Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 31. Dua Garis Itu, Tanda?


__ADS_3

Sang dokter pun hanya memeriksa tensi, denyut nadi dan retina saja. Karena Alan menatapnya dengan sangat tajam. Salah sedikit saja mungkin, nyawanya akan sampai di tenggorokan. Sang dokter seakan menahan napas. Baru kali ia memeriksa pasien tapi di batasi seperti ini.


"Tensinya sangat rendah. Serta denyut nadi dan saturasi oksigennya tidak stabil. Saran saya, sebaiknya anda bawa nyonya muda periksa ke dokter kandungan," usul dokter tersebut.


"Apa? Kandungan? Kenapa?" cecar Alan bingung. Ia seperti tak asing dengan kata dokter kandungan ini. Tapi, setaunya, dokter tersebut hanya spesialis untuk memeriksa wanita yang hamil.


"Ada kemungkinan istri anda hamil. Ya tapi itu baru kecurigaan saya saja," ucap sang dokter lagi. Ia memasukkan alat medis dan bersiap untuk pergi.


"Hei, mana obatnya? Kenapa kau tidak menyadarkan dia!" cetus Alan. Dia bingung kenapa dokter sudah mau pergi. Padahal Angelina masih tak sadarkan diri. Percuma dia panggil dokter jika begini. Pikir Alan.


"Maaf Tuan, saya tidak berani memberikan obat apapun. Karena, jika benar nyonya sedang hamil ... maka obat yang boleh dikonsumsi itu harus resep khusus," tambah dokter itu lagi.


"Roy, cepat hubungi dokter kandungan! Harus wanita!" titah Alan. Membuat sang asisten langsung menunduk dan keluar bersamaan dengan dokter yang ia bawa.


"Saya ada kenalan. Ini nomer teleponnya, anda bisa menghubungi dia!" Dokter tersebut memberikan kartu nama dokter kandungan kenalannya di rumah sakit yang sama. Sehingga hal tersebut membuat Roy sedikit tenang. Ia pun langsung menghubungi. Kebetulan, hari ini waktu libur sang dokter. Dengan iming-iming bayaran yang besar, dokter tersebut langsung setuju.


Sementara itu di kamar, Alan bingung harus melakukan apa. Melihat wajah pucat Angelina ia sungguh tidak tega. Membayangkan istri di atas kertasnya itu tinggal sendirian tanpa keluarga. Membuat hatinya seakan teriris.


Wanita yang sedang tak sadarkan diri itu, sudah menjadi sahabatnya yang baik dan selalu memiliki banyak waktu luang untuknya. Selalu dapat membuatnya tertawa di tengah kesedihan. Alan ingat betul, hanya Angelina yang ada di sisinya kala ia terpuruk beberapa tahun lalu.


Meskipun, ia memiliki, Lilian sebagai kekasih, tapi akan merasa lebih leluasa untuk curhat kepada Angelina saja. Karena itulah, wanita ini lebih banyak mengetahui hal tentang dirinya ketimbang siapapun.


Alan mendekati Angelina, menatap wajah pucat itu dalam. Tanpa yang memerlukan tangannya ke depan, membenahi anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah Angelina.


"Kasian, apa kamu kelelahan sehingga menjadi seperti ini. Bangunlah, kau semakin membuatku merasa bersalah. Sebenarnya, kejadian pada malam itu sama sekali tidak bisa ku ingat. Satu hal yang aku tau, bahwa secara tidak langsung aku telah menyakiti sahabatku sendiri. Aku telah merusak masa depanmu. Tapi, aku tidak bisa meneruskan pernikahan kita ini. Aku tau, kau juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Kesalahanku begitu besar padamu. Maafkan aku," ucap Alan lirih.

__ADS_1


Pria ini terus mengusap kening dan juga pipi Angelina. Ada rasa aneh yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Hingga jemari tangannya tak sengaja menyentuh bibir milik Angelina yang tipis berbentuk tapi pucat. Alan semakin merasakan desiran aneh itu mengalir ke setiap aliran darahnya, hingga ia merasakan hangat bersarang tiba-tiba dalam dadanya.


Alan memajukan wajahnya, ia reflek hanya saja mengikuti apa kata hatinya. Menempelkan bibirnya pada kening Angelina. Mengecup dalam dan agak lama. Seiring dengan penyesalan yang terucap dalam hati.


"Bangunlah. Jangan membuatku semakin merasa bersalah," ucap Alan lagi setelah ia menjauhkan wajahnya. Namun, Alan masih menatap wanita itu lekat.


Ia pun teringat sesuatu dan kemudian mencari di sekitar meja rias Angelina. Aroma terapi. Alan pun mengoleskannya ke bawah hidung wanita yang terbaring lemas itu. Angelina, mulai sadar. Namun pergerakannya malah lemah.


Tak lama kemudian, Roy mengetuk pintu kamar dengan wanita kisaran usia tiga puluh lima tahun mengekor di belakangnya.


"Tuan ini dokter kandungannya," ucap Roy. Alan. pun segera memberi isyarat agar pria itu keluar.


"Cepat periksa istri saya. Sejak tadi tak sadarkan diri!" titah Alan tegas. Ia pun beringsut dari sisi tempat tidur.


Dokter wanita langsung mengeluarkan alat medis, mulai memeriksa Angelina dengan membuka beberapa kancing baju bagian atasnya. Alan sempat membuang muka. Meksipun, sah-sah saja ia melihat tubuh Angel karena wanita itu pun istrinya. Tapi, Alan merasa ia tak berhak untuk melakukan itu.


"Urine? Untuk apa?" tanya Angelina lemah. Ia nampak memegangi kepalanya yang terasa berat dan nyeri. Alan berniat mendekati tapi dia urungkan.


"Mari saya bantu anda turun dan ke kamar mandi. Nanti isi urine anda ke dalam tabung kecil ini. Setelah itu masukkan benda ini hingga terendam, setelahnya bawa kembali kepada saya," tegas sang dokter.


"Baiklah, sa–saya mengerti," ucap Angelina. Seketika hatinya mendadak was-was. Dadanya berdegup kencang. Ia bangun perlahan dari tempat tidur dan berniat jalan ke kamar mandi. Tapi, baru satu langkah ia sudah terhuyung kembali.


"Angel!" Alan yang kaget langsung menghampiri dan meraih tubuh lemah istrinya itu.


"Sebaiknya, anda temani istri anda ke kamar mandi. Takut jatuh, lebih bahaya lagi," saran dokter tersebut.

__ADS_1


"Aku antar," ajak Alan. Mau tak mau Angelina pun menunduk. Akan tetapi, ia menghentikan pria itu ketika ingin ikut masuk.


"Kau cukup sampai sini Alan!" tahan Angelina dengan tatapan tajam sayu.


"Tapi kan --," Alan hendak menolak karena ia khawatir. Namun, setelah ingat apa yang akan terjadi di dalam ia pun menurut. "Baiklah, aku tunggu di depan, panggil aku jika kau butuh," ucap Alan kemudian. Angelina, mengangguk kemudian menutup pintu.


Beberapa saat kemudian.


"Kenapa dia lama sekali?" tanya akan pada dokter tersebut.


"Kenapa anda tidak ikut ke dalam, Tuan?" heran dokter itu.


"Hah, i–itu ...," Alan tak bisa menjawab ia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Matanya masih mengawasi pintu kamar mandi, berharap istrinya itu segera keluar.


Ia tak tahan lagi, memutuskan untuk menggedor pintu. Baru saja tangannya melayang ke atas. Klek!


Terdengar suara kunci pintu, yang di putar dari dalam.


"Kau kenapa lama sekali. Membuatku khawatir saja," sungut Alan seraya menuntun Angelina keluar.


"Aku bisa jalan sendiri." Angelina menepis tangan Alan. Tapi pria itu tetap memaksa memeganginya. Ia pun hanya bisa pasrah.


Angelina pun menyerahkan benda berbentuk pipih panjang tersebut. Kemudian dokter langsung tersenyum ketika melihat terdapat dua garis di sana.


Kenapa dia tersenyum?

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2