Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab 15. Permintaan Untuk Merubah Penampilan.


__ADS_3

Seketika Miles berdiri tegak kemudian menoleh cepat. Pada saat itulah, Angelina kabur dari situasi yang membuatnya selalu sesak napas. Dirinya itu memutuskan untuk memeriksa ruangan rapat lebih pagi. Setelah di pastikan beres, Angelina melangkahkan kakinya ke roof top.


Hanya dengan berdiri di puncak gedung, Angelina dapat merasa tenang. Situasi di rumah sedemikan sesak. Di setiap sudut kini tak lagi sama. Ia merasa setiap orang, bahwa setiap dinding menyalahkan dirinya.


Aku sudah menahan diri sekian tahun. Meskipun hubungan kalian berawal dari kesalahpahaman, tapi ... aku tidak bisa melihat kekecewaan itu di wajah salah satu daripada kalian. Aku menyayangi kalian lebih dari diriku sendiri. Tapi, sehebat apapun aku menahan hati serta mengarahkan logika agar mau menerima semua tetap berjalan dengan semestinya. Tetap saja, aku kalah ketika respon tubuh mengkhianati ku.


Angelina memejamkan mata demi merasakan angin. Mendengarkan hatinya berbicara. Melepaskan semua gundah yang ia rasakan. Hanya angin dan sepi yang menemaninya. Angelina tidak memiliki seseorang untuk ia ajak bicara. Semua yang ia rasakan menjadi rahasia antara dirinya dan semesta.


Angelina kembali menarik dan menghembuskan napasnya lagi. Ia harus segera kembali sebelum kepergiannya di sadari.


"Semoga semesta merestui ku. Semoga, tidak ada benih yang tumbuh di sini," gumam Angelina lirih. Seraya, memeluk perutnya yang rata.


Angelina hendak berbalik. Dan benar saja, ponsel dalam sakunya bergetar. "Ya, baik, aku datang. Kau tidak perlu tau aku dimana!" jawab Angelina. Tak lama kemudian, panggilan terputus. Ia melangkah cepat menuruni tangga spiral tersebut.


"Nona Presdir, semua sudah menunggu anda di ruang rapat," jelas Angelina pada Veronica.


Tanpa menjawab wanita berparas anggun tapi angkuh itu pun melangkah keluar dari kantornya. Aroma cat kuku masih membekas di ruangan itu.


"Mau rapat sepenting ini. Sempat-sempatnya nona memoles kuku," gerutu Angelina. Ia yang memang selalu cuek terhadap penampilan, takkan mengerti bahwa kuku pun menjadi bagian penting yang harus di perhatikan. Apalagi, untuk pebisnis yang juga sosialita seperti Veronica. Kesempurnaan penampilan adalah nomer satu, baginya. Meskipun ia tak pernah mempermasalahkan penampilan dari para karyawannya.


"Kamu kemana saja? Kenapa tiba-tiba kabur dan menghilang?" cecar Miles yang tau-tau sudah mensejajarkan langkahnya dengan Angelina.


"Tentu saja menyiapkan ini semua. Memang apa lagi?" tukas Angelina. Tidak ketus namun terdengar tegas.

__ADS_1


Miles hanya dapat menghela napas tanpa berniat untuk mendebat gadis di sebelahnya ini. Karena ia tau jika Angelina sengaja menghindarinya.


Rapat selesai dengan baik. Para investor asing sangat puas dengan hasil presentasi yang di tampilkan oleh Angelina. Meskipun terdapat beberapa kasak-kusuk di belakang itu. Apalagi, selain mempertanyakan penampilannya yang terkesan adalah wanita karir masa lampau.


"Kau hebat, seperti biasanya. Perusahaan kita akhirnya berhasil mendapatkan relasi hebat dan berat seperti mereka. Lawan kita sedang gemetar saat ini," puji Miles. Terdengar sangat tulus dan rasa kagum itu terpancar dari bola matanya yang cerah.


Tanpa berniat menjawab. Angelina hanya memasang senyum tipis. "Tinggal dulu, nona Vero memanggilku." Angelina melambaikan tangannya, lalu berbelok menuju ruangan CEO.


"Angel. Kau tau, beberapa relasi dan para investor sangat suka cara kerjamu. Penyampaian dan semua ide brilian mu itu. Mereka memujinya. Hanya saja, mereka kurang nyaman dengan penampilanmu. Apa kau tidak bisa memperbaikinya? Maksudku, aku tidak masalah dengan penampilanmu selama kau nyaman dan pekerjaan mu itu beres dan memuaskan. Hanya saja, ini permintaan mereka. Lagipula, menurutku kau akan semakin bersinar jika mengubah ini semua," tutur Veronica seraya menggerakkan tangannya menunjuk penampilan Angelina.


"Tapi, saya nyaman seperti ini. Nona. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian," jawab Angelina.


"Tapi, kau terlanjur menjadi pusat perhatian dari perusahaan ini selain aku. Tadinya, ku pikir hal ini tidak akan mempengaruhi apapun. Tapi, mendengar beberapa keluhan dari investor, ku rasa kau harus mempertimbangkannya." Veronica berbicara serius sambil menatap kearah Angelina.


"Tapi, Nona, saya--"


Bagaimana ini? Aku tidak mungkin ... tapi --


Angelina benar-benar dalam dilema berat. Namun, ini demi karir yang telah ia rintis serta impiannya yang ingin hidup mandiri.


"Aku akan menelpon salon langgananku agar kau bisa membuat janji dengannya." Veronica bahkan menawarkan perawatan mahal pada Angel.


"Tidak, Nona. Tidak hanya perlu seperti itu," tolak Angelina halus. Memangnya dia seburuk itukah, sampai harus membutuhkan tangan profesional.

__ADS_1


"Memangnya kau bisa sendiri?" tanya Vero tak yakin. Bahkan ia memindai Angelina dari atas sampai ke bawah. Vero pun membuka laci untuk mengambil uang tunai.


"Ini! Beli pakaian yang kekinian. Aku tidak hanya memerintah, tapi juga memberikan modal. Ku harap kau tau balas budi!" ujar Presdir berusia tiga puluh tahunan itu tegas.


Angelina pun mau tak mau mengambilnya. Karena, memang dirinya butuh itu.


Bagaimana ini. Apa aku harus berdandan dari rumah? Kenapa untuk sekedar menjadi diriku sendiri pun sesulit ini. Apa aku harus pindah dari rumah itu ya? Semoga tabunganku cukup untuk menyewa sebuah kamar kos.


Angelina pulang dengan membawa berapa paper bag di tangannya. Tantu saja hal itu membuat tatapan penuh selidik dari Meriam terarah padanya.


"Apa ini waktu gajian? Kenapa kau belanja banyak sekali?" tegur Meriam ketus. Bahkan ia terlihat menghampiri keponakannya itu dan merampas barang bawaannya.


"Bibi, itu pakaian kerja. CEO memintaku untuk merubah penampilan. Tapi aku janji tidak akan mengenakannya dari rumah," ucap Angelina.


"Merubah penampilan seperti apa!" Meriam mencekal lengan Angelina dengan keras. Ia bahkan menatap keponakannya itu dengan sorot mata yang tajam.


"Para investor asing mulai memprotes penampilanku yang--"


"Jika kau ingin merubah penampilanmu, maka keluar dari sini!" hardik Meriam. Ia leluasa bertindak kasar karena Lionel mendadak keluar kota.


"Bik, tolong jangan begini. Kau menyakitiku," lirih Angelina.


Meriam lantas tersenyum sinis, lalu ...

__ADS_1


"Ma ...!"


...Bersambung...


__ADS_2