama.


Rean yang malas membereskan piring bekas makannya, segera memanggil Sienna untuk masuk dan membersihkan semuanya.


Reana hanya menurut ketika Rean menuntunnya untuk memeluk leher lelaki itu dan menenggelamkan wajah Reana pada ceruk lehernya.


"Pergilah!" ucap Rean datar pada Sienna yang diam menatap keintiman mereka berdua, Rean tahu Adiknya malu dan risih atas tatapan Sienna pada mereka. Untuk itulah Rean segera mengusir maid itu.


"Kak," cicit Reana pelan. Ia ingin menyakan kapan ia bisa keluar dari kamar ini, tapi terlalu takut untuk menyuarakan keinginanya tersebut. Jadilah ia hanya diam menunduk dengan pipi bersemu pink.


"Ada apa?" tanya Rean datar. Tak kunjung mendapat jawaban dari Reana, Rean yang geram segera melumat bibir Reana dengan nafsu yang menggebu. Mengajak lidah Reana menari dengan lidah Rean yang agresif.


Reana menegang, ia merasa tubuh bagian bawah Kakaknya yang ia duduki mengeras. Ini akan berbahaya untuknya. Reana segera mendorong Rean, bibirnya bengkak dan Rean semakin menatap penuh nafsu pada Reana.


"Aku menginginkanmu malam ini, Reana." Rean berkata dengan napas beratnya seakan menahan sesuatu yang menyiksa dirinya.


Tangan lelaki itu sudah merayap menyentuh bagian sensitif sang Adik. Reana menghentikannya, ia tak ingin bermain terlalu jauh dengan Kakak kandungnya sendiri. Semua ini harus ia hentikan.


"Jangan, Kak. Dosa," lirih Reana yang berusaha menahan tangan Rean agar tak menjamahnya semakin jauh.


"Aku tak peduli ... aku menginginkanmu menjadi milikku. Bisakah kau menyerahkannya padaku, Reana?" tanya Rean dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa Reana melihat segores luka terpancar dari tatapan mata Rean.


"Jangan," lirih Reana menunduk. Ia menahan tangis karena tak sanggup melihat tatapan terluka Rean. Hubungan terlarang yang hanya akan membuat mereka tersiksa jika nekat melakukannya.


"Maafkan aku," ucap Rean pelan, kemudian ia kembali mengancingkan kemeja Reana yang tadi sempat ia lepas. Rean menggendong Reana ke ranjang, membaringkannya dan menyelimuti gadis itu.

__ADS_1


"Tidurlah," ucap Rean sebelum beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri.


________Tbc.


__ADS_2