Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 30. Jangan Marah Tuan Alan.


__ADS_3

Haihh, bagiamana ini. Kenapa dia tiba-tiba pingsan sih? Aku harus bagaimana? Ah, ya telepon ambulance. Ah, tapi berapa nomernya? Polisi mungkin, eh tapi kan ini bukan kriminal. Aduh, telepon siapa dong!


Alan nampak panik sehingga ia menggaruk rambutnya menggunakan dua tangan. Belum pernah ia ini seorang diri. Dirinya tidak pernah terlatih untuk menghadapi masa-masa sulit maupun emergency seperti ini.


Alan terbiasa mengandalkan orang lain untuk melakukan apapun yang sekiranya sulit. Sehingga, tidak tersimpan di memori otaknya hal-hal serta langkah apa yang harus dilakukan di saat genting seperti ini.


Sungguh terlalu kau Alan Jackson.


Kau kan kaya! Ayo gunakan kekuasaanmu!


"Ahh!" Alan memekik dan berdiri ketika ia menemukan ide. Ia pun menggeser layar 6 inci tersebut pada ponsel pintarnya.


"Halo, Roy. Panggilan dokter pribadiku ke Apartment Krisan Park Avenue. Cepat!" titah Alan pada pria di ujung telepon yang merupakan asisten pribadinya itu. Ia mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari asisten tersebut.


"Bodoh kau Al. Bagaimana gak bisa lupa jika memiliki seorang asisten yang bisa kau perintahkan apapun padanya. Huh, Angelina ... ku harap kau baik-baik saja," gumam Alan.

__ADS_1


Ia pun mengangkat Angelina dengan hati-hati, kemudian membawanya ke dalam kamar. Meletakkan dengan pelan ke atas kasur. Hingga, tanpa sengaja tatapannya terbentur paras Angelina yang cantik alami.


"Kau cantik Angelina. Ternyata ... ketika hari pernikahan kita, itu bukan keajaiban tata rias. Kenapa, kau menyembunyikan kecantikan ini?" gumam Alan. Ia bahkan mengulurkan jemarinya untuk menyentuh bulu mata Angelina yang lentik asli. Tanpa bulu mata palsu. Sementara, Lilian harus sulam alis dan bulu mata berkala.


Alan sungguh tidak menyangka dengan sebuah kenyataan mengejutkan di hadapannya saat ini. Sebenarnya ucapan Angelina tadi benar, kemungkinan besar jika ia tidak menyembunyikan kecantikannya. Bisa jadi yang menjadi kekasihnya bukanlah Lilian. Tapi itu juga seandainya pada saat itu Angelina memiliki sifat agresif seperti Lilian.


"Sayangnya itu kau menyembunyikan kecantikan di balik penampilan culun si kutu buku. Kau juga pemalu dan penurut. Siapa sangka sekarang kau telah transformasi menjadi kupu-kupu yang cantik. Kau bahkan memiliki keberanian dan juga tegas dalam berbicara. Ah, Angelina ... kau sungguh membuatku tidak percaya. Jika saja aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri." Alan masih terus bermonolog, demi mengungkapkan kekagumannya terhadap penampilan baru Angelina.


Tak a lama kemudian ponselnya itu kembali berdering.


"Berikan ponselnya pada pemimpin mereka!" titah Alan tegas. Sehingga, sang asisten pun menyadarkan ponselnya agar pemimpin security dapat berbicara dengan Alan secara langsung.


"Baik kami mengerti. Mohon Maaf sebelumnya karena ini semua adalah prosedur dari atasan kami." Pemimpin regu security tersebut pun menjelaskan dengan tenang kepada Alan. Sementara Alan sudah mencak-mencak bagaikan orang gila.


"Kalau sampai istri saya kenapa-kenapa karena kalian! Lihat saja nanti!" ancam Alan. Membuat pemimpin regu menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Seram juga, pikirnya.


Setelah itu asisten dari Alan serta sang dokter pribadi pun diperbolehkan untuk naik ke atas. Setelah sampai mereka langsung masuk ke kamar Angelina.


"Hey! Apa yang mau kau lakukan!" pekik Alan. Ketika sang dokter ingin membuka kancing bagian atas kemeja Angelina.


"Maaf, Tuan. Sa–saya harus memeriksanya," gagap sang dokter yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu.


"Kalau tidak di buka apa tidak bisa? Dia itu istriku!" kali ini Alan benar-benar nampak marah. Mendengar penjelasan enteng dari sang dokter. Tatapannya pun menjurus tajam pada sang asisten.


Aku saja tidak berani buka-buka. Padahal sudah jelas dan sah sebagai suaminya. Eh, dokter sialan bin cabul ini seenaknya saja. Sial! Ini juga asisten kenapa tidak becus!


Alan memberi tatapan menghunus pada Roy.


Eh, jangan marah pada saya. Tuan tidak bilang pasiennya siapa.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2