
Lilian dan Alan yang masih sibuk beradu peluh di atas tempat tidur nyaman mereka. Seakan gelora dalam diri keduanya tidak pernah terpuaskan. Meskipun, penyatuan itu sudah dilakukan sejak semalam dan terulang lagi setelah fajar tadi.
Alan masih belum bisa melepaskan istrinya. Meskipun, Lilian terdengar beberapa kali merengek. Karena ia merasa masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan Angelina.
Bagaimanapun dirinya sangat penasaran tentang obrolan apa yang dibicarakan antara Demian dengan sepupunya itu.
"Lepaskan aku, Al. Sudah cukup. Aku lelah dan lapar. Apa kau ingin membuatku mati kelaparan campur kelelahan?" protes Lilian namun dengan suara yang lemah karena tubuhnya sudah sangat kehabisan tenaga.
Bahkan kedua matanya hanya bisa terpejam di balik selimut. Sementara, kedua tangan Alan masih aktif menjamah tubuhnya yang lengket. Lilian sudah mandi lagi, tapi Alan meminta haknya lagi.
"Maafkan aku sayang. Entah kenapa birahiku belum terpuaskan. Aku masih menginginkannya," jawab Alan parau. Pria itu tengah menahan hasratnya yang sudah berada di ujung tanduk.
Dia sendiri pun bingung entah kenapa geloranya ini tak habis-habis juga. Ia belum lelah, dan ingin menghabiskan semua hasratnya hingga ia lelah. Tapi, wajah Angelina mendadak muncul dan keinginan untuk melakukan penyatuan pun bangkit lagi. Alan, tidak mau mengkhianati Lilian. Hubungannya dengan Angelina hanyalah di atas kertas. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak akan pernah melakukan kontak fisik kepada Angelina.
Tanpa keduanya tau, bahwa Angelina kini telah separuh jalan menuju apartemen.
"Ternyata tempatnya bagus juga," gumam Angelina mengomentari keadaan di dalam apartemen. Sang sopir sudah pulang setelah membantu dirinya membawa koper dan barang lainnya ke lantai dua puluh lima ini.
"Wah, pemandangannya bagus juga. Meksipun kecil, setidaknya ada balkon untuk menjemur pakaian dan bersantai di malam hari." Angelina mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Ia menghela napas panjang seraya merentangkan kedua tangannya. Haaaah!
__ADS_1
"Sepertinya, aku akan betah. Selamat datang kehidupan bebas dan sendiri!" teriak Angelina di atas balkon. Hingga, nampak satu sosok pria menyembulkan wajahnya.
"Wah, ada tetangga baru rupanya!" teriak pria itu. Karena jarak mereka sekitar dua meter lebih.
Angelina langsung tergagap dan kikuk ketika perbuatannya diperegoki oleh orang lain apalagi itu seorang laki-laki. Tanpa menjawab Angelina segera masuk dan mengunci pintu yang menghubungkan balkonnya dengan ruang kamar.
"Huh, kenapa kau ceroboh sekali Angel!"
"Harusnya, kau lihat dulu ada orang lain atau tidak!" Angelina mengomeli dirinya sendiri. Kemudian ia pun mulai menata kamarnya. Meletakkan barang-barang bawaannya itu secara perlahan. Hingga tanpa terasa waktu sudah siang.
Angelina, merasakan lapar di perutnya. Ia ingat pesan dari supir tadi. Bahwa Damian sudah menyiapkan segala keperluannya. Karena itu Angelina memeriksa kulkas pertama kali.
"Wah, kulkasnya cukup besar." Angelina membukanya, pada saat itulah kedua matanya terbelalak. Ketika, isi kulkas tersebut sangatlah penuh dan komplit.
"Ma, Pa. Bahkan Angelina tidak pernah makan seenak ini semenjak tinggal dengan paman. Semua karena Bibi Meriam membatasi apa yang harus Angel makan. Tapi, ternyata Daddy Damian, ah maksudku, tuan Damian, beliau cukup perhatian. Dia menyiapkan semua ini untukku. Mulai saat ini, angle tidak akan menahan lapar lagi jika terlambat makan malam," Isak Angelina yang sudah terduduk di depan lemari pendingin itu.
Di kediaman Lionel Cole, bahkan lemari pendinginnya lebih besar dari ini. Jadi, isi di dalamnya pun jauh lebih banyak dari ini serta lebih beragam. Akan tetapi Angelina tidak bebas mengambil apapun yang inginkan sebelum mendapatkan izin atau perintah dari bibinya Meriam.
Angelina menghapus air matanya kemudian bangkit dan mengambil apa yang ingin ia makan dari dalam lemari pendingin tersebut.
"Aku akan membaut spaghetti bolognese dengan taburan keju mozzarella di atasnya. Pasti akan sangat lezat. Ahh ... aku sudah lama tidak makan ini." Saking senangnya Angelina sampai memeluk pasta yang terbungkus kardus panjang itu.
__ADS_1
Ia beranjak ke dapur. Kemudian mulai memasak dengan riang. Baru kali ini Ia melakukan pekerjaan di dapur sambil tersenyum penuh sukacita. Hal yang hampir tidak pernah dia lakukan semenjak tinggal di kediaman keluarga Cole.
___________
"Saya sudah mengantar nona Angelina, ke apartemen sesuai perintah, Tuan." Sang supir yang merupakan orang suruhan Demian melapor. Pria itu mendatangai kantor Damian yang berada di menara gedung tertinggi di kota itu.
"Pekerjaan bagus. Pantau setiap pergerakannya. Lapor padaku jika ada tamu yang mengunjunginya," titah Damian, yang kemudian diangguki oleh anak buahnya itu.
____________
"Halo Angel! Cepat mana nomer rekeningmu!" panggil Lionel lewat sambungan telepon seluler.
[ Maaf, Paman. Tolong, ijinkan Angel hidup mandiri dan berdiri di atas kemampuan sendiri. Susah cukup selama lima tahun ini, aku menyulitkan hidup Paman. Jangan biarkan Angel berhutang lebih banyak lagi terhadap Paman. ]
"Hei, Nak. Tidak ada yang menganggap bahwa apa yang telah Paman berikan kepadamu selama ini adalah hutang. Kau sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk mengembalikannya. Jangan pernah merasa tertekan karena hal itu. Dan satu lagi, Paman tidak pernah merasa disulitkan karena kehadiranmu. Tapi, jika keinginanmu sudah seperti ini maka Paman hanya bisa merestui serta mendoakanmu. Semoga, kau segera mencapai tujuan dalam hidupmu selama ini." Ucapan dari Lionel pun mengakhiri obrolan mereka siang itu.
"Fred, tolong lacak nomor telepon ini dan tempatkan orang untuk mengawasi keponakanku. Laporkan setiap kegiatannya. Dan juga tamu yang mengunjunginya!" titah Lionel pada sang asisten yang bernama Fredi.
___________
"Tuh kan, Al. Kamu sih ngajak aku main terus di kamar. Angel pergi pun kita tak tau!" omel Lilian yang sangat gemas karena sepupunya itu pergi tanpa memberitahukan dirinya.
__ADS_1
Keterlaluan kau Angel! Bisa-bisanya kau keluar di rumah ini tanpa izin dulu pada ku. Aku jadi tidak bisa mengawasi jika kau jauh dari pandanganku.
...Bersambung...