
"Kau tau, kenapa saya memanggilmu kesini?" tanya Damian ketika Angelina telah berada di ruang kerjanya. Sementara itu Angelina hanya bisa menelan ludahnya kasar. Tatapan pria paruh baya di hadapannya ini begitu mengintimidasi.
"Maaf, saya ... tidak tau, Tuan. Ah, Daddy ...eh, Tuan." Angelina benar-benar kikuk dan bingung dalam bersikap. Ia bahkan mengganti panggilannya seketika, di saat menyadari jika Damian tak menyukai panggilannya yang kedua. Sehingga, Angel memutuskan untuk kembali pada panggilan pertamanya.
"Kau harus pandai menempati dirimu. Saya tau, jika Alan yang bersalah dalam hal ini. Tapi, dunia luar hanya perlu tau jika keluarga Jackson hanya memiliki satu menantu saat ini. Saya, memiliki penawaran bagus untukmu." Damian berjalan menuju jendela besar dalam ruangan itu. Dimana, jendela itu menghadap langsung ke halaman belakang. Terdapat kolam renang luas di sana. Damian, menoleh sedikit sambil menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Kau adalah wanita yang pintar, dan saya tau itu. Bahkan, kau bisa menyelesaikan akademi dalam waktu singkat dengan nilai cumlaude. Karena itu, saya sangat menyayangkan jika karena kejadian ini, semua mimpi yang telah kau rencanakan harus pupus. Jadi, aku akan membantumu melepaskan diri dari situasi ini. Namun, segala kerugianmu akan ku bayar dengan harga yang sesuai," tutur Damian. Memberi penawaran bagi Angelina.
Apa! Dia ternyata bicara padaku karena ingin segera menyingkirkanku. Rupanya begitu ya. Apa, Lilian sengaja mengajakku kemari karena ia ingin aku segera pergi. Jadi begitu ya.
Seketika Angelina merasakan perasaan yang menekan dadanya saat ini. Namin, ia tidak bisa marah. Ia tidak boleh benci siapapun. Semua ini memang akan terjadi. Kehadirannya tak diinginkan. Status yang ia punya sekarang hanya karena sebuah tragedi.
Angelina, menghela napasnya. Ia mencoba untuk menguatkan dirinya. Posisinya memang tidak kuat. Tapi, tak boleh ada seorang pun yang merendahkannya. Bukankah, dia sudah sangat pengertian tidak membawa masalah ini ke pihak berwajib. Semua, karena Angel memikirkan hubungan antara dirinya dan Lilian yang terjalin sejak dulu.
__ADS_1
"Lalu, tawaran apa yang hendak Tuan, ajukan kepada saya?" tanya Angelina dengan nada bicara yang tegas. Ia tak mau pria ini mendiskriminasinya lagi. Siapapun itu, tak berhak melakukan ini padanya.
"Saya akan menawarkan kesuksesan cepat padamu. Kau pasti sudah tidak nyaman menumpang hidup dengan pamanmu itu. Karenanya, saya akan siapkan apartemen yang tidak jauh dengan perusahaan tempat kau bekerja itu. Saya, juga bisa memohon pada Veronica agar memperlakukanmu lebih baik dari sebelumnya," tutur Damian, seraya menelisik ekspresi dari wanita muda di sampingnya ini dengan seksama.
Saat ini, Angeline masih menatap lurus ke depan. Ia masih mengunci suaranya. Setidaknya ia membutuhkan waktu untuk berpikir. Tak mau gegabah, karena tipikal orang kaya dan berkuasa tak akan memberimu syarat yang mudah dengan imbalan sebesar itu. Kebetulan, Angelina memang tengah mencari tempat tinggal. Setidaknya, pria ini juga harus bertanggungjawab atas perbuatan putranya bukan?
"Lalu, apa syaratnya?" tanya Angelina lagi. Ia tak sabar untuk segera menemukan inti dari pembicaraan ini.
Benar saja. Mereka memang tidak menginginkan kehadiranku. Huh! Tentu saja. Memangnya kau pikir dirimu siapa? Tau dirilah !
Angelina, merutuk dan mengumpat dirinya sendiri. Sadar jika dia bukanlah apa-apa tanpa memiliki apapun. Bukankah, orang akan menilai dan memandangmu dari penampilan, kedudukan serta berapa banyak uangmu di bank. Angel hanya dapat tertawa miris dalam hati.
"Baiklah, saya akan pergi secepatnya. Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya paham dan tau posisi saya siapa di sini. Saya, juga tidak tahan dengan keadaan yang situasi yang selalu memojokkan. Mendapat tawaran ini, seperti sebuah jalan keluar yang tak pernah siapapun tunjukkan pada saya," tutur Angelina, ia menampakkan raut bahagia karena setidaknya sebentar lagi akan segera terlepas dari situasi yang menyesakkan.
__ADS_1
"Bagus sekali. Kau tidak perlu khawatir. Saya akan mengirimkan orang yang akan menengokmu secara berkala. Hiduplah dengan. tenang tanpa tekanan. Biarkan, saya yang mengaturnya," ucap Damian lagi.
Huh, apa katanya? Dia pikir semudah itu. Bagiamana jika aku hamil karena Alan? Ku harap tidak. Lagipula, dia tidak tau jika aku dan putranya telah membuat sebuah perjanjian hitam di atas putih. Perlukah, aku katakan? Ah, tidak. Biar saja. Aku harus pergi dari kediaman laman Lion secepatnya.
"Kau, memang anak yang pintar. Fokuslah pada karirmu. Saya yakin, suatu saat kau akan berhasil."
Angelina tersenyum menanggapi ucapan dari Damian barusan. Ternyata, mertuanya ini tak seburuk itu. Meskipun, raut wajahnya sangatlah kaku.
Sementara itu di bawah.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa lama sekali? Bahkan, aku belum pernah di ajak mengobrol oleh Daddy. Di sapa pun jarang," gumam Lilian pelan dengan kedua tangan saling memberi remasan satu sama lain.
...Bersambung...
__ADS_1