
"Alan!" ketiga wanita yang berada dalam sebuah gazebo pun sontak turun dan dan berdiri. Melihat dengan tatapan lurus ke arah si empunya suara.
"Kau sudah pulang, Nak? Lili bilang kemungkinan kau lembur hari ini?" tanya Katie.
"Seharusnya. Tapi, pekerjaan ternyata mampu selesai lebih awal. Karena itu aku memutuskan pulang, dan mendapati bahwa kedua istriku ke sini," jelas Alan tenang. Meski dalam hati ia bertanya. Darimana, Lili tau jika dirinya akan lembur. Bahkan, dia sengaja tak menghubungi untuk memberitahukan istrinya. Akan tetapi, calon kliennya tersebut diundur hingga beberapa hari ke depan. Karena itulah Alan memutuskan untuk pulang.
Namun, yang ia dapatkan justru kedua istrinya tidak ada di rumah. Hampir saja, pria tampan dengan tubuh perkasanya itu berpikiran macam-macam terhadap keduanya. Karena, Alan tau jika Lilian terobsesi untuk menjadi istri satu-satunya.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengunjungi Mommy tanpa sepengetahuan darimu. Aku sudah menelepon, dan sekretarismu yang menerima panggilanku," kilah Lilian. Seraya bergelayut manja di lengan Alan.
Sejak kapan kau menjadi pandai berbohong seperti ini, Li? Bahkan, Monika tak melaporkan apapun tentang panggilan darimu. Apa yang sedangkan rencanakan pada saat ini?
Alan yang tak habis pikir dengan kebohongan demi kebohongan yang pada saat ini tengah berusaha dilancarkan oleh Lilian. Namun, ia tak berniat membuka semua itu di depan yang lainnya. Bagaimanapun, ia harus menjaga nama baik istrinya.
"Sudahlah tak apa. Sini, bergabunglah!" ujar Katie. Meskipun tahu apa yang sedang terjadi, dirinya tak mau ikut campur. Katie memutuskan melerai ketegangan yang ada.
__ADS_1
"Nyonya, maaf. Tapi, makanan sudah siap," ucap pelayan yang tiba-tiba datang.
"Ah baiklah. Siapkan semuanya. Kami akan kesana," sahut Katie. Pelayan pun segera undur diri. Katie pun mendekati sang putra dan menggandeng lengannya.
"Ayo! Sudah lama kita tidak makan bersama. Hari ini pasti berkah dari semesta," ucap Katie begitu bahagia. Hal itu terpancar jelas melalui raut wajahnya yang semringah.
Tapi tidak dengan Damian. Pria itu memasang wajah kaku bagaikan karang batu. Ketika Sang putra telah sampai di meja makan. Rasa kesal lantaran sang putra mencoreng reputasi baik yang selama ini ia bangun dan jaga penuh kehati-hatian, belum lagi hilang.
Hingga, akhirnya masa ini datang juga. Dimana ia dan sang putra di pertemukan lagi. Bahkan, dengan kedua menantunya sekaligus.
Begitupun, dengan Lilian. Wanita itu pun sama. Namun, ia lebih bisa menguasai diri. Karena, ia merasa berada di posisi yang benar.
"Ayo, makanlah. Ini pertemuan pertama kita, di rumah. Santai saja, anggap rumah sendiri," ucap Katie. Berusaha menghilangkan kecanggungan yang membuat suasana begitu dingin. Setidaknya sikapnya akan menyeimbangkan kelakuan sang suami yang sedikit arogan itu.
Lili meraih, piring kosong di depan Alan. Kemudian ia menyendok nasi. "Sayang, kamu makan apa. Ikan atau --"
__ADS_1
"Alan tidak suka ikan, Kak," potong Angelina cepat. Menghentikan gerakan tangan Lilian seketika, yang hampir saja meletakkan ikan di piring makan Alan.
"Sejak kapan, Alan tidak suka ikan. Itu ikan nila kesukaannya. Sudah lama juga Mommy tidak membuatkan Alan menu ikan nila. Tapi, ini masakan koki. Lain kali, Mommy yang akan memasakkannya untukmu," ucap Katie seraya memandang Alan dan juga Angelina bergantian.
Karena, putranya itu terlihat terpaku diam.
"Apa itu benar, Sayang?" tanya Lilian, canggung. Ia malu karena bisa-bisanya ia tak tau.
"Semenjak--"
"Duri ikan tersangkut di tenggorokannya sebulan yang lalu," sambung Angeline.
Penjelasannya barusan membuat semua orang yang berada di meja makan terkejut.
Apa-apaan ini? Kenapa aku tidak tau! Kau membuatku malu, Angel.
__ADS_1
...Bersambung ...