
Di sebuah ruangan kantor uang elegan. Nampak satu sosok pria tinggi nan gagah, berdiri dengan menatap lurus ke depan jendela. Menatap barisan gedung pencakar langit yang seakan saling bersaing tinggi.
Berkali-kali terdengar pria dengan rahang tegas ini menghela napasnya. Mungkin terlambat baginya untuk menyesal saat ini. Semarah apapun pada kedua kawannya itu juga percuma saja. Karena emosinya takkan membalik keadaan kembali seperti semula.
"Bagaimana jika Angelina hamil karena perbuatanku. Tentu itu akan menjadi pukulan selanjutnya. Aku telah menghancurkan mimpinya. Karirnya saat ini tengah dipuncak. Dia menjadi asisten dari CEO wanita terbaik yang memenangkan penghargaan sebagai pengusaha teratas tahun ini."
Ketika Alan tengah tenggelam dalam lamunannya sendiri. Tiba-tiba pendengarannya diganggu sebuah ketukan keras di pintu. Tak berniat membuka atau bahkan menoleh. Karena Alan tau kebiasaan itu siapa yang pantas dan berani melakukannya.
."Halo, adikku yang beruntung!" Benar saja, satu sosok tinggi gagah sepertinya masuk dengan santai. Kemudian duduk di salah satu sofa single. Pria dengan bulu halus di sekitar rahangnya itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari paper bag.
"Sini lah. Temani kakakmu ini sarapan sebentar!" panggil pria yang tak lain adalah adam Jackson. Anak pertama dari Damian Jackson. Pria sempurna dan jenius, yang sejak dulu selalu dibandingkan dengannya. Karena sejak kecil Adam selalu dapat menjadi kebanggaan orang tua. Tidak Sepertinya yang selalu membangkang serta melawan aturan.
Mau tak mau Alan pun menghampiri sang kakak dengan malas. Meskipun mereka bersaudara, akan tetapi mereka sangat jarang sekali terlihat bersama. Bahkan, seluruh pekerja baru tau jika mereka memiliki darah yang sama ketika direktur utama mengumumkannya. Siapa lagi kalau bukan Damian sendiri.
"Pantas sekali menganggu pekerjaan adikmu hanya demi sarapan. Apa Kakak pikir pekerjaan ku ini tidak menumpuk." Alan berkata ketus dengan ekspresi yang datar. Namun, hal itu justru membuat Adam tertawa renyah. Ia sempat melirik sebentar ke atas meja. Dimana tak ada sama sekali tumpukan berkas atau apapun itu yang menurut Alan adalah pekerjaan.
"Haih, kau ini jangan sok sibuk di depan kakakmu. Ku lihat kau sedang santai saja. Bahkan sempet melamun," ledek Adam sambil menggeleng di sela tawanya. Bahagia sekali nampaknya melihat raut rupa sang adik yang kusut masai.
__ADS_1
"Diamlah! Katanya mau sarapan!" omel Alan. Bagaimanapun perlakuan dari Damian kepada mereka berdua. Dimana pria itu selalu membedakan keduanya sejak kecil. Namun, hal itu tidak berpengaruh pada hubungan antara kakak dan adik ini. Meskipun keduanya jarang bertemu tapi hubungan mereka cukup dekat. Paling hanya selisih paham kecil seperti hubungan persaudaraan lainnya.
"Iya–iya. Nih, buat mu. Makanlah!" Adam menyodorkan satu box paket sarapan ke arah adiknya itu. Namun, Alan hanya melirik tanpa berniat mengambilnya. Ia teringat ketika tadi di mobil, bagaimana perlakuan dan perhatian yang diberikan oleh Angelina kepada.
"Kenapa? Makanlah!"
"Aku sudah kenyang!" tolak Alan.
"Oh iya. Lain ya memang yang sudah punya istri. Mana langsung dia," ledek Adam dan setelahnya ia tergelak kembali saat melihat ekspresi raut wajah Alan yang kusut.
"Makanya, kalau punya jodoh itu di bagi ke abangmu ini. Jangan semua wanita cantik kau ambil. Yang bener saja," tukas Adam lagi. Belum puas ia menambah kerutan pada kening adiknya itu.
"Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang aku tak tau, Al? Kenapa kau nampak frustrasi dan tertekan? Bagaimanapun kau harus adil pada keduanya." Adam berkata serius kali ini. Karena ia melihat sang adik benar-benar berada dalam tekanan.
"Aku membuat perjanjian pada Angelina. Hubungan kami berdua atas kesalahan. Aku hanya ingin membebaskannya. Setalah yakin, bahwa kejadian malam itu tidak menciptakan sosok bayi di dalam rahimnya," jelas Alan. Setidaknya ia harus mengungkapkan ini semua pada satu-satunya saudara yang ia punya.
"Lalu, kau akan menceraikannya jika Angelina tidak hamil begitu?" tanya Adam memastikan apa yang ia pikirkan. Dan, ia pun mendapat jawaban dari Alan melalui sebuah anggukan.
__ADS_1
"Kasian juga. Dia kehilangan keperawanan dan setelahnya menjadi janda."
"Aku akan memberikan kompensasi padanya!" seru Alan membela diri.
"Kau egois. Apa tidak bisa kau bahagiakan mereka berdua. Kau bagi cintamu dengan adil! Itulah, bentuk pertanggungjawaban yang sesungguhnya!" ujar Adam dengan nada tegas. Ia nampak tak terima dengan keputusan sepihak dari adiknya ini.
"Itulah yang aku takutkan. Tidak bisa adil dan justru tak akan bertambah menyakiti hatinya. Karena, cintaku hanya untuk Lili."
"Angelina sudah masuk ke dalam keluarga, Jackson. Kau tidak bisa membuangnya begitu saja! Meski dengan kompensasi sekalipun!" Kali ini Adam sampai berdiri dari duduknya. Ia sama sekali tidak setuju dengan keputusan yang dibuat oleh Alan.
"Lalu, aku harus bagaimana Kak? Kau pikir berada di posisi seperti ini mudah?" Alan ikut berdiri. Ia menatap lurus kearah Adam yang berdiri dihadapannya.
"Jika Angelina tidak hamil. Segera ceraikan dia. Karena aku yang akan menikahinya. Dengan begitu, dia akan tetap menjadi keluarga Jackson."
"Kau?"
"Ya, karena aku tidak sampai hati melihatnya terhina di luar sana karena kelakuan ceroboh dari adikku sendiri!"
__ADS_1
...Bersambung ...