
"Makanlah. Jangan kerja terus." Miles meletakkan kotak donat berisi sekitar enam buah ke atas meja Angeline. Pria berambut ikal itu langsung berlalu begitu saja bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Angelina.
"Dasar pria keras kepala!" celetuk Angelina. Ia menghela napas kasar seraya menatap makanan dengan berbagai macam toping menggiurkan itu. Ruangan kerjanya yang hanya di batasi oleh dinding yang terbuat dari kaca transparan, tentu saja bisa melihat apa yang dilakukan oleh sang atasan di dalam sana. Terdapat beberapa tamu penting yang entah mereka membicarakan apa.
Angelina juga akan tau ketika, sang CEO nanti memberitahukan padanya. Kali ini ia fokus pada banyaknya berkas pekerjaan yang harus ia periksa sebelum di setorkan kepada atasannya. Mengatur apapun yang bersangkutan dengan pekerjaan di perusahaan ini.
Dalam beberapa bulan bekerja ia sudah diangkat menjadi kepercayaan dari CEO. Karena itulah banyak sesama karyawan yang tidak suka padanya. Mereka merasa jika Angeline tidak layak memegang jabatannya sekarang.
Semua berpikir bahwa asisten dari CEO mereka yang cantik dan modis, diharuskan juga memiliki penampilan yang glowing dan setidaknya menarik. Dan, Angelina bagi mereka tidak ada satupun yang mendekati kriteria itu. Ia tidak menarik dan penampilannya juga cupu. Namun, sang CEO yang bernama Veronica Smith melihat otak dan kinerja Angelina yang di atas rata-rata. Bukan penampilannya. Ia tidak suka bahkan jika karyawannya terlalu sering memperbaiki penampilan mereka ketika sedang bekerja di depan layar komputer.
"Perusahaan ini bukan bergerak di bidang fashion! Jadi, kami tidak menurut penampilan kalian harus glowing dan membahana. Kami, memerlukan otak kalian memberikan inovasi-inovasi baru demi keberlangsungan perusahaan ini dalam menaklukkan pasar!"
Itulah kata-kata yang Angeline ingat ketika ia masih di bagian staf pemasaran. Karenanya, Angelina sama sekali tidak berniat untuk mengubah penampilannya.
"Pria itu, kanapa tetap keras kepala. Huh!" Angeline menggerutu tapi tetap membuka kotak dus dihadapannya. Perutnya yang telah berbunyi sejak tadi seakan semakin keras berdentum ketika mencium bau harum dari aroma topping keju dan stroberi.
"Bahkan dia hafal dengan rasa kesukaanku." Angelina tersenyum dan memasukkan roti dengan lubang di tengah itu kedalam mulutnya yang mungil. Setelahnya ia menyeruput air mineral yang tersedia juga di atas meja.
__ADS_1
"Enak ya makan siang aja ada yang anterin. Duh, kamu itu pake guna-guna apa sih? Sampai Miles memperhatikan mu melebihi dirinya sendiri?" ketus salah satu karyawan wanita yang merupakan kepala divisi pemasaran. Wanita ini menatap tajam dan sinis ke arah Angeline. Tapi, Angelina santai saja. Ia sudah terbiasa menghadapi karyawan yang julid seperti ini.
"Enak banget. Aku gak perlu turun dari gedung. Gak perlu keluar duit. Bahkan, gak perlu keluar dari ruangan aku yang nyaman ini. Enak banget sumpah. Mau!" jawab Angeline dengan nada sindiran yang cukup sarkas. Bahkan ia menyodorkan dus makanan tersebut demi menunjukkan apa isinya. Bukan sengaja ingin menawarkan.
"Tuh, aku di beliin donat dengan merek yang lagi viral itu. Rasanya enak banget. Kamu mau gak, ambil aja gak usah malu-malu. Aku tau, kamu pasti jarang ada yang kasih makanan kan. Gak kayak aku. Padahal, aku jelek gak kayak kamu yang cantik," sindir Angelina, namun ia memasang wajah biasa saja. Sementara wanita modis dengan blues press body di hadapannya ini terlihat kesal. Ia pun membanting berkas yang perlu tanda tangan sang CEO dengan kasar.
"Eh, biasa aja dong meletakkannya. Kamu mau ya aku laporkan ke atasan. Biar di kasih pesangon lebih awal!" ancam Angeline kesal. Karena kelakuan wanita ini membuat berkas yang ia susun sebagian berantakan.
"Heh! Cewek mata empat. lu jangan sok ya! Liat aja, gue bakal tunjukkin siapa Lo yang sebenarnya pada Nona Vero!" ancam wanita yang bernama Linda itu.
"Dari tiga bulan yang lalu juga kamu udah lempar ancaman itu ke aku. Tapi, mana buktinya. CEO malah ngasih kepercayaan lebih besar lagi buat mencatat nama siapa aja karyawan yang gak efisien dalam bekerja. Wanprestasi dan zonk attitude," tutur Angelina tenang. Ia membenarkan letak kacamatanya ke atas. Kemudian menatap ke arah Linda dengan malas.
Membuat, Linda kehabisan kata-kata untuk membalas. Karena ia tak menyangka jika Angelina ternyata pandai membalikkan keadaan. Dia juga memiliki tambahan kekuasaan. Jika tau begini, Linda tidak akan mencari masalah secara terang-terangan.
Mati aku! Apakah namaku dimasukkan dalam daftar karyawan yang tidak berkembang? Oh tidak! Ini pekerjaan andalanku. Gajinya juga lumayan besar. Cicilanku mana banyak.
Linda memutuskan untuk tidak memperpanjang urusannya dengan Angeline. Ia salah karena sudah berusaha menekan dan mengintimidasi asisten kepercayaan Veronica itu. Sehingga, ia merencanakan sesuatu ketika sampai di kubikel para staf.
__ADS_1
"Kita harus bermain cantik. Atau kita akan dipecat secara tidak terhormat. Bukankah, kita yang mau di dikeluarkan dari gedung ini?" ucap Linda lada kawan-kawannya. Ia menyeringai sinis. Sambil merencanakan sesuatu. Ia takkan kalah begitu saja dengan Betti La Fea wannabe itu.
"Sesekali, tegaslah! Jangan hanya bisanya mengancam. Buat laporan agar nona Vero memecat mereka semua. Bukankah kau sudah memiliki bukti-buktinya?" tegur Miles yang tiba-tiba muncul begitu saja di samping meja Angeline.
"Kau itu macam hantu saja. Bisa tidak memberi clue kalau mau muncul?" kesal Angeline. Namun ekspresinya itu justru membuat Miles gemas.
"Marah aka terus. Aku suka melihat kamu begitu. Menggemaskan," ledek Miles. Dimana hal itu justru membuat Angelina memutar bola matanya malas. Pria ini apa sudah katarak. Ketika yang lain mengatakan bahwa dia jelek, tapi justru Miles selalu memujinya lucu, terkadang manis dan menggemaskan seperti barusan.
"Nanti kalau libur, aku antar ke rumah sakit ya," ucap Angelina datar.
"Hei, nga–ngapain? Aku gak sakit!" tolak Miles. Pria ini paling takut dengan bangunan itu.
"Ketemu dokter mata!" celetuk Angel lagi.
"Mataku baik-baik aja, Angel. Ngapain di periksa segala!" Nampaknya Miles mulai gusar. Karena ekspresi Angelina cukup serius.
"Mana ada baik-baik saja. Pandangan mu itu tidak normal tau!"
__ADS_1
"Angel! Jangan bercanda! Aku takut dokter!"
...Bersambung...