
Meriam langsung bungkam ketika Lionel berkata tegas padanya. Meskipun akhirnya, Angelina yang mendapatkan tatapan tajam darinya. Semenjak kehadiran keponakannya itu lima tahun yang lalu. Lionel jadi sering memarahinya. Hal itu menjadi salah satu alasan dari rasa bencinya, terhadap Angelina. Selain perhatian Lionel yang terbagi antara putri mereka Lilian dengan Angelina. Apalagi, ketika sang ibu mertua masih hidup. Wanita itu kerap membandingkan putrinya dengan anak dari adik suaminya itu.
Baginya kehadiran Angelina di dalam keluarganya merupakan sebuah kesialan dan musibah. Terbukti, dengan kejadian perkara rumah tangga putrinya ini. Dimana, Angelina bahkan merebut keperjakaan dari Alan. Meriam merasa sangat-sangat kesal dan dendam hingga saat ini.
"Angelina, jawab Paman!" tegas Lionel. Pria dengan rambut pirang ini agak kaget dengan keputusan mendadak dari keponakan itu.
"Maaf, Paman. Aku menyewa apartemen murah yang berdekatan dengan kantor. Karena, ada kemungkinan aku akan sering lembur, ketika projek bulan depan sudah mulai berlangsung," jawab Angelina tanpa menatap wajah sang paman. Ia tetap menunduk sejurus dengan ujung sepatunya.
"Jadi, ini sudah keputusannya. Hari ini, akhirnya datang juga. Tapi, bagaimana jika--" Lionel tidak meneruskan ucapannya karena Angelina menatapnya.
"Aku sangat berharap itu tidak terjadi, Paman. Tapi, jika iya ... aku akan mengabarkan kalian. Aku berjanji, akan sesekali mengunjungi Paman dan Bibi. Aku--"
"Tidak perlu! Kau tidak mengunjungi kamu pun tak apa. Sebaiknya urus saja dirimu sendiri mulai saat ini!" ketus Meriam. Hingga, Lionel kembali mengarahkan tatapannya yang menghunus tajam dengan rahang mengeras.
Keterlaluan kau, Lion. Demi anak itu kau melotot padaku. Padahal dia telah merusak kedamaian rumah tangga putrimu sendiri. Dasar pria buta! Sikapmu ini membuatku semakin membenci Angelina!
Meriam membalas tatapan tajam dari suaminya. Hingga, Angelina kembali berucap demi mengendurkan ketegangan yang ia ciptakan diantara keduanya.
"Terimakasih atas kebaikan Paman dan juga Bibi selama ini. Angel tidak akan pernah melupakannya. Keputusan ini sudah kupikirkan jauh-jauh hari. Selamat tinggal. Sampaikan salam ku pada kak Lili," ucap Angelina pun seraya pamit. Ia kembali ke atas dan meminta tolong pada pelayan untuk membawakan kopernya hingga ke depan gerbang kediaman keluarga Cole.
"Beraninya kau memerintahkan para pelayanku untuk membantumu. Mereka bukan pelayanmu. Bawa sendiri barang-barangmu itu!" hardik Meriam. Menarik cover dipegang oleh salah satu pelayannya kemudian melempar ke hadapan Angelina. Koper itu menggelinding tepat di depan kaki Angelina.
__ADS_1
"Maaf, Bi. Angel tidak bisa menurunkan dua dua koper sekaligus beserta tas ini. Aku pun hanya meminta tolong kepada mereka sekali ini saja. Bukankah, sebelumnya aku tidak pernah Bi?" jelas Angelina. Ia mencoba menahan rasa kesalnya karena beberapa barang bawaannya terserah berantakan akibat ulah Meriam.
Angelina berjongkok, meletakkan tas berukuran sedang itu kemudian merapikan beberapa barang yang keluar dari dalam koper. Hal ini menunjukkan betapa kencang lemparan dari bibinya itu.
"Kenapa ini?" tanya Lionel yang kaget terhadap apa yang terjadi di ruang tengah. Karena beberapa pakaian milik Angelina berhamburan di lantai.
"Tidak apa, Paman. Aku hanya kurang hati-hati ketika membawa koper-koper ini. Maaf, karena kecerobohanku yang telah membuat kegaduhan sekali lagi," jawab Angelina berusaha menutupi kelakuan dari Meriam. Ia tak mau, sang paman semakin membenci istrinya karena dia.
Karenanya, sejak dulu Angelina selalu menutupi keburukan dari sikap istri pamannya itu. Bahkan, keburukan dari putri mereka satu-satunya juga. Angelina selalu berusaha menjaga keutuhan dari keluarga pamannya ini. Angelina berharap paman dan bibinya sadar bahwa apa yang terjadi pada Liliana akibat dari sikap mereka yang terlalu memanjakan Kakak sepupunya itu.
"Kalian berdua jangan diam saja!" kita Lionel pada kedua pelayan di kediamannya tersebut. Para pelayan itu pun bingung antara mendengar perintah dari Lionel atau menuruti apa yang telah dilarang oleh Meriam tadi.
Melalui kode mata Meriam memerintahkan kedua pelayanan itu untuk mengikuti arahan dari suaminya. Para pelayan pun membantu Angelina dan membawa koper-koper tersebut hingga keluar pintu gerbang. Lionel mengantar Angelina hingga pekarangan, karena ia juga hendak pergi untuk menghadiri pertemuan komunitas golf.
Aku sengaja mengganti nomor rekeningnya. Karena Aku tidak mau Bibi semakin membenciku karena Paman sering mengirimkan uang padaku.
"Tidak usah, Paman. Aku masih memiliki uang. Maaf, Angelina belum bisa membahas budi terhadap Paman selama ini," ucap Angelina penuh sesal. Bukannya dia tak pernah memberikan apapun pada pamannya ini. Akan tetapi Lionel selalu menolak. sedangkan istrinya setiap bulan semenjak Angelina bekerja dan memiliki gaji, bibinya itu selalu meminta pajak, dan melarang Angelina untuk menceritakannya kepada Lionel.
"Memangnya tabunganmu selama bekerja cukup? Kau kan baru berapa bulan bekerja Angel. Jadi cepatlah, kau kirim nomor rekening Itu kepada Paman!" Lionel semakin memaksa akan tetapi Angelina tetap menggelengkan kepalanya Dan tersenyum. Bagaimana ia tega untuk mengungkap semua keburukan dari istri dan juga putri sang Paman. Jika pria di hadapannya ini begitu perhatian dan sangat baik kepadanya. Angelina tidak sanggup jika suatu saat melihat kekecewaan hinggap di hati pamannya yang baik ini.
Karenanya Angelina memilih diam dan menurut apa yang meriam inginkan darinya. Menurut atas apapun yang Meriam kehendaki padanya. Asalkan semua demi kebaikan keluarga pamannya. Angelina akan bersedia.
__ADS_1
"Paman jalan dulu. Kabari jika kau sudah sampai dan juga kirim alamatnya!" teriak Lionel dari dalam kendaraan pribadinya itu.
"Selamat tinggal, Paman. Jaga kesehatanmu!" balas Angelina seraya melambaikan tangannya. Hingga, kendaraan mewah pamannya yang beroda empat itu menghilang di balik gerbang.
Angelina tau, orang suruhan dari Damian telah menunggunya di seberang. Ia telah memerintahkan pada sopir tersebut agar tidak terlalu mencolok. Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya. Seseorang menarik tangannya hingga tubuh Angelina berputar balik.
"Bibi!"
"Apa rencanamu? Jangan kau pikir setelah keluar dari rumah ini maka kau bisa berbuat seenaknya. Ingat! Sebelum hubungan pernikahanmu dengan Alan berakhir. Tetaplah, berdandan seperti ini. Paham?" ancam Meriam, seraya mencekal pergelangan Angelina dengan kencang.
"Bisakah, kali saja kau memperlakukanku dengan baik? Bahkan selama ini aku selalu menuruti permintaanmu. Semua itu karena aku sangat menghormatimu. Tapi, kau selalu saya bertindak kasar padaku." Angelina menepis kasar cengkeraman Meriam padanya.
Membuat wanita yang masih nampak cantik di usia paruh baya itu melotot padanya.
"Baru mau keluar dari kediamanku. Kau sudah bermain melawan rupanya!" bentak Meriam. Ia tak takut ketahuan karena ia tau putrinya dan menantunya itu tengah bersenang-senang di dalam kamar mereka. Karena, Meriam baru saja dari kamar Lilian. Dan, ia tau dari suara-suara yang tak asing di telinganya.
Meriam berharap, Lilian cepat hamil.
"Angel, tidak akan melawan. Angel akan tetap seperti ini jika bertemu dengan Alan. Hanya ketika bertemu dengannya. Karena, aku pastikan kita tidak akan bertemu dalam waktu dekat ini. Hingga kepastian itu terbukti," ucap Angelina tegas. Bukannya karena ia berani. Tapi, demi untuk menyangkal segala pikiran buruk Meriam terhadapnya.
"Aku pastikan, Lilian yang akan hamil. Bukan kau! Dan pada saat itu tiba. Pergilah jauh dari kami selamanya!" kecam Meriam.
__ADS_1
...Bersambung ...