Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab 6. Kerisauan Lilian


__ADS_3

"Kau memang bodoh!" Lilian berusaha bergerak, meskipun setelahnya ia meringis kembali. Alan yang mendengar langsung berbalik dan memegang pergelangan sambil menatap istrinya itu khawatir.


"Maafkan aku, karena sudah menggempurmu semalaman. Salah kau, siapa suruh begitu nikmat," goda Alan, kemudian ia melempar senyumnya pada Lilian. Seketika itu juga Lilian merasa panas pada kedua pipinya. Ia pun memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke samping.


Dia ini apa-apaan! Kenapa bicara se-frontal itu. Bukan hanya dia, aku pun menikmatinya. Meskipun hati ini sakit dan kesal. Huh, kenapa aku tidak bisa membencimu Alan? Kenapa aku malah menyerahkannya padamu. Kalau begini akan aku juga tidak bisa pergi begitu saja. Bagiamana jika aku juga hamil. Ya Tuhan. Kenapa semua menjadi serumit ini.


"Li. Kenapa melamun? Apa sangat sakit?" cecar Alan. Ekspresi di wajahnya terlihat begitu khawatir. Ia takut perbuatannya tadi melukai Lilian.


"Tidak bukan itu." Lilian berusaha menutupi perasaannya.


Alan menarik jemari Lilian kemudian mengangkatnya untuk ia dekatkan pada mulut, dan Alan mengecupnya lembut. "Lalu apa? Utarakan keresahanmu. Berbagilah denganku, Li," ucap Alan penuh permohonan. Rasa khawatirnya benar-benar tulus. Dan Lilian bisa melihat itu dari sinar matanya yang menatap lembut.


Alan. Seharusnya aku membencimu. Secara tidak disengaja kau telah mengkhianati ku. Kau menodai kesucian pernikahan dan cinta kita. Tapi, kenapa tatapan itu meluluhkan kembali hati dan membuyarkan seluruh tekadku? Aku tak mampu menolaknya. Menolak cinta dan ketulusan yang kau tawarkan padaku. Aku bodoh ya?


"Tuh kan, melamun lagi. Please bilang sama aku apa yang kamu rasakan saat ini? Apa kamu menyesal karena telah memberikannya padaku?"

__ADS_1


Lilian tak bergeming. Ia menatap nanar ke sembarang arah. Hal itu semakin membuat Alan khawatir. Pria itu merasa sangat bersalah. Dirinya tau, jika wanita yang ia cintai ini tengah menyimpan luka yang begitu dalam. Terlihat dari tatapan Lilian yang kosong dan berkaca-kaca.


"Maaf, seharusnya aku tidak memaksamu melakukannya. Seharusnya aku tidak mematahkan sayapmu yang ingin terbang. Lagi-lagi ini salahku. Sejak awal, semua memang salahku!" Alan memekik tertahan. Pria itu menyatukan kepala dengan lututnya dan ia nampak menekan dengan kedua tangannya dari samping.


Lilian tetap diam. Ia hanya menggigit bibirnya untuk menahan Isak itu. Ingin rasanya ia meraih kepala Alan dan meletakkan ke atas pangkuannya. Mengusapnya lembut menyalurkan perasaan cintanya. Akan tetapi, ucapan Alan benar. Seharusnya mereka tak berbuat penyatuan panas malam ini. Sampai, diketahui jika Angel tidak hamil karena perbuatan Alan malam itu.


Tapi, mau bagaimana lagi. Alan masih suaminya. Lilian juga, dalam lubuk hati terdalam ... jujur menginginkan sentuhan itu. Tapi, kenapa sekarang ia menyesalinya. Sehingga, menjatuhkan kesalahan itu pada Alan saja. Bukankah, ia menikmatinya juga.


Lilian mengulurkan tangannya pelan. Ia ingin sekali mengusap rambut ikal itu serta memberi remasan lembut di sana. Jujur, Lilian menyukai itu. Menyukai semua cara Alan ketika membuai dirinya.


Tidak! Apakah mungkin ketika menyatu denganku. Alan juga membayangkan Angelina? Tidak! Tubuhku kan, lebih kurus dibanding Angel. Sekarang, bahkan Alan sudah tau bagaimana rupa wajah Angel yang sebenarnya juga bentuk tubuhnya yang bagaikan gitar spanyol itu. Hanya saja Angel selalu mengenakan kaus kebesaran dan celana Jogger. Sedangkan aku--


Sehingga, kata-kata itu pun terlontar begitu saja. "Bagaimana rasanya ketika kalian menyatu? Apa senikmat denganku? Apa tubuhnya lebih indah dari milikku?" Lilian nampak melotot setelah berucap. Ia bahkan langsung membekap mulutnya sendiri.


"Sungguh, Li. Aku ,sama sekali tidak ingat ketika melakukannya pada Angelina. Saat itu aku berpikir bahwa itu kamu. Ah, aku memang bodoh Li. Minuman laknat itu telah membuatku lupa segalanya!" Alan kembali memberi remasan kuat pada rambutnya. Pria itu benar-benar kesal pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Seandainya pada saat itu aku menurut apa kata Daddy. Ah, sial! Lagi-lagi aku menunjukkan kebodohan di hadapannya. Fero, Axel. Awas kalian!


Alan mendengus kasar, ketika ia ingat dua nama kawannya itu.


___________


"Kita pasti mati, men! Pasti!" Seorang pria terus meracau sambil meneguk minuman beralkohol di atas meja sebuah bar. Di negara empat musim.


"Dia gak bakal ngejar kita, Fer. Tuh anak udah pasti sibuk dengan perkara dua istrinya itu." Pria lainnya justru terkekeh kala mengingat kelakuan mereka yang nyata-nyata telah membuat hidup beberapa orang susah.


"Heh. Axel! Lu kayak gak kenal siAlan aja! Tu anak kan nekat. Pokoknya, kita berdua pasti mati!"


"Halah! Dia harusnya berterimakasih sama kita. Hidupnya pasti bahagia, men! Secara kedua sahabatnya, udah jadi istrinya sekarang." Pria itu pun tergelak keras. Hingga sang bartender menggelengkan kepalanya.


___________

__ADS_1


"Baguslah. Kau tidak jadi pergi sayang. Mama tidak akan rela jika kamu yang mengalah. Karena, bukan kamu yang harus pergi, tapi anak dari Joseph dan Gina itu yang harus kalah. Kalau perlu, akan mama buat dia menyusul kedua orang tuanya pergi ke alam baka." Sepasang mata tajam ternyata memperhatikan gerak-gerik, Lilian sejak malam tadi dari jarak yang cukup tersembunyi.


...Bersambung ...


__ADS_2