
"Sudah terimakasih." Alan menahan tangan Angel yang masih menyodorkan potongan roti terakhir. Karena memang dia sudah kenyang. Dan seperti biasa, Angel yang akan menghabiskan sarapannya. Alan melongo. Karena kebiasaan beberapa tahun lalu itu masih di lakukan oleh sahabat yang telah menjadi istrinya ini.
"Angel, itu--" Alan menunjuk kepada makanan yang sedang di kunyah oleh wanita di sebelahnya ini.
"Kenapa, Kau tau kan. Aku pantang membuang makanan," jelas Angel. Tanpa menoleh ke arah Alan. Ia fokus menghabiskan sisa sarapan pria yang berada di depan kemudi ini. Kakak ipar yang akhirnya menjadi suaminya kini.
Angelina tak menyangka jika hidupnya akan serumit ini. Ia pikir, setelah bekerja maka dia akan perlahan merubah takdirnya. Menjadi manusia yang berguna dengan tidak menyusahkan dan bergantung pada orang lain. Sekalipun itu adalah pamannya sendiri.
Alan tak menyangka jika kebiasaan Angelina masih sama seperti dulu. Kala mereka masih di usia remaja. Angel tak segan menghabiskan makanannya maupun Lilian.
Kalo ini pun seperti itu. Sekalipun dirinya telah membuat masa depan serta impian yang dibangun oleh Angel hancur. Wanita itu, yang notabene adalah sahabatnya sebelum kejadian malam naas tempo hari, tak pernah sekalipun marah atau menuntutnya.
Termasuk ketika Alan menyodorkan kertas perjanjian itu. Seketika, Alan merasa tak enak hati. Ia merasa begitu jahat pada gadis yang selaku mengenakan kacamata tebal ini. Padahal, Angel bisa mengganti kacamatanya dengan kontak lens serta menggerai rambutnya.
"Maaf, soal perjanjian itu. Aku ... tidak bermaksud--" Alan tidak meneruskan ucapannya karena mereka telah sampai di depan gerbang perusahaan.
__ADS_1
Angel menoleh dengan sebelah tangan yang sudah mendorong pintu. "Aku paham. Ini demi kebaikan. Jangan memikirkan aku. Karena hal ini tidak akan mempengaruhi hidup dan juga hatiku," ucap Angel. Kemudian gadis bermata empat ini hendak turun. Akan tetapi, Alan menghentikan gerakannya itu dengan menarik tali tas selempang, milik Angel.
"Tunggu!"
Angel sontak menoleh lagi.
"Ada apa? Kau ingin semua orang curiga akan hubungan kita? Mereka itu taunya kau itu kakak iparku. Suami dari Lilian!" Angel berkata tegas seraya menepis tangan Alan yang menahan tasnya.
"Aku hanya ingin melakukan ini, Maaf!" Alan pun menarik kacamata tebal Angel serta membuka konde rambut yang membuat Angel terlihat lebih tua dari usianya. Kini, rambut panjang Angel yang berwarna dark-brown ini tergerai bebas. Hingga, aroma shampo pun menguat dari setiap helainya.
PLAK!
Tanpa Alan duga sama sekali, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Hingga, rasa panas itu menjalar hingga ke dalam hati.
"Kau tidak berhak mengaturku, Al. Tindakanmu barusan sudah keterlaluan. Apapun keputusan ku, kau tidak berhak sedikitpun mendiktenya!" protes Angel marah. Ia tak suka Alan mencampuri apa yang ia lakukan terhadap penampilannya. Karena inilah caranya dalam melindungi diri.
__ADS_1
Angel memasang kembali konde dan juga kacamatanya. Namun, Alan sempat melihat kecantikan alami dari Angel selama beberapa detik. Ia tak marah mendapat tamparan itu. Ia hanya tak habis pikir, kenapa Angel menyembunyikan kecantikannya.
Jika saja kau berdandan modis seperti Lilian. Pasti akan banyak pria yang mendekatimu. Ah, tapi itu berbahaya juga.
Alan bergumam dalam hati sambil mengusap pipinya yang kebas.
"Tenaganya, besar juga." Alan meringis kecil. Kedua mata elangnya memperhatikan sosok Angel hingga menghilang di balik gerbang.
Sementara, Angel yang masih merasa kesal. Segera lari ke toilet setelah absen kehadiran.
"Dasar kau siAlan! Menyebalkan! Kau sudah mengundurkan hidupku. Tapi aku tidak bisa membencimu! Bodoh kau Angelina!" Puas dirinya berteriak di depan cermin wastafel. Angel pun membuka kacamatanya. Ia menatap wajahnya yang tanpa cermin kembar itu lekat.
"Aku, tidak bisa." Angel pun memasang kembali kacamatanya.
...Bersambung...
__ADS_1