Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 26. Laksana Cermin.


__ADS_3

"Jadi Angelina telah keluar dari rumah ini. Keterlaluan. Kenapa dia tidak memberitahukannya padaku. Bagaimanapun aku ini adalah suaminya. Meskipun kita menikah karena kecelakaan. Meskipun selama ini aku telah ... mengabaikannya. Sial!'


Alan memberi remasan kasar pada rambut pirangnya yang sedikit gondrong. Kelakuannya itu tak luput dari perhatian Lilian, istrinya.


"Kenapa, Al. Kau juga kaget?" cecar Lilian. Ia menatap penuh selidik ke arah suaminya itu.


"Tentu saja aku kaget, Li. Sebelum kepastian itu aku dapatkan. Dia tidak boleh jauh dari pengawasanku. Bagaimanapun, Angel masih tanggung jawabku. Dia sahabatku, yang aku rusak masa depannya," lirih Alan. Penyesalan itu selalu menekan dadanya. Sampai kapanpun ia merasa bersalah pada Angelina. Karena itu, Alan tidak kuasa untuk berhadapan dan bicara pada Angelina. Karena hanya akan terus menekannya dengan rasa bersalah.


"A–aku juga Al. Sebagian sepupu dan juga sahabat. Kami terbiasa bersama selama bertahun-tahun. Namun, saat ini ia pergi tanpa memberitahuku. Ku rasa, Angelina kecewa pada kita. Kita harus menjelaskan padanya. Bahwa selama ini kita berdua sama sekali tidak bermaksud untuk melupakan kehadirannya. Ayo, Alan. Kita susul dia!" pinta Lilian seraya merangkul lengan Alan dengan posesif.


"Hubungi dia. Tanya dimana alamat tempat tinggalnya sekarang," saran Alan.


Lilian langsung mengambil ponselnya dari dalam laci nakas. Ia langsung menghubungi kontak Angelina. Tapi, nihil. Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Itulah jawaban yang ia dengar dari operator.


"Tidak tersambung. Semua jalur tidak ada yang aktif. Dari aplikasi hijau, biru semua tak bisa di hubungi. Bagaimana ini?" ungkap Lilian mengutarakan kebingungannya.


"Apa dia sengaja ganti nomer ponsel?" gumam Alan yang masih bisa di dengar oleh Lilian.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Nomer yang Angel pegang sudah dua belas tahun. Nomer itu ia gunakan semenjak sekolah menengah pertama," jelas Lilian.


Obrolan itu terus berdengung di kepala Alan. Sudah hampir satu pekan Angelina pergi dari kediaman Cole. Entah kenapa semenjak itu Alan merasa resah dan gelisah. Bahkan, untuk menjamah Lilian pun rasanya ogah. Ada sesuatu yang ia rasa hilang dari hidupnya. Bagaimanapun dirinya harus memastikan alasan dari kepergian Angelina.


Semua pasti berhubungan dengan orang tuanya. Terutama Daddy Damian. Karena itu, Alan memutuskan untuk menemuinya Damian di ruang kerjanya.


"Ada apa? Tumben!" sarkas Damian ketika melihat putra keduanya berdiri dengan wajah kaku di hadapannya. Memang putranya yang satu ini tidak ada sopan santunnya. Tak pernah ada di pikirannya meminta maaf atau apapun itu. Damian tidak lagi berharap banyak dari Alan. Satu hal yang penting baginya sekarang, putranya itu sudah mau ikut mengurus perusahaan itu saja.


"Apa yang Daddy katakan pada Angelina kala mereka kerumah? Jelaskan, Dad!" desak Alan seraya menatap tajam kearah Damian. Pria paruh baya yang masih tampak gagal dan perkasa di hadapannya ini membalas tatapannya dengan tak kalah menusuk.


Sejak dulu keduanya memang kenapa tidak pernah bisa akur. Sebenarnya mereka nampak bagaikan cermin. Memiliki sifat dan ego yang sama-sama keras kepala dan ingin menonjol. Sebab itulah tidak akan ada yang pernah mengalah di antara keduanya.


"Katakan yang sebenarnya, Dad! Karena semenjak pulang dari sana. Angelina keluar dari kediaman Cole! Dia pergi bahkan tanpa ijin dariku!" tekan Alan pada Damian.


Anak ini. Berani benar dia meneriaki ku! Kalau bukan karena Katie, sudah ku gilas kau sejak lahir! Ternyata perasaanku sejak saat itu benar. Anak ini akan menjadi penentang dan pembangkang yang perlahan membuat tekanan darah dan gulaku naik.


Damian menahan geram dan amarah dalam hatinya. Ia sengaja menyelesaikan permasalahan ini tanpa sepengetahuan Alan. Karena ia tau, putranya itu tak bisa diandalkan. Percuma saja.

__ADS_1


Lagipula, Alan tidak akan perduli meskipun Angelina pergi dari sisinya. .


Tanpa sepengetahuan Damian. Alan sudah lebih dulu membuat perjanjian kontrak pernikahan dengan Angelina. Hanya saja Alan tidak pernah memikirkan kenyamanan, kebutuhan Angelina serta bagaimana perasaannya ketika tinggal satu atap dengannya dan Lilian.


"Kenapa? Apa pedulimu padanya? seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah membuat kehidupan rumah tanggamu dengan Lilian lebih nyaman tanpa adanya istri kedua yang merupakan orang ketiga bagi kalian." Damian berkata dengan nada datar, juga dengan raut wajah tenang tanpa ekspresi. Namun, hal itu justru membuat Alan semakin kesal.


"Kenapa kau terus mencampuri urusanku! Bagaimanapun Angelina adalah istriku! Dan dia tanggung jawabku! Apa hak mu berkata macam-macam padanya!" Alan puas berteriak di depan wajah Damian. Hingga raut wajah pria paruh baya itu menjadi sekeras beton.


"Anak kurang ajar! Di sekolahkan tinggi-tinggi apa agar kau bisa berteriak padaku, hah!" Damian berdiri dari duduknya seraya menghentak meja.


"Aku tidak minta di sekolahkan jika ternyata hanya akan dijadikan spion untuk memperkaya dirimu!" jawab Alan sarkas.


Damian masih bertahan dalam amarahnya. Ia bersiap mendengar ucapan dari Alan selanjutnya. Dia ingin tau sampai dimana tingkat kekurangajaran Alan, putra yang sangat di sayang oleh Katie ini. Bahkan, putra pertamanya Adam juga turut membela.


"Jika kau ingin, aku akan membayar semua yang kau berikan agar aku terbebas dari kekangan ini!"


"Kau!" Damian menarik kerah jas Alan yang memang berdiri di hadapannya meski terhalang meja kerja. Satu tangannya melayang di udara.

__ADS_1


"Daddy!"


Bersambung


__ADS_2