Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 39. Terbuka Apa Yang Tersembunyi.


__ADS_3

Melihat besannya telah pulang. Maka, Meriam memberikan uang pada pelayan untuk membeli bahan makanan. Kebetulan juga, Lionel pulang lebih dulu karena ada panggilan. Merasa rencananya di restui oleh semesta. Meriam segera menjalankan aksinya. Lilian hanya bisa menurut. Karena ia juga hanya ingin menjadi satu-satunya bagi Alan.


"Beraninya kau hamil! Seharusnya kau bisa menyadari dan menggugurkannya sebelum Jackson tau!" hardik Meriam membuat Angelina hampir terlonjak. Ia masih berada di atas tempat tidur karena keadaannya masih lemas.


"Apa maksud bibi memerintahkan aku untuk membunuh bayiku sendiri? Apa bibi sehat?" cecar Angelina. Ia tak mau mendengarkan apalagi menuruti kegilaan dari wanita ambisius yang merupakan istri dari pamannya itu.


"Memang, kau berharap apa dari mempertahankan kehamilanmu ini, hah!" Meriam berkata ketus seraya menuding ke wajah Angelina.


"Ma, sudah," tahan Lilian. Ia sebenarnya tak tega, melihat sikap sang mama yang keterlaluan.


"Kau sungguh keterlaluan, Bik!" tepis Angelina keras pada jari telunjuk Meriam yang berada di depan wajahnya. "Kau tau apa yang akan di lakukan oleh keluarga Jackson jika mereka tau apa yang Bibik katakan pada calon penerus keluarga mereka!" tambah Angelina. Sekuat tenaga ia berteriak. Karena merasa tidak terima dengan ucapan Meriam barusan terhadap janinnya.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, Angelina sama sekali tidak memiliki pemikiran seperti itu. Meskipun harus menderita dengan ginjal satu yang ia punya. Angelina akan tetap mempertahankan kehamilannya sekuat tenaga. Ini adalah tanggung jawabnya, melahirkan anak yang ia kandung hingga selamat ke dunia.


Mendapat perlawanan serta penolakan dari keponakannya itu, Meriam mendengus. "Kau sudah berani melawan padaku rupanya, hah!" Meriam menarik rambut Angelina, namun kemudian di tahan oleh Lilian. Putrinya itu mencoba menghentikan emosi sang mama.


"Hentikan, Ma. Apa yang kau lakukan!" Lilian memegangi tangan Meriam dan mencoba memisahkan dari rambut Angelina yang panjang. "Lepaskan dia, Ma!"


Meriam pun mundur dan melepaskan Angelina setelah Lilian berhasil menarik dirinya ke belakang.


Tatapan keduanya teralihkan dengan suara orang sesak napas. Benar saja, Angelina terlihat pucat pasi karena kesulitan bernapas. Lilian langsung panik dan kelabakan, semetara Meriam hanya diam saja. Baginya, ini kebetulan. Ia belum melakukan apapun tapi semesta sudah membantunya.


"Ma, cepat panggil ambulance!" teriak Lilian panik. Bagaimana pun dia takkan tega melihat Angelina tersiksa di depannya.

__ADS_1


"Biar saja. Nanti kau yang akan menjadi istri satu-satunya Alan Jackson. Wanita dengan satu ginjal itu memang rawan jika hamil. Bisa saja keadaannya tiba-tiba, memburuk," jelas Meriam sok tau. Meskipun, penuturannya itu belum terbukti keberaniannya. Lilian mendadak khawatir. Begitu juga dengan Angelina. Dirinya yang masih dalam keadaan sadar tentu saja masih dapat mendengar ucapan dari sang bibik.


"Apa maksudnya hidup dengan satu ginjal rawan dengan kehamilannya!" tiba-tiba terdengar suara berat, yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Meriam pun terkesiap kaget. Ia tak menyangka jika ucapannya ternyata didengar oleh menantunya itu. Alan, tiba-tiba masuk kedalam. Tanpa sepengetahuan dirinya.


Hah. Mati aku! Alan mendengar semua yang ku katakan. Bagaimana ini?


Meriam semakin khawatir ketika Alan memberikan tatapan tajam saat melewatinya. Pria Riu seakan melepas ancaman dari hukuman mati kepada Meriam.


"Minggir!" Alan menyentak tangan istrinya yang tak lain adalah Lilian. Hingga, wanita itu terlempar ke sisi tempat tidur. Mendapati keadaan dari Angela yang sangat menghawatirkan.

__ADS_1


...bersambung...


__ADS_2