Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab 16. Lilian Bicara Dengan Angel.


__ADS_3

Meriam lantas melepaskan cekalan tangannya pada lengan Angelina. Ia mengurungkan niat untuk menindas keponakannya itu Padahal, ini adalah hari dan waktu yang ia nantikan. Sayang, sebuah suara dari putri kesayangannya seketika menggagalkan itu semua.


Meriam dengan cepat mengubah ekspresi pada wajahnya. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap bahu Angelina. Ketika ekor matanya menangkap jika Lilian telah berada di belakangnya.


"Ma, Angel ... kalian--" Lilian heran karena keduanya nampak akrab. Padahal tadi pagi, mamanya nampak begitu membenci Angelina. Hal itu membuat senyum terbit di wajah cantiknya. Tanpa ia ketahui apa yang sebenarnya terjadi diantara dua orang di hadapannya ini tadi.


"Angel, aku--"


"Aku keatas duluan, Kak," pamit Angelina. Ia tersenyum sekilas. Menunjukkan bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Walaupun tidak bisa kembali seperti di awal lagi.


Lilian hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia ingin semua kembali seperti awal lagi. Hubungannya dengan Angelina yang begitu dekat kala itu. Bahkan, sebelum ia dan Alan mengucap janji pernikahan. Angel dan dirinya masih tertawa bersama saling berpelukan erat.


Lilian masih ingat, ketika mereka bercanda soal malam pertama pengantin. Siapa sangka, jika malam pertamanya dengan Alan menjadi serunyam itu. Sejak saat itu, hidupnya seperti di putar balikkan dengan cepat.


"Sudah jangan memikirkan hal lain. Pertahankan Alan agar tetap berada didalam pelukanmu. Pernikahan mereka berdua hanya di atas kertas. Angelina tidak berhak merebut Alan darimu. Pernikahan mereka tidak diinginkan. Bahkan Damian Jackson tidak menganggapnya sebagai menantu," tutur Meriam. Menenangkan putrinya yang terlihat risau. Padahal pikiran keduanya sangat bertolak belakang.

__ADS_1


Bagiamana pun, Lilian tetap memikirkan bagaimana perasaan dari sepupunya itu. Mereka telah bersahabat sejak SMU. Dalam semalam semuanya hancur dan meninggalkan bekas luka yang begitu perih. Meskipun, keduanya tak ada yang berniat menyakiti salah satunya.


"Aku harus bicara padanya, Ma," ucap Lilian, hendak berlalu meninggalkan meriam di ruang tamu.


"Tidak perlu!" Meriam menarik lengan Lilian untuk menahannya agar tetap disini.


"Sebaiknya kau kunjungi rumah mertuamu. Kau bawa kue atau parsel buah kesana. Tunjukkan bahwa kau adalah menantu mereka yang terbaik," usul Meriam. Ia tak ingin hanya Lilian yang dianggap sebagai menantu satu-satunya.


"Tapi, Ma. Aku dan Angel belum bicara sama sekali. Aku hanya ingin bilang padanya, bahwa aku samasekali tidak membencinya. Aku--"


Satu yang ia harapkan, Alan segera menceraikannya, sehingga Lilian menjadi istri satu-satunya, pewaris kedua perusahaan, Jackson Corporation.


"Baik, Ma." Lilian pun memilih menuruti apa kata Meriam. Ia naik ke atas namun tetap menemui Angelina. Tentunya seusai membersihkan diri.


"Ange! Boleh aku masuk?" panggil Lilian setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi gak ada jawaban dari sang empunya kamar.

__ADS_1


"Kemana dia? Tidur kah, sampai tidak mendengar panggilanku?" gumam Lilian yang berdiri terpaku dalam keraguan. Karena tangannya hendak memutar knop pintu. "Terkunci?"


Ya, sejak kejadian malam itu, Angelina selalu mengunci kamarnya. Ternyata, Angelina bukan tidak mendengar adanya suara ketukan di pintu kamar. Akan tetapi, dirinya justru sedang sangat bingung pada saat ini. Antara menyambut kedatangan Lilian ke kamarnya atau ia pura-pura, tidur saja.


"Haih, bagaimana ini? Bicara apa nanti dengan kakak? Aku belum bisa berada dekat dengannya. Aku ini saudara dan sahabat yang jahat. Aku--"


Tok tok tok!


Lagi-lagi, pintu kamar kembali di ketuk. Tak lama kemudian, senyum tercetak di wajah Lilian. Ketika ia melihat sosok wajah yang sebenarnya ia rindukan. Rindu bercanda dengannya seperti dulu lagi. Sebuah takdir yang lucu. Kini sepupunya ini tanpa sengaja telah menjadi madunya.


"Kak," panggil Angel pelan. Ia bahkan tak berani menatap wajah Lilian.


"Aku ingin mengajakmu mengunjungi rumah Mommy dan Daddy mertua," ucap Lilian dengan seulas senyum.


Kau bahkan masih bisa tersenyum padaku, Kak. Apa sikapmu masih sama jika kau tau perasaanku yang sebenarnya?

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2