
"Ma, Pa. Tolong, jangan merubah perlakuan kalian terhadap Angelina. Dia adalah korban dalam masalah ini. Perasaannya juga pasti sedang terguncang dan merasa tertekan. Di tambah melihat sikap dari kalian berdua. Aku yakin, tidak ada satupun yang mau mengalami hal seperti ini. Termasuk aku, Angeline maupun Alan." Lilian berbicara sambil menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
Dirinya benar-benar Tak tahan lagi melihat perubahan dari keluarga ini. Tak terkecuali sikap dari papanya. Karena Lilian tahu bahwa orang tuanya itu menyayangi Angeline bagaikan kepada putrinya sendiri. Sejak kecil paman Lionel memang menyayangi putri adik perempuan satu-satunya. Semenjak menjadi yatim piatu, maka pengasuhan terhadap Angelina jatuh ke tangannya. Termasuk pembiayaan gadis itu.
Sebab, keluarga Blaire tidak memiliki harta kecuali mobil tua yang membawa celaka itu. Tempat tinggal mereka hanya menyewa pertahun. Karena itulah, Angelina tidak memiliki apapun ketika masuk kedalam keluarga Cole.
"Sejak awal sudah ku katakan. Jika anak itu adalah pembawa sial dalam keluarga ini. Lihatlah! Dia sudah mempermalukan kita. Gadis tak tau diri. Seharusnya dia itu balas budi karena kita sudah menampung yang selama beberapa tahun ini. Baru mulai bekerja, belum terima gaji pertama tapi sudah mendatangkan musibah!" Meriam nampak menggeram marah. Kedua matanya menyorot tajam ke sembarang arah. Seakan-akan di sudut sana ada sosok Angelina.
__ADS_1
"Ma. Ini bukan karena Angel. Dia pun tak ingin hal ini terjadi padanya. Siapa yang mau kehormatannya di renggut paksa oleh pria yang bukan suaminya," sanggah Lilian. Ia mencoba untuk menahan diri dan tetap berkata dengan lembut pada wanita yang ia tau begini karena terlalu menyayanginya.
"Kau selalu membelanya. Kau terlalu tulus padanya, padahal gadis itu tengah berusaha merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu. Sadarlah, Lilian! Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi wanita yang lemah dan bodoh!" Kali ini Meriam berdiri dari duduknya. Dadanya terlihat turun naik dengan napas yang memburu.
"Duduklah. Ini meja makan. Bahkan putri kita belum mengisi lambungnya!" titah Lionel, seraya menarik lembut tangan istrinya itu. Ia paham hal apa yang telah membuat istrinya marah. Karena ia pun merasakan hal yang sama terhadap Angeline.
Tak adil memang. Tidak seharusnya Angeline menerima hukuman sosial. Padahal diri serta hatinya juga hancur. Dalam kejadian ini Angeline lah yang paling dirugikan. Mendengar ucapan Lilian, seketika Lionel sadar. Bahwa sikapnya selama ini terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Angelina. Dia seharusnya mendapat rangkulan dan pelukan dari kita sebagai keluarganya. Jika bukan karena kasih sayangnya terhadap Liliana dan juga kita paman dan bibinya. Juga kasih sayang saudara saya hormatnya terhadap Alan dan juga keluarganya. Mungkin, setelah kejadian itu Angeline akan menuntut ke pengadilan. Dan, sebenarnya ia berhak melakukan hal itu. Tapi, karena hubungan yang telah terjalin selama ini. Dengan sikap dewasa dan juga segala kebaikan dari hatinya. Angeline tidak melakukan itu semua," tutur Lionel, perlahan memejamkan matanya, menyesali apa yang telah ia perbuat pada keponakannya itu.
"Seharusnya aku malu pada, adikku Maureen. Aku gagal dalam menjaga putrinya. Bahkan, Angelina kehilangan masa depannya di dalam rumahku sendiri. Dimana, bangunan ini seharusnya menjadi tempat teraman baginya." Lionel menelan penyesalan itu berat. Mata hatinya tertutup oleh obsesi selama dua hari ini.
Lilian pun terpekur menunduk. Menatap kosong pada alas makanya yang memang belum ia isi apapun. Tak ada selera makan. Selain penyesalan karena sempat menyalahi Angelina.
...Bersambung...
__ADS_1