Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab 11. Miles Bronson.


__ADS_3

Angeline keluar dari toilet buru-buru, Karen aia harus menyiapkan proposal meeting dengan para investor. Atasan telah membebankan tugas ini padanya jauh-jauh hari. Meskipun hati dan pikirannya sempat berkecamuk. Angelina tetaplah harus menerapkan ke profesionalisme dalam bekerja. Karena tugasnya takkan bisa selesai jika ia terus memikirkan bagaimana perasaannya saat ini. Hidup mesti harus berjalan. Sehancur apapun hati dan jiwanya.


Baru berjalan beberapa langkah, suara lantang telah memaksa berhenti ayunan dari kedua kakinya. Seseorang yang tak ingin Angeline temui untuk saat ini.


"Hei! Tunggulah sebentar!" Suara itu semakin dekat. Angel tak mungkin lagi menghindarinya. Ia memilih untuk menghadapi apapun masalah lanjutan yang terserak di depannya.


Angel berbalik, dan berusaha tetap bersikap biasa. Meskipun, jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat ini.


"Hai, Miles!" sapa Angelina pada pria yang tak lain adalah kekasihnya. Ya, Miles Bronson. Pemuda yang berusia satu tahun di atasnya ini, belum lama menjadi kekasihnya. Miles, karyawan lama di kantor ini. Pria yang selalu melindungi Angelina dari pembullyan di kantor. Tentu saja karena penampilan Angelina yang terlihat norak tapi bisa diangkat sebagai asisten CEO.

__ADS_1


"Kita masih ada waktu empat puluh lima menit lagi. Kenapa kau begitu terburu-buru?" tanya Miles penuh selidik. Sebab, ia memindai Angelina dari atas sampai bawah.


"Apa kau baik-baik saja? Kau nampak kurang sehat." Miles melempar perhatiannya yang memang tulis. Meskipun para staf dan karyawan yang lain terlihat muak dan mual melihat kebersamaan mereka. Semua itu, karena Miles tampan dan gagah. Karirnya juga bagus.


Miles meletakkan punggung tangannya di kening Angelina. Namun, Angelina sendiri langsung mundur. Ia tak suka ada orang lain yang menyentuhnya. Sekalipun dia adalah kekasihnya sendiri. Mereka adalah sepasang kekasih sebatas hubungan lisan saja. Sejauh ini, hubungan mereka hanya berkutat dengan pekerjaan kantor. Makan siang berdua. Tidak ada hubungan skin to skin. Bahkan, Miles tidak pernah mengantar Angelina pulang. Pria itu tetap sabar. Hingga, Angelina benar-benar percaya padanya.


"Aku tau, hanya saja, kau mengerti dan paham pasti. Jika atasan kita adalah tipikal bos yang perfeksionis."


"Itu tau!" ketus Angeline, kembali berjalan menuju ruangannya. Tak lupa ia memerintahkan office boy untuk membuatkan teh hijau. Berhubung CEO-nya wanita, maka Angeline harus bisa menjaga mood atasannya itu.

__ADS_1


Ia bahkan mencatat kapan tanggal datang bulan. Karena di waktu itulah kantor ini seketika menjadi bagaikan bangunan penyiksaan. Ketika, atasan mereka ini melimpahkan seluruh kemarahannya pada karyawan.


"Kau sudah sarapan? Kau terlihat pucat, Ange!" ujar Miles.


"Aku selalu sarapan. Kau tau kan bagaimana aku memperhatikan asupan otak di pagi hari. Jadi, jangan khawatirkan aku, Miles. Sebaiknya kau pikirkan saja dirimu sendiri. Nama baikmu di pertaruhkan karena kau dekat denganku bukan?" pungkas Angelina.


"Siapa yang bilang? Mana ada begitu. Kau hanya terlalu terbawa perasaan. Semua baik-baik saja. Karirku, nama baik dan juga hatiku di kantor ini. Semua masih sama tidak ada yang mau berubah," tutur Miles, tentunya dengan senyum yang selalu menghiasi wajah tampannya itu.


Aku tau kau melakukan ini untuk melindungiku. Karena hampir seluruh penghuni gedung ini tak suka dengan karirku sekarang. Kau begitu baik, Miles. Tapi itu tak cukup membuatku menyerahkan hati dan juga cinta ini untukmu.

__ADS_1


Angelina terlihat menghela napasnya. Seraya menatap Miles lekat. "Berhentilah berkorban dan berbohong demi aku. Kau tidak pantas menderita karena aku, Miles."


...Bersambung ...


__ADS_2