Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab 14. Mengulik Perasaan Alan


__ADS_3

Alan terdiam mendengar usulan dari Adam. Saran tesebut ia akui, cukup brilian. Setidaknya, ia tenang jika masa depan Angelina pasti akan terjamin. Angelina bisa keluar dari rumah ini DNA mendapat tempat tinggal yang sangat layak. Apalagi Alan tau jika sang kakak adalah pengusaha yang kompeten. Tidak seperti dirinya. Karena Alan masih meraba di dunia bisnis management ini.


"Kenapa diam? Kau setuju kan? Atau, kau--?" Adam menatap intens penuh selidik ke arah sang adik.


Bukan tak mau mengiyakan, tapi Alan merasa aneh. Kenapa hatinya seakan tidak sinkron dengan otaknya? Kenapa ia tidak mengangguk semudah bayangannya. Bukankah ia berharap jika Angelina tidak hamil karena perbuatannya. Sehingga, ia dan Lilian dapat membangun rumah tangga yang damai seperti impian mereka sebelumnya.


"Terserah kau saja. Karena satu hal yang pasti. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan lebih selain sebagai seorang sahabat. Ku rasa, semua keputusan ada padanya. Mungkin, aku akan cukup tenang jika pria yang mau menerima keadaannya adalah kau. Karena aku takut, karena perbuatanku, dia--" Alan tak meneruskan ucapannya. Rasa bersalah itu kembali muncul dan menikam jantungnya dalam.


Seakan dirinya turut merasakan bagaimana hancur perasaan Angelina. Ketika masa depan yang telah ia rencana sedemikian rupa hancur begitu saja.


"Dia, mempunyai mimpi. Dimana bagiku itu adalah keinginan sederhananya yang sangat manis," ucap Alan pelan. Ia berjalan mendekati jendela dengan posisi kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku. Sementara, lengan panjang kemeja telah ia gulung hingga siku.


"Keinginan apa?" selidik Adam. Pria berjambang ini, yang hanya lebih dewasa tiga tahun ketimbang sang adik. Terlihat mengekori Alan. Tinggi serta postur tubuh mereka hampir sama. Hanya berbeda bobotnya saja. Alan lebih berat ketimbang Adam. Karena itu postur Alan bisa di bilang kekar. Sedangkan Adam hanya atletis.


Alan menoleh sebentar ke arah saudara kandungnya itu. Dimana di saat ayah keduanya selalu membandingkan mereka sejak kecil, namun Adam sama sekali tidak pernah besar kepala apalagi berlagak sombong di depannya. Pria di sampingnya ini sungguh dewasa dan bijak. Mungkin, alangkah baiknya jika memang Angelina bersamanya saja. Inilah isi pikiran dalam kepala Alan Jackson.


"Wanita itu, ingin memiliki sebuah rumah minimalis dengan taman dan kolam renang kecil. Lalu ada ayunan dan perosotan. Dimana gelak tawa nyaring dari anak-anak kecil saling bersahutan. Dia suka memasak. Membahagiakan orang lain melalui perut mereka. Menjamin bahwa kau memiliki cukup energi untuk memulai aktifitas," tutur Alan dengan sesekali tersenyum. Tapi, nampaknya pria ini tidak menyadari hal itu. Alan tidak pernah sadar bagaimana ekspresinya ketika menceritakan tentang Angelina.


Dan, Adam menangkap itu semua dengan matanya. Hingga, sudut bibir pria ini tertarik ke atas menciptakan seulas senyum yang miring.

__ADS_1


"Kalian sudah bersahabat sejak lama. Pasti, kau dan dia sudah tau bagaimana kebaikan dan juga keburukan dari masing-masing. Kenapa kau tidak rengkuh saja keduanya. Ku rasa, kau bisa membahagiakan mereka berdua," ucap Adam membuat Alan menoleh cepat ke arahnya.


Bahkan, Alan juga memiringkan tubuhnya yang kekar itu. Kancing kemeja bagian atasnya telah terbuka satu. Sehingga menampilkan dada bidang dengan sedikit bulu halus.


"Apa kau waras? Bagaimana bisa aku membagi cinta ku pada mereka. Aku, tidak bisa menyakiti salah satu dari keduanya. Dan, aku takut jika hati ini akan condong kepada salah satunya. Mereka bersaudara, dan perbuatan bodohku hampir saja merusak hubungan darah itu." Alan berkata tegas menentang usulan yang menurutnya gila dari Adam.


Anehnya, Adam justru terkekeh. Sama sekali tidak merasa bersalah karena telah mengutarakan ide yang tidak masuk akal terhadapnya.


"Tapi, kenapa aku merasa kau akan berat melepaskan Angelina," tukas Adam. Dengan alis yang terangkat. Pria ini benar-benar tengah mengorek isi hati Alan yang sebenarnya.


Kau tidak menyadari perasaanmu sendiri adikku. Ada sesuatu hal yang menutupi itu semua. Ku harap kau tidak akan pernah menyesal karena telah melepaskan Angeline untukku. Karena, jika Wanita itu sudah berada dalam pelukanku. Maka Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi selamanya meskipun kau memintanya dengan cara apapun.


"Apa maksudmu? Aku tidak akan berat jika memang Angeline tidak hamil. Dan, aku sangat berharap jika itu tidak terjadi. Dia sudah cukup terpukul dengan kejadian malam itu. Aku tidak ingin hasil perbuatanku kembali membebani mentalnya," tutur Alan. Karena ia paham benar apa mimpi Yang tengah dirancang oleh Angelina.


"Kita lihat saja nanti bagaimana takdir menetapkan semuanya pada kalian. Kau tenang saja. Sebagai seorang kakak aku akan siap sedia membantumu," ucap Adam seraya melempar senyumnya yang penuh kharisma itu.


"Kenapa? Kenapa kau sejak dulu peduli padaku? Apa aku ini terlihat begitu menyedihkan bagimu?" ketus Alan. Ia merasa jika Adam sejak dulu selalu berusaha melindunginya. Tapi untuk apa? Apa yang sebenarnya Adam inginkan? Begitulah isi didalam kepala Alan.


Di luar dugaan. Adam justru tertawa terbahak-bahak. "Kau ini lucu. Kenapa mempertanyakan hal sebodoh itu. Semua kakak, pasti akan memberi dukungan kepada adik mereka. Apalagi, kita ini hanya berdua. Kitalah yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keluarga ini, Al. Bersihkan isi otakmu dengan detergen!" Sekali lagi Adam tergelak sambil berlalu meninggalkan Alan yang melongo.

__ADS_1


___________


Sementara itu di gedung lain, nampak Angeline tak mampu lagi menahan gelak tawanya. Ia sungguh tidak menyangka jika pria seperti Miles ini takut dengan yang namanya dokter.


"Kau itu sungguh sangat konyol Miles!" Angeline masih tertawa sambil memegang perutnya.


"Haih, ku rasa donut yang ku makan barusan mau keluar lagi. Kau ini mengocok perutku," kekeh Angelina. Entah kenapa ia tertawa begitu lepas. Dan rasanya enak sekali.


Kau tertawa. Ini, pertama kali dalam hidupku melihat kau tertawa selepas ini. Teruslah begini. Aku rela menjadi pria bodoh dan badut bagimu. Asalkan dapat melihat kebahagiaan seperti ini lagi.


"Kamu ternyata cantik juga kalau sedang tertawa," celetuk Miles. Membuat Angelina seketika sadar. Ia pun menunduk sambil membenarkan kaca matanya.


Haiss, kenapa aku bisa lost control. Kenapa aku harus menertawakannya. Meksipun, hal ini ternyata cukup baik bagi jiwaku. Karena aku memang butuh pelepasan emosi. Tapi ... ah, semua sudah terlanjur. Bagaimana ini. Dia terus mendekat.


"Angel," panggil Miles seraya menyibak rambut yang menjuntai hingga menutupi wajah Angelina. Kemudian ia meraih dagu wanita di hadapannya ini agar mendongak. Tatapan mata keduanya pun saling bertubrukan. Miles, menatap bibir merah alami milik Angelina yang tertutup rapat. Hingga, ia memutuskan untuk mendekatkan wajahnya.


Tidak, Miles. Kau tidak boleh menyukaiku. Kau tidak boleh menyadari apa yang ada di balik wajah jelek ini. Tidak boleh!


"Miles. Ada nona Vero di belakangmu,"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2