
"Bagaimana keadaanmu?" Alan masuk kedalam kamar perawatan Angelina dengan membawa buket bunga di tangan kanan juga boneka besar berbulu di tangan kirinya. Semerbak wanginya yang khas dari bunga chamomile pun merebak di dalam kamar VVIP tersebut.
Angelina yang terkejut sekaligus senang. Ingin bangun duduk dari posisi rebahnya. Akan tetapi, Alan langsung menghambur dan mencegahnya. Pria itu menahan agar posisi Angelina kembali tiduran.
"Diamlah. Kau tidak boleh terlalu banyak bergerak. Meskipun para tim dokter dari rumah sakit ini telah melakukan pengobatan terbaik untukmu. Tapi, Aku ingin kau jangan banyak bergerak dulu. Sebelum, daftar kembali melakukan observasi pada mu," tutur Alan saya menaikkan kembali selimut yang melorot.
Angelina hanya bisa mengangguk lemah dan tersenyum tipis atas segala perhatian yang diberikan oleh Alan. Meskipun, ia tak menyangka jika pria ini bersikap sangat lembut dan manis padanya. Karena, semenjak kejadian itu sikap Alan berubah dingin.
Saat ini, Angelina kembali dapat menikmati senyum alam yang hangat dan tulus. Senyum, yang sudah lama sekali hilang. Berganti dengan ekspresi dingin dan kaku.
"Kamu mau makan apa? Buah atau kue?" tanya Alan. Karena banyak sekali makanan di atas meja yang belum disentuh oleh Angelina.
"Aku tidak menginginkan apapun, Kenapa yang ku mau kini ada di hadapanku," jawab Angelina lembut, membuat Alan seketika menoleh. Pria itu memberi tatapan yang sulit diartikan ke arah Angelina. Mendengar ucapan wanita yang berbaring lemah membuat Alan semakin merasa bersalah. Karena selama ini ia telah mencintai wanita pendusta.
__ADS_1
Akan tetapi saat ini ia boleh bersikap dan berpikir lebih tenang. Karena, pengacara telah mengurus semuanya. Bukan hanya karena atas dorongan dari keluarga, akan tetapi dirinya sendiri juga merasa, setelah berpikir lebih baik mengakhiri hubungan pernikahannya dengan Lilian. Untuk apa lagi, mempertahankan hubungan jika diawali dengan kepalsuan dan kebohongan.
"Kenapa kau berkorban sebegitu besar? Membuatku menjadi pria paling bodoh di dunia ini. Kau bahkan hampir mencelakai dirimu sendiri, An," tukas Alan. Karena dirinya benar-benar tidak habis pikir, apa yang saat itu dipikirkan oleh Angelina. Hingga, wanita yang ia tahu memang berhati baik ini mau melakukan pengorbanan seperti itu.
Semua proses tersebut berjalan cepat dan mudah karena uang. Meskipun tanpa campur tangan dari Damian. Kedua orangtuanya juga sama kecewa dengannya. Akan tetapi, demi hubungan baiknya dengan Lionel selama ini. Damian menyerahkan hukuman yang setimpal untuk Meriam, kepada kawannya itu.
Damian yakin jika Lionel yang notabene selama ini sangat menyayangi Angelina, pasti akan memberikan hukuman yang sepadan kepada istri yang dan juga putrinya itu. Terbukti, ia telah membawa keluarganya mengasingkan diri ke tempat yang jauh.
Alan semakin merasa bersalah pada Angelina seiring dengan benci kepada Lilian dan juga ibunya yang selalu bertambah. Karena, selama beberapa tahun ke belakang, Alan justru memperhatikan wanita yang salah. Sementara, Angelina menahan penderitaannya sendirian.
"Tidak, Al. Kau tidak boleh membenci kak Lilian setelah tau semua ini. Aku mohon," pinta Angelina yang seketika membuat Alan kembali merasa kesal saat nama itu disebut.
"Kamu bahkan masih memikirkan perasaannya. Hatimu terbuat dari apa?" gemas Alan.
__ADS_1
Sementara itu di tempat yang berbeda.
Hingga, kita lihat Lionel berdiri dengan kepala tertunduk di depan makam adiknya itu. Mengungkap penyesalannya karena tidak bisa menjaga titipan sang adik dengan baik. "Aku siapa mendapat hukuman apapun dari semesta. Aku bahkan tidak punya muka untuk menemui keponakanku," lirih Lionel di depan makam. Setelah puas, pria paruh baya yang masih tegap itu berjalan menjauh.
Masuk kedalam mobil dimana terdapat istri dan anaknya dengan tangan masing-masing yang di borgol ke pegangan yang berada di atas jendela mobil. Lionel, mengabaikan tatapan dari istrinya yang sinis. Setelah, dirinya mengunci semua pintu mobil dari dalam. Maka, ia menyerahkan kunci borgol tersebut kepada Lilian.
"Lian cepat ambil kuncinya dari papamu yang gila! Keterlaluan! Anak istri sendiri di borgol!" marah Meriam.
Lilian yang sedang menatap nanar ke arah luar melalui jendela mobil, tiba-tiba tersentak kaget kalau mendengar teriakan dari Meriam. "Jangan berteriak, Ma. Ini semua tidak akan terjadi kalau Mama tidak pernah mencoba untuk kabur dan mencelakai Angelina. Semua ini ulah Mama!" Lilian dengan kesal membuka kunci borgol ditangannya, kemudian lanjut ke tangan Meriam.
Lionel hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas panjang setelahnya. Dosa apa yang telah ia lakukan hingga mendapatkan seorang istri yang ambisius dan setengah gila ini.
...Bersambung ...
__ADS_1