
Pagi ini di luar cuaca cerah. Burung-burung kecil berkicau riang. Kendaraan mulai lalu-lalang di sekitar jalan komplek perumahan mewah tersebut. Ya, Alan masih berada di kediaman keluarga Cole.
Didalam kamar yang seharusnya untuk tamu itu, sepasang suami istri baru saja selesai mandi. Lilian mengeluarkan pakaian yang akan ia kenakan setelah mandi.
"Kamu, gak jadi pergi kan?" tanya Alan seraya menatap penuh harap kepada Lilian. Istrinya itu kini sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Dengan cekatan ia menarik Lilian untuk duduk di depan meja rias. Kemudian, ia mengambil handuk kecil itu untuk menggosok lembut rambut Lilian yang basah.
"Tak perlu begini. Biar aku saja," tolak Lilian, ia berusaha mengambil kembali handuk itu. Tapi, Alan menggelengkan kepala sebagai penolakan. Lilian pasrah, ia membiarkan saja Alan melakukan keinginannya. Toh, diapun senang diperlakukan seperti itu oleh suaminya.
" Rambutmu halus, aku juga sangat menyukai aromanya," bisik Alan lembut sambil sesekali mencium sekilas pipi istrinya itu.
Kemudian, Alan mengeluarkan hair dryer dari dalam laci meja rias. Pria tampan dengan rahang tegas tanpa bulu itu, melanjutkan aksinya. Ia mengeringkan rambut sebahu milik Lilian. Kemudian sedikit menggulung di setiap ujung rambut. Gayanya seperti penata rambut sungguhan. Bagiamana Lilian tidak tersipu.
Ketika, Alan suaminya, memperlakukan dirinya dengan begitu manis. Bahkan, Lilian tersenyum lebar pada saat melihat gaya rambutnya yang memukau.
"Cantik sekali, bagaimana kau bisa--"
Cup!
__ADS_1
"Bukan karena aku, tapi kau yang memang cantik, Lilian. Dan, aku sangat beruntung memilikimu. Aku dapat melepaskan segala yang ada di dunia ini. Apapun itu. Tapi, tidak denganmu, Li. Ku mohon, jangan pernah berpikir untuk pergi dariku lagi," pinta Alan penuh harap, seraya menatap Lilian lekat dan dalam melalui cermin di hadapannya.
Ya Tuhan. Bagiamana aku tidak luluh. Sikapnya sangat manis dan lembut. Mungkin, aku memang harus memberi kesempatan ini padanya.
Lilian memutar tubuhnya, dan kini dirinya dengan Alan berhadapan. "Baiklah. Aku, hanya bisa berharap Angel tidak hamil. Sehingga kau bisa menceraikannya lebih cepat. Aku, hanya ingin menjadi satu-satunya dalam hati juga hidupmu, Al," jawab Lilian, seraya menatap kedalam bola mata Alan yang pekat.
Alan mendekatkan wajahnya. Kedua telapak tangannya bertumpu pada pegangan kursi. Ia berbalik menatap dalam pada iris Lilian yang kebiruan itu. Lalu berkata dengan suara yang lembut. "Aku pastikan itu. Hanya kau pemilik hatiku, Li," ucap Alan, dengan gerakan yang semakin mengikis jarak diantara mereka.
Sementara itu di lantai bawah.
"Pagi, Om, Tante." Seperti biasa, Angelina akan menyapa kedua paman dan bibinya itu. Namun, tak ada lagi senyum maupun sahutan ramah dari keduanya. Kalau soal, Meriam jangan d tanyakan lagi. Wanita itu memang sudah sejak lama tidak menyukai kehadiran Angelina di rumah ini. Akan tetapi, sang paman biasanya akan menjawab sapaannya dengan senyum hangat dan perhatian demi perhatian. Hingga, Angelina merasa masih memiliki keluarga.
Pria yang kini duduk di hadapannya, hanya meliriknya sekali lalu kembali fokus pada makanannya. Angelina menelan ludahnya kasar kemudian ia mengambil piring dan membaliknya. Tak ada lagi suara yang menawarkan sarapan padanya seperti pagi sebelum kejadian itu. Biasanya, paman akan menuangkan nasi goreng maupun memberikan padanya beberapa lembar roti gandum.
Maafkan Angel, paman. Seharusnya aku tidak berbuat hal yang bisa membuat hatimu sakit dan juga kecewa. Tapi, sungguh ... semua ini diluar kuasaku.
Angelina, berusaha menguatkan hatinya. Jangan sampai ia menangis lagi kemudian merusak jam makan pagi keluarga ini.
__ADS_1
Setengah mati, Angel menghabiskan sarapannya. Untung saja, Alan dan Lilian belum turun. Atau, dia tak tau lagi harus memasang sikap seperti apa.
Mereka tak saling bicara maupun mengorek kejadian yang sempat menggegerkan kedua kubu keluarga besan ini. Hingga, Angel selesai sarapan. Wanita muda ini menelan potongan roti terakhir dengan sangat susah. Dadanya penuh dan sesak.
"Angel berangkat, Paman, Tante." Angel meminta ijin dengan tetap berdiri. Biasanya ia akan mendapat kecupan di kening dari sang paman. Tapi kini, jangankan kecupan. Seulas senyum pun tak ia dapatkan.
Angel pun berbalik dan memaksakan kakinya untuk berputar arah. Menahan suku tenaga agar air matanya tidak tumpah pada saat ini.
Akan tetapi dadanya yang sudah penuh kini seakan menerima pukulan keras yang kuat. Seketika langkah kakinya terhenti. Ketika kedua tatapan matanya menangkap langkah sepasang suami istri yang nampak bahagia. Bahkan mereka saling berpegangan erat.
"Kak, Lili." Angel bergumam kecil saat melihat sang kakak sepupunya turun dengan bergandengan tangan dengan pria yang juga menjadi suaminya itu.
Keduanya telah mengenakan setelan formal untuk ke kantor. Melihat sang adik sepupu, di bawah tangga. Buru-buru Lilian melepaskan genggaman tangan Alan dari jemarinya.
Kenapa kau melepasnya kak? Dia itu kan pasangan halal mu. Dia suami mu sendiri. Aku tak aku peduli, apa yang sudah kalian lakukan semalaman. Kepalaku sudah sangat pusing memikirkan segala kemungkinan.
Alan sudah menyangka jika cepat atau lambat mereka akan sering untuk bertemu.
__ADS_1
...Bersambung...