
Beberapa bulan berlalu dengan manis dan penuh keromantisan.
Bahkan pagi ini, Alan seolah enggan melepas pelukannya pada raga indah istrinya yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun. Mereka bermain selepas fajar tadi. Apalagi, dokter mengatakan bahwa hubungan badan di trisemester terakhir akan memudahkan proses melahirkan nanti.
Induksi alami yang akan membuat pintu rahim membuka sebagai jalan lahir bayi ke dunia. Karenanya, Angelina begitu semangat. Bahkan, semalam ia membujuk Alan untuk melakukan penyatuan. Dan, mereka pun mengulangi kembali pagi tadi setelah mandi.
"Lepas dulu, aku mau pipis," pinta Angelina seraya berupaya melepaskan dirinya dari dekapan Alan. Apalagi, pria itu terus saja menciumi tengkuk dan menyesap ceruk lehernya.
"Aku ngompol nih!" seru Angelina. Hingga pada akhirnya, Alan menyerah dan melepaskan tubuhnya.
"Ya deh. Tapi, jangan lama-lama ya. Kesini lagi," rajuk Alan. Dimana akhir-akhir ini pria itu sangatlah manja padanya.
"Aku mau mandi. Tubuhku lengket lagi karena ulahmu!" ujar Angelina. Seraya turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi dengan tanpa menutupi tubuhnya. Ia bahkan sengaja berlenggak-lenggok. Menggoda pria yang tengah manyun di atas kasur.
"Awas aja kamu ya!" Alan pun ikut turun dan hal tersebut sontak saja membuat Angelina menjerit. Karena, suaminya itu mengejarnya bahkan juga dalam keadaan tubuh polos tanpa busana.
Angelina segera menutup pintu dan terkikik di belakangnya. Tinggallah, Alan yang tertawa sambil menyandarkan punggungnya di pintu. Ia selalu senang ketika menggoda istrinya, sampai Angelina teriak-teriak.
Mereka merasa bagaikan pasangan yang teramat bahagia di atas muka bumi. Tanpa menyadari jika mendapat tatapan iri sesekali dari Adam. Sampai saat ini pria bertubuh tinggi itu belum dapat menghilangkan perasaannya. Gilanya lagi, hal itu menyebabkannya tidak bisa membuka hatinya untuk wanita lain.
Adam tidak lagi, dapat merasakan cinta yang lain.
Meskipun, Katie selalu mendesaknya untuk segera menikah. Adam, tidak ingin membangun rumah tangga di atas rasa kepura-puraan.
__ADS_1
Sebelum berangkat kerja seperti biasanya, Alan akan mencium kedua pipi serta kening Angelina, juga tak lupa mendaratkan kecupan lada perut istrinya sudah semakin membesar itu. Lalu meminta ijin pada juniornya.
"Papa lagi dulu ya sayang. Jaga, Mamamu baik-baik. Papa selalu mencintai kalian berdua. Kalau mau lahir, jangan sampai menyusahkan Mamamu ya. Atau, kau akan berhadapan dengan papa nanti," ancam Alan dengan nada bercanda. Tentu saja hal itu membuat Angelina menarik telinga Alan gemas.
Namun, garis takdir telah menuliskan bahwa kebahagiaan Alan dan Angelina tidak berlangsung lama.
Pagi itu merupakan pertemuan dan kebersamaan keduanya yang terakhir di dunia. Mobil mewah yang Alan kendarai mendadak tak mampu ia kendalikan ketika berada di sebuah turunan. Remnya blong. Sementara, di depan mobilnya terdapat tronton yang membawa banyak muatan.
"Ada apa ini? Kenapa remnya tidak berfungsi? Ah, tidak mungkin!" Alan sangat panik. Kendaraannya melaju tak terkendali. Sementara di depannya sebuah truk angkut muatan besar juga gak dapat mengelak lagi. Alan pun terpaksa banting stir ke kiri.
"Aaaakkh!" Teriakan dari mulut Alan merobek udara. Di barengi dengan benturan yang hebat dari dua kendaraan tersebut. Lalu kendaraan mewahnya terguling hingga puluhan meter. Serta, berakhir terjun bebas ke dalam jurang yang ada di sisi jalan tol tersebut.
BRAAKKK!
Duaarrr!
Mobil yang Alan kendarai meledak di bawah sana. Hingga, letupan apinya setinggi dua meter lebih.
Adam yang mendapat berita tersebut untuk pertama kalinya. Tak mampu menopang tungkai kakinya. Pria itu terjatuh duduk di sofa.
"Alan."
Pada saat yang sama, Damian muncul di dalam ruangan kantornya.
__ADS_1
"Papa ... Alan, Pa ...," lirih Adam. Hingga, kedua matanya membola saat tubuh Damian ambruk di depannya.
"Mommy harus kuat. Nanti, Angelina bagaimana kalau Mommy seperti ini," ucap Adam menguatkan perasaan Katie.
Setelah mereka keluar dari kamar Angelina yang baru saja menangis histeris. Mereka baru saja pulang dari acara pemakaman. Bahkan, Angelina sempat meraung-raung di atas makam basah suaminya itu.
Di dalam kamar.
"Kenapa kau pergi, Al? Bagaimana nasib anak kita kelak? Kenapa semesta sangat tega! Kenapa kau meninggalkan kami, Alan!" Angelina kembali menangis historis sembari memeluk kemeja yang biasa dipakai oleh suaminya ketika bekerja.
Di depan kamar, Adam terlihat mencengkeram dadanya sendiri.
Inilah kisah hidup.
Tidak semua akan berjalan seperti rencana kita.
Ada pertemuan, maka ada juga perpisahan.
Seperti sebuah judul lagu, Tak Ada Yang Abadi.
Seperti itulah, nasib dan takdir keduanya.
Terkadang rasa pahit sekalipun, harus kita telan meski itu nyatanya sangat berat.
__ADS_1
...SELESAI ...