
Angelina dan Lilian, sama-sama terdiam. Mereka berdua seperti kehabisan bahan pembicaraan. Hanya mampu mengarahkan pandangan melalui jendela kaca mobil.
Keduanya seakan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Angelina bahkan masih membisu lantaran mengingat pembicaraan mereka di dalam kamarnya beberapa saat tadi.
Flashback on.
"Aku--"
Tiba-tiba keduanya bicara secara bersamaan. Mereka pun menoleh, menatap sosok yang berada di depan wajah mereka. Lagi-lagi, keduanya saling menundukkan wajah. Sungguh, keadaan yang membingungkan.
Bagaimana pun. Aku harus mengeluarkan Angelina dari situasi ini . Sampai kapan dia mau merasa bersalah padaku. Kecuali, memang Angelina juga mencintai Alan. Itu lain lagi ceritanya. Tapi, itu tidak mungkin. Bahkan, kala itu ... Angelina yang menyuruhku untuk--
Lilian berusaha untuk menepis segala pikiran buruknya. Ia mencoba berbesar hati menerima keadaan ini semua. Karena, sesungguhnya sosok yang paling dirugikan itu adalah Angelina.
Dimana pernikahan ini bukanlah berdasarkan keinginan darinya. Dia juga telah mengalami pelecehan sebelum akhirnya Alan memutuskan untuk menikahinya. Sehingga Angelina harus berada di posisi istri kedua. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi adalah pernikahan mereka dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sehingga, sepupunya ini menerima status yang dirahasiakan.
Mungkin jika aku yang berada di posisimu Angel, bisa saja aku terkena gangguan mental dan tidak memiliki semangat untuk menjalani hari-hariku seperti biasa. Tapi kau, sungguh kuat dan ikhlas. Kau bahkan sanggup menerima kemarahan dari mama dan papaku. Kau bahkan bisa saja menuntut serta memenjarakan Alan. Kau begitu baik sehingga tidak ingin melakukan hal seperti itu. Kau selalu memikirkan perasaan orang lain ketimbang dengan perasaanmu sendiri.
Lilian menghela napasnya. Ia memberikan diri untuk maju mendekati Angelina. Kemudian, meraih jemari Angelina yang berada di atas pangkuannya.
"Maaf atas perlakuanku selama ini pada mu juga karena pikiran burukku, terhadapmu. Terimakasih, karena telah memikirkan perasaanku," ucap Lilian penuh perasaan. Bahkan ia terlihat seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Kak, itu aku--," Angelina tak dapat meneruskan ucapannya. Ia tak tau harus berkata apa.
Aku yang seharusnya minta maaf padamu, kak. Karena pada saat itu aku ... tidak mampu menolak kejadian itu. Aku--
Angelina membekap mulutnya sendiri. Ia takut nanti ada kata-kata yang tidak seharusnya terucap. Angelina tidak ingin melukai atau bahkan menambah kekecewaan di hati Lilian. Angelina tetap merasa bahwa dirinyalah yang bersalah pada saat itu. Entah kenapa, ia sama sekali tidak menyalahkan Alan.
"Angel. Kau tidak perlu mengatakan apapun. Kita lupakan masalah ini. Meskipun, aku merasa berat karena harus berbagi suami. Tapi, aku tau kau pasti mengerti. Kau pasti tau tempatmu yang sebenarnya," ucap Lilian tenang.
Apa yang ia utarakan membuat Angel, berusaha untuk mencerna lebih keras.
Apa kak Lili tau mengenai perjanjian kontrak itu? Ah, ya dia pasti tau. Tidak mungkin Alan menyimpannya bukan? Ternyata ini sebab perubahan sikapmu kak. Karena adanya perjanjian itu.
Menjelaskan posisinya yang mana merupakan suatu kesalahan semata. Sekelebat terdapat rencana yang belum pernah Angelina pikirkan sebelumnya.
Flashback off.
___________
"Damian, kedua menantu datang secara bersamaan. Ku mohon, bersikaplah baik," ucap Katie memperingati suaminya. Ia bahkan menatap dalam iris pria yang masih nampak gagah di usianya yang tak lagi muda itu. Dalam balutan kaos polos yang press body. Hingga, bentuk dadanya yang bidang terekspos.
"Apa anak nakal itu bersama keduanya?" tanya Damian, penuh selidik.
__ADS_1
"Siapa yang mau maksud anak nakal!" Katie yang tidak terima memukul dada bidang suaminya.
"Siapa lagi kalau bukan putramu," jawab Damian datar. Ia tak peduli ekspresi dari istrinya dengan wajah memerah bagaikan orang kepedasan itu.
"Bagaimana bisa aku memiliki putra seorang diri? Apa kau pikir aku ini amoeba yang berkembang biak dengan cara membelah diriku sendiri!" cecar Katie penuh emosi.
Ia kesal, karena jika putra mereka melakukan kesalahan maka Damian lantas menyebut mereka sebagai putranya. Tapi, jika mereka melakukan hal yang membanggakan maka, suaminya itu akan mengakuinya seorang diri.
"Itu kan berkat didikanmu! Kau selalu memanjakannya. Bahkan hingga saat ini," dalih Damian masih tanpa memikirkan perasaan Katie.
"Kau, tidak akan pernah merasakan hal yang ku rasakan. Karena, kau tidak mengandung dan melahirkan mereka. Terutama, Alan. Kau pasti lupa, Bagaimana usaha kita mempertahankan kehadirannya agar tetap hidup di dalam rahimku! Kau pasti lupa, iya kan! Tentu saja. Karena kau hanya mengingat bagaimana menjaga dan mempertahankan reputasimu. Kau tidak pernah memikirkan bagaimana cara menjaga dan memahami perasaan orang lain!" Katie berkata cukup tegas. Bahkan ia menunjuk dada Damian menggunakan jarinya. Setelah puas, ia berniat berlalu meninggalkan pria menyebalkan yang sialnya adalah suaminya sendiri.
"Apa kau marah padaku, Katie? Kau marah dan meneriakiku demi putra pembangkang itu?" tegur Damian dengan nada tinggi. Dan, Katie membalasnya lebih tinggi lagi.
"Apa ekspresi ku ini perlu kau tanyakan? Apa kau tidak bisa melihatnya? Jangan bilang, kalau matamu juga ikut buta sama seperti hatimu," sindir Katie puas. Karena ucapannya membuat sang suami mendengus karena telat kehabisan kata-kata.
"Aku akan menemui mereka." Katie pun berlalu. Tanpa menoleh lagi kearah suaminya itu.
Apa kau akan terus membelanya? Jika kau tau siapa putramu itu? Oh Katie ...
...Bersambung ...
__ADS_1