Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 22. Keanehan Lilian.


__ADS_3

Kenapa justru Angelina yang lebih mengenal Alan ketimbang Lilian, istrinya. Bukankah, mereka sudah pacaran selama lima tahun?


Damian, mengernyit heran. Namun, sekilas saja. Karena pria itu pandai menyembunyikan perasaan serta ekspresinya. Demian adalah pria yang jeli dalam memindai situasi. Namun, ia menyimpan keraguannya ini seorang diri. Dan akan menyelidikinya nanti.


"Maaf, sayang. Aku tidak tau. Kenapa kau tidak menceritakan kejadian itu padaku. Ah, pasti karena kau tidak mau membuatku khawatir saja, iya kan?" ucap Lilian dengan suara yang di buat lembut dan lebih manja. Ia ingin nampak manis dan tidak boleh ada cacat sedikitpun di depan kedua mertuanya ini. Begitulah, yang pernah di ajarkan oleh Meriam, sang ibu.


"Sudah, tak apa. Aku juga minta maaf. Aku, memang tak mau membuatmu khawatir," sambut Alan. Ia mengusap lembut punggung tangan Lilian. Ia bahkan lupa, jika belum menceritakan hal itu kepada Lilian.


Tidak kusangka bahkan kau masih mengingatnya, Angel. Kenapa? Kau mengatakan? Bukankah setidaknya kau bisa membalas dendam padaku, jika aku sampai memakan ikan itu.


Alan sekilas memandang Angel, dan tatapan mereka pun saling bertabrakan beberapa detik. Sebelum akhirnya Angel menundukkan pandangan ke arah piring kosong di hadapan.


Aku benci berada di situasi seperti ini. Seandainya ada lubang ingin sekali aku masuk kedalamnya. Kau hanya nampak seperti orang bodoh Angelina!


Puas Angelina menggerutu seraya mengumpat dirinya sendiri di dalam hati. Ia bahkan berjanji, kejadian hari ini tidak akan boleh terulang lagi dalam hidupnya. Cukup sudah ia menjadi bulan-bulanan orang lain. Suatu saat ia akan menjadi dirinya sendiri dan dipandang tinggi berkat kemampuan dan kesuksesan yang diraihnya.


Selesai makan Alan pun mengajak kedua istrinya itu untuk pulang. Angelina dan Lilian pun berpamitan kepada kedua orang tuanya. Alan tidak ingin berlama-lama di sana karena ia tahu Angelina sangat tidak nyaman. Bagaimana pun mereka adalah sahabat sebelumnya. sehingga dirinya cukup tahu hanya dengan melihat gerak-gerik dan raut wajah Angelina.


Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran Lilian. Kenapa dia sengaja mengajak Angelina ke sini tanpa diriku. Entah Bagaimana tanggapan Daddy tadi. Apakah, Angelina mendapat kemarahan darinya atau tidak? Ada baiknya aku menanyakannya pada Angelina nanti.


Katie melambaikan tangan pada kedua menantu dan putranya itu. Ia berharap semua baik-baik saja. Ibu mana yang ingin melihat rumah tangga anaknya berantakan. Tak ada satu orang pun yang menginginkan kegagalan. Tak ada satu orang punya menginginkan musibah terjadi.


"Damian, apa yang kau bicarakan pada Angelina?"selidik Katie ketika ia sudah berada di dalam rumah mewahnya itu. Tapi, Damian hajau diam sambil tatap menatap intens layar laptop yang berada di atas pangkuannya.


"Itu urusanku, percuma juga jika kau tahu," jawab Damian datar.


"Tantu saja aku harus tau! Aku ini kan istrimu, Damian!" geram Katie. Bisa-bisanya Damian berkata seperti itu padanya. Minta di kurangi jatah sepertinya. Batin Katie kesal.


"Kau itu, terlalu memikirkan perasaan tanpa memikirkan konsekuensinya. Lagipula, apapun keputusanku nanti tidak akan merugikan siapapun. Justru, sekali lagi aku membantu putramu yang nakal itu menyelesaikan semua masalah yang dia perbuat," ketus Damian.

__ADS_1


Mereka, berdua akan selalu seperti ini jika membahas tentang Alan. Selalu saja sejak dulu tidak pernah berubah. Sekalipun Damian sengaja mengirim Alan sekolah keluar negeri. Sikap membangkang putranya itu tetap tidak bisa berubah.


"Tentu saja menghadapi masalah ini harus dengan perasaan. Kau ini tidak pernah mengerti bagaimana cara menghadapi putramu. Ingat Damian! Dia juga putramu! Jangan melimpahkan satu kesalahan kepadaku saja. Kau juga memiliki andil besar terhadap pembentukan sikap dan karakter dari Alan!" Katie tak tahan lagi untuk berkata lembut dan pelan. Sikap dari suaminya ini semakin lama semakin menyebalkan.


Katie pun pergi meninggalkan Damian setelah menghentakkan kakinya dengan keras ke atas lantai. Sorot matanya sangat tajam menusuk menyiratkan sebuah ancaman tak tertulis. Hingga, Damian sadar dan mulai meneguk ludahnya susah.


Sial! Dia pasti tengah merencanakan gencatan senjata padaku.


Damian berdecak, dan memutuskan untuk mengikuti istrinya itu hingga menuju lantai atas Di mana kamar mereka berada.


"Katie!" Damian berteriak memanggil istrinya sembari berjalan cepat. Ia tak mau jika kebutuhan biologis yang akan menjadi sasaran kemarahan dari istrinya ini.


Tapi Katie nampak tak peduli, bahkan ia seakan tak mendengar teriakan demi teriakan yang dilayangkan padanya.


"Urungkan apapun niat dan rencanamu padaku, atau--"


Brakkk!


"Dasar perempuan! Selalu saja hal itu dijadikan senjata!" Damian menggerutu sambil merasakan nyeri. Mungkin keningnya akan sedikit memar. Di belakang pintu, ternyata Katie meringis.


"Duh, pasti sakit. Kenapa tenagaku besar sekali. Pasti, Damian marah. Bagaimana ini? Keluar tidak ya? Tapi kan, aku sedang merajuk?" Katie bergumam dengan berbagai pertanyaan yang membuat dilema.


"Katie! buka pintunya! Keningku sakit dan sepertinya hidungku patah!" teriak Damian di depan pintu.


Di balik pintu Katie membekap mulutnya. Tanpa berpikir lagi ia pun segera membuka pintu kamarnya itu. Dan ...


"Akh, Damian!" Suaminya itu mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke atas kasur. Dan, Damian menindihnya sambil menatapnya geram.


"Berani ya!"

__ADS_1


Katie terlihat menyesal, tapi ia juga ingin tertawa karena melihat kening suaminya terdapat sebuah tonjolan karena ulahnya tadi.


"Maaf, aku tidak tau kau secepat itu ada di belakangku. Ya sudah minggir! Mau di obati tidak?" Katie berusaha menyingkirkan suaminya dari atas tubuhnya.


"Hanya demi anak kau sampai menyakitiku. Keterlaluan." Damian terus aja menggerutu, membuat Katie gemas dan mengoles salep dengan sedikit menekan.


"Hei! Kau--!"


Melihat ekspresi marah pada Damian, Katie lantas tergelak.


Punya istri kenapa tidak ada takutnya padaku. Apa wajahku ini kurang seram?


__________


"Angelina, tunggu!" Lilian hendak menghentikan langkah adik sepupunya itu yang juga merupakan madu dari suaminya. Tapi, gerakannya itu mengundang tanya dari Alan.


"Kenapa, Kak. Aku lelah. Jika ingin bicara nanti saja." Angelina pun berkelit. Ia menepis cekalan tangan Lilian pada lengannya.


Ada apa dengan Lilian? Sebelumnya, Bahkan dia tidak pernah berlaku kasar kepada Angelina. Apa yang sebenarnya sudah terjadi disana tadi.


Alan menyisir rambutnya kebelakang, dan mengacaknya pelan. Menyesali perbuatan kalian yang bertindak tanpa sepengetahuan dan izin dirinya. Bahkan, dengan beraninya Lilian berbohong. Alan pun melangkah dengan cepat menghampiri istrinya itu.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat khawatir, Li?" tanya Alan heran. Sebenarnya dia juga melihat jika lilin menyimpan amarah terhadap Angelina. Inilah yang sungguh sangat ia takutkan. Persaudaraan kata persahabatan keduanya perlahan akan rusak.


"Um, tidak ada sih. Aku hanya ingin tau saja soal ikan itu," dalih Lilian. Ia tak mungkin mengatakan pada suaminya bahwa adik sepupunya itu dipanggil oleh Daddy Damian.


"Kalau soal itu, Kenapa kau tidak bertanya padaku saja. Aku, akan dengan senang hati menceritakannya padamu," ucap Alan membuat Lilian tergagap.


Duh! Kenapa aku salah mencari alasan.

__ADS_1


"Itu, karena--"


...Bersambung ...


__ADS_2