
Angelina memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Selain memang tak ingin terlambat masuk kantor. Ia juga tak sanggup melihat kemesraan antara Alan dan Lilian. Di sadar dan paham betul posisinya diantara mereka. Hubungan serta penikahannya dengan Alan terjadi atas kecelakaan. Bukan atas dasar cinta apalagi restu.
Akan tetapi, panggilan dari kakak sepupunya itu memaksa langkahnya untuk terhenti mendadak. "Ange, apa kau sudah sarapan?" tegur Lilian seraya menghampiri sosok sang adik yang telah menjadi madunya itu. Demi apapun, Lilian juga sedang berusaha menguatkan hatinya. Mencoba bersikap seperti biasa. Karena dia tau, bahwasanya, Angel adalah korban, bukan pelaku.
Angel mau tak mau membalik badannya. Ia pun memaksa senyumnya ketika wajah mereka berpapasan dan kedua mata saling menatap. "Sudah, Kak. Maaf, aku tidak menunggu kalian karena hari ini, ada meeting dengan para investor asing," jelas Angel berusaha dengan tidak menatap mata ketika bicara.
Kasian dia. Angel pasti merasa begitu bersalah pada Lilian. Padahal, ini semua adalah murni kesalahanku. Aku sudah membuat hubungan yang dekat dan erat itu menjadi tanggung. Bahkan sangat jelas terlihat jika Angel berbicara sambil menahan gemetar pada bibirnya. Karena mabuk, aku sudah melukai dia hati wanita sekaligus. Dan, mereka adalah wanita yang ku sayang sejak masa sekolah dulu.
Alan, menghela napas berat. Berkali-kali merutuk dirinya sendiri dalam hati pun takkan mampu membalikkan keadaan seperti semula. Akan tetapi, ia tetap akan memilih salah satu dari mereka. Pilihan itu jatuh pada Lilian. Karena memang sang wanita itulah, yang dulu pernah berkorban untuknya. Sejak saat itu Alan berjanji akan melindungi dan mencintai dengan tulus wanita itu.
Meskipun, ia harus mengorbankan hubungan persahabatan dengan Angelina. Setidaknya hubungan mereka tidak pernah menggunakan perasaan sebelumnya. Ya, menurut Alan begitu.
"Tak apa, kami ... justru yang harusnya minta maaf karena tidak dapat sarapan bersamamu dan mama-papa," ucap Lilian kikuk juga. Ia menahan emosinya yang sebenarnya ingin memeluk Angelina. Padahal kedua pelupuk matanya telah memanas.
"Kakak, makanlah. Ingat kesehatanmu. Aku ... pergi dulu," pamit Angelina, namun sekilas ia sempat melirik ke arah Alan yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Dalam sepersekian detik kedua mata mereka saling menatap. Alan, dapat melihat perasaan yang sangat sulit ia artikan dalam mata itu. Alan tak mengerti, kenapa Angel tidak membencinya.
"Sebaiknya kau menggunakan sopir, Jangan naik bis lagi," ucapan dari Lilian lagi-lagi menahan langkah Angelina.
"Tidak perlu, Kak. Aku sudah terbiasa bukan?" tolak Angel, hati-hati. Karena dirinya tau jika Lilian adalah tipe yang mudah tersinggung.
__ADS_1
Lilian menoleh ke arah, Alan. Tatapannya mengartikan bahwa, ia memohon pada Alan agar tidak membiarkan Angelina berangkat dengan bus. Kendaraan umum itu rawan terhadap pelecehan wanita.
Alan yang mengerti pun langsung mendekat. Pria itu sudah berpikir ke arah sana. Hanya saja ia ragu. Takut jika Lilian cemburu dan sakit hati. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Alan kaget karena ternyata Angel sering menggunakan kendaraan umum. Padahal, di rumah ini ada beberapa mobil pribadi.
"Aku akan mengantarmu." Alan berjalan melewati Lilian dan juga Angelina. Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, pria bertubuh tinggi tegap itu menghampiri mobilnya. Membuka pintu dengan menekan tombol kunci di tangannya. Masuk, bersiap di belakang stir, kemudian menyalakan mesin. Alan menatap ke dalam rumah. Angel masih terpaku diam di sana.
Angel paham dan segera berjalan menghampiri kendaraan yang mesinnya berbunyi halus itu. "Duduk di depan. Aku bukan supirmu!" titah Alan. Seketika, Angel menutup kembali pintu bagian belakang. Dan, Alan telah membuka pintu mobil untuknya dari dalam.
"Tunggu!" panggil Lilian kencang.
Setelah sampai ke sisi mobil, wanita cantik dengan rambut sebahu itu menyerahkan kotak bekal pada Angel. "Berikan padanya," titah Lilian dengan senyum yang masih di paksakan. Angel hanya mengangguk.
"Kau harus sarapan setiba di kantor nanti!" titah Lilian kembali pada Alan suaminya, yang juga tak dapat ia pungkiri sebagai suami adik sepupunya ini.
Sepersekian detik kemudian, kendaraan beroda empat itu pun melaju. Keluar dari pekarangan rumah mewah milik keluarga Cole, hingga kini keduanya telah berada di jalan raya yang berada di luar komplek.
Keheningan memenuhi sisi kedua orang yang sudah di sahkan oleh hukum, sebagai pasangan suami istri ini. Tak ada satu pun yang ingin memulai pembicaraan diantara mereka. Hingga, Angel teringat pada benda yang ada di atas pangkuannya.
"Ini, sarapanmu. Mau kuletakkan dimana?" tanya Angel seraya menyodorkan tas yang berisi kotak bekal itu ke depan Alan. Pria yang berada di belakang kemudi pun menoleh sekilas. Sejak tadi, sebenarnya dia tengah mati-matian menahan dirinya. Bukan tak mau menyapa mantan sahabatnya ini. Alan tetapi, dirinya bingung harus memulai pembicaraan darimana. Apalagi, ketika Alan menemukan bekas sembab di bawah mata Angelina.
__ADS_1
"Se–sebenarnya. Aku lapar," ucap Alan, namun pada akhirnya ia menyesal karena telah mengucapkan hal itu. Dia melirik sebentar kearah Angel. Wanita yang terpaksa ia nikahi ini terdiam. Sambil menatap nanar ke arah tas bekal yang berwarna jingga itu.
Alan tau, saat ini, Angel pasti tengah memikirkan perkataannya barusan.
Apa maksudnya? Apa Alan mau aku melakukan hal yang biasa ku lakukan padanya. Kebiasaan ketika sekolah dulu? Atau, aku salah tanggap saja. Ah ... kasian dia belum sarapan. Tapi--
Angel bingung dengan pikirannya sendiri. Perempuan itu memegang benda bundar di dalam genggamannya dengan kencang. Ada niat untuk membukanya tapi, ragu. Apa benar, hal itu yang di maksud oleh Alan.
"Maaf. Abaikan saja ucapanku barusan. Aku--"
"Buka mulutmu!" potong Angelina, pada ucapan Alan dengan sebuah perintah.
"Hah, ap--!" Angel menjejalkan potongan kecil dari roti lapis ke dalam mulut Alan. Pria di depan kemudi itu mendelik, dan langkah selanjutnya ia mengunyah. Karena , memang perutnya sangat lapar. Sejak semalam ia tidak makan apapun. Sementara, aksinya bersama Lilian sungguh menguras tenaga. Seketika, ia kembali mengingat bagaimana hubungan mereka sebelum ini. Angelina adalah sahabat yang sudah Alan anggap seperti adik sendiri. Perempuan itu sejak dulu memang selalu perhatian padanya.
Angel segera, membuang pandangannya ke jendela. Ia pun teringat kebiasaannya dulu. Karena, setiap berangkat sekolah. Alan tidak sarapan terlebih dulu. Pria itu akan berteriak kesakitan pada perutnya ketika sampai di sekolah. Karena itulah, Angel terpaksa membuka kotak bekal dan menyuapi Alan. Karena ia paham betul, jika pria di sebelahnya ini selalu rutin sarapan pagi. Dia tidak mau menjadi salah satu alasan ketika Alan terkena sakit maag nanti.
"Makanlah. Jangan sampai kau kelaparan gara-gara mengantarku ke kantor," tukas Angel, kemudian terus lanjut menyuapi lagi.
"Kau, fokus saja pada jalanan." Sontak ucapan Angel barusan menyadarkan Alan. Ia sudah beberapa kali mencuri pandang kearah perempuan yang telah ia rusak masa depannya. Apalagi, sekarang mereka terlibat pada satu perjanjian.
__ADS_1
Aku harap kau tidak hamil dari benih yang kutanam malam itu. Atau, aku akan semakin merasa bersalah pada kalian berdua.
...Bersambung ...