
"Daddy! Tahan emosimu," ucap Adam yang masuk dan segera menahan tangan Damian. Hingga, pria yang merupakan ayahnya itu menepis kasar cekalan Adam. Damian, bahkan memberikan tatapan tak terima pada putra pertamanya itu.
"Kau, sama saja dengan Mommy-mu! Kalian berdua selalu membela anak nakal ini! Karena itu dia tidak pernah belajar dari kesalahannya! Tidak pernah sadar diri dan tau bagaimana caranya bersikap terhadap orang tua!" Damian bicara sambil mengeratkan kedua rahangnya, hingga urat lehernya serta kepala mencuat keluar.
Entah kenapa, setiap berbicara dengan Alan maka emosinya akan dengan mudah terpancing keluar. Putra keduanya itu, lama-kelamaan bisa membuatnya mati berdiri.
"Ada apa sebenarnya. Jika boleh tau?" tanya Adam mencoba melerai kedua orang pria berbeda usia yang memiliki rata-rata sifat dan tabiat yang sama. Ia tak bisa memihak kepada salah satu dari mereka. Karena Adam tau bagaimana hati kedua orang yang sedang saling menatap tajam ini.
"Kau tau, Kak. Daddy, telah membuat Angelina pergi dari rumah. Dia bahkan menyembunyikannya dariku! Bukankah tindakannya sudah kelewatan!" pekik Alan seraya menuding ke arah Damian. Sebelum, pria yang sedang mendengus itu kembali murka. Adam telah lebih dulu menurunkan jari telunjuk Alan.
"Sabar. Tahan emosimu. Daddy pasti ada maksud lain. Mana mungkin, Daddy menyembunyikan istrimu," ujar Adam, berusaha menenangkan adiknya yang sifatnya temperamental, sama dengan pria dimana dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengannya.
"Bener kan, Dad? Kau tidak sedang menyembunyikan istri kedua Alan?" cecar Adam. Karena di sebenarnya juga cukup bingung terhadap apa yang tengah terjadi dengan kedua orang ini.
"Istrinya? Apa dia pantas menganggap wanita yang sudah ia hancurkan masa depannya itu sebagai istri? Sementara, dia saja bahkan tidak pernah memikirkan tanggungjawabnya. Apa pernah memberi nafkah pada Angelina? Apa kau sudah adil terhadap sikapmu selama ini padanya? Daddy hanya membantunya untuk tidak mendzolimi anak orang! Jangan sampai rusak bertambah jelek karena kelakuannya yang jahat!" sarkas Damian, tak lupa ia menunjuk jarinya kedepan muka pucat Alan.
Karena, kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Damian, ternyata memang ada benarnya juga. Alan baru menyadari jika selama ini ia telah berbuat tidak adil terhadap Angelina, yang merupakan istri keduanya. Ia hanya terus memikirkan bagaimana perasaan Lilian. Padahal, dalam posisi ini, tentu saja Angelina yang paling dirugikan.
"Tapi, tapi tindakan Daddy sudah kelewatan. Aku yang lebih berhak atas Angelina ketimbang siapapun! Sekarang katakan dimana dia!" teriak Alan lagi. Pria ini benar-benar tidak mampu menahan emosinya bahkan terhadap orang tuanya sekalipun.
"Jangan berteriak pada orangtua." Adam memberi tekanan pada dada Alan, menggunakan telapak tangannya. Ia mendorong pelan tubuh adiknya itu agar duduk. Hal yang sama pun ia lakukan pada Damian. "Duduklah kalian berdua! Tarik napas dan hembuskan perlahan. Tidak baik, berbicara dalam keadaan emosi. Sebaiknya, redakan dulu amarah kalian, baru bicara lagi," tambah Adam.
Ia benar-benar bijaksana, mampu meredam pertikaian yang sering terjadi dan melibatkan antara Alan dan juga sang Daddy.
__ADS_1
Mau sampai kapan aku jadi wasit. Bahkan sudah menikah pun kau tetap seperti ini Alan. Lalu kapan aku punya waktu untuk mencari pasangan jika seperti ini terus. Apa jadinya, jika saja aku tidak hadir tepat waktu? Apa kalian akan saling memukul?
Adam memijat pelipisnya dan menghela napas. Karena beberapa saat tadi, ia seakan menahan napasnya.
"Berikan alamatnya, Dad. Biar aku yang mendampinginya. Percayalah," ucap Adam mencoba merayu Damian. Ia bahkan menyentuh dan sedikit menekan bahu daddy-nya itu sebagai ungkapan bahwa dirinya bisa di andalkan.
"Apartment Krisan Park Avenue. Lantai dua puluh empat." Damian menjawab tanpa menoleh, namun ia melirik melalui ekor mata ke arah Alan. Nampak, putranya itu menarik surut bibirnya sedikit ke atas.
Lalu sang putra bangkit dari duduknya. Tanpa bicara ia berniat berlalu keluar ruangan. Adam hanya bisa menghela napas kembali melihat perangai adik laki-lakinya itu.
"Jaga emosimu, Dad. Ingat tekanan darah dan juga insulinmu. Mulailah, hadapi Alan dengan lembut, semakin kau tekan maka dia akan semakin keras. Ku mohon," ucap Adam menepuk punggung Damian yang hanya diam mendengar nasihat dari putra pertamanya itu.
Kemudian, Adam pun berlalu meninggalkannya yang terus mendengus kasar. "Aku, mengalah pada Alan? Tidak mungkin! Aku tidak akan mengalah pada anak itu! Enak saja!" Damian mengoceh kesal sendirian sambil memukul-mukul mejanya.
Sementara itu, di apartemen.
Kosong.
Karena, Angelina malah berada di kantornya.
Adam mendengus menatap sang adik yang bolak balik didepan pintu apartemen milik Angelina. Ia mendengus kasar. Bodoh! Umpatnya entah pada siapa. Mungkin, dirinya sendiri.
"Diamlah! Kepalaku pusing melihat kau mondar-mandir begitu. Bagiamana jika keberadaan kita justru di curigai!" protes Adam pada adiknya yang macam setrikaan panas.
__ADS_1
"Kenapa kita bodoh sekali, Kak! Ini kan masih jam kerja. Mana ada Angelina di rumahnya." oceh Alan sambil mengacak gemas rambutnya sendiri. Badan besar berjalan mondar-mandir sambil mengomel dan mengacak rambut. Sungguh pemandangan yang lucu bagi Adam. Pria maskulin yang cool ini tak tahan untuk tidak tertawa.
"Susah kau diamlah! Semua ini karena ulahmu yang selalu terburu-buru. Aku jadi ikutan bodoh sepertimu!" seru Adam. Ingin rasanya ia melempar sepatutnya hingga mendarat di kepala adiknya itu.
Mereka dua eksekutif muda yang nampak bodoh karena terlihat mondar-mandir sudah sejak setengah jam yang lalu di depan kediaman orang lain.
Dua pihak keamanan mendatangai keduanya. Benar saja, kekhawatiran yang sempat singgah di kepala Adam pun menjadi kenyataan. Perbuatan mereka nyatanya memang pantas untuk dicurigai. Ini semua terjadi karena alam tidak mau diajak balik. Adiknya yang notabene keras kepala itu tetap bersikukuh untuk menanti kepulangan dari Angelina.
"Maaf, bisa tunjukkan identitas kalian!" tegur salah satu penjaga yang telah berada di hadapan Adam dan juga Alan.
"Untuk apa? Saya hanya sedang mengunjungi apartemen istri saya!" dalih Alan yang tidak mau menunjukkan tanda pengenalnya. Padahal, Adam sudah hendak mengeluarkan dompetnya. Tapi, adiknya itu justru melakukan tindakan tanpa persetujuannya terlebih dulu. Selalu gegabah tanpa berpikir dan berencana.
"Kalau memang begitu Kenapa kalian berdua tidak masuk saja? Kenapa harus mengganggu kenyamanan dari penghuni apartemen yang lain?" cecar petugas keamanan itu lagi. Tentu saja membuat Alan seketika kehabisan kata-kata. Adam hanya bisa memukul keningnya.
Badan saja besar. Tapi Otakmu macet Al!
Geram Adam, dalam hati merutuk sikap adiknya itu. Ia pun menghampiri sang petugas keamanan. Memasang wajah berwibawanya yang cool.
"Apa yang adik saya katakan benar. Hanya saja istrinya ternyata ada lembur dadakan di kantor. Mau pulang lagi, tapi kami berdua sudah terlanjur sampai di sini. Ini, kartu nama saya. Silakan cek." Adam berbicara dengan penuh percaya diri, tapi tidak semudah itu. Kedua penjaga saling lirik. Kemudian mereka tersenyum miring.
"Pelaku kriminal yang menggunakan kartu nama palsu dan jas sewaan seperti kalian ini, bukanlah hal baru. Jadi, jangan coba-coba mengelabui kami!" Sang penjaga sudah mencengkeram salah satu lengan Adam, kemudian Alan mendorongnya. Hingga terjadilah aksi dorong mendorong.
Kawan penjaga tersebut mengeluarkan tongkat dan melayangkannya untuk memukul, tepat di belakang bahu Alan.
__ADS_1
...Bersambung ...