
Alan dan Angelina seketika tercengang. Ketika dokter kandungan itu menjelaskan arti dari garis dua yang terdapat pada benda pipih panjang tersebut.
Angel merasa kakinya tak lagi menapak di atas lantai. Bahkan, pandangannya pun buram seketika. Mendengar kabar itu rasanya ingin pingsan lagi saja.
Ternyata, tubuhnya memang sungguh melayang. Alan ternyata menggendongnya hingga ke tempat tidur. Angel yang kaget pun reflek mengalungkan lengannya ke leher kekar Alan. Aroma maskulin pria itu pun, menguar dan meracuni penciuman Angelina. Hingga pikiran wanita itu kosong seketika.
Ingin rasanya Angelina merebahkan kepalanya di dada bidang itu. Merasakan damai dan hangatnya walau sesaat. Ah, tapi ia langsung tersadar bahwa itu tidak benar. Meskipun, status mereka memperbolehkan itu semua.
Alan meletakkannya perlahan ke atas kasur. Tanpa sengaja tatapan keduanya pun bertabrakan.
Deg deg ... deg deg!
Begitulah bunyi debaran pada jantung keduanya. Entah itu Alan maupun Angelina, keduanya sama-sama merasakan debaran ketika raga mereka berdekatan seperti ini. Perasaan yang aneh. Bahkan, Alan sampai tidak sanggup untuk mengalihkan pandangannya dari wajah wanita yang baru saja ia turunkan dari gendongannya.
__ADS_1
"Al. Kau sudah bisa melepaskan aku sekarang," ucap Angel. Ia pun Masih betah menatap lama-lama wajah dari pria yang memang ia cintai ini. Akan tetapi Angelina segera sadar siapa dirinya dan bagaimana posisinya.
Alan langsung tergagap. Mendengar perkataan yang keluar dari bibir tipis tapi seksi itu. Soalnya, itu yang selalu ia perhatikan sejak tadi. Sekelebat bayangan kejadian malam itu, tertumpu pada bibir Angelina saja.
Alan langsung melepaskan tubuh Angelina. Menarik selimut untuk menutupinya hingga sebatas dada. Alan bahkan tersenyum tipis, menumpuk bantal agar sedikit lebih tinggi. Mendapat perlakuan penuh perhatian dari Alan membuat sudut hati wanita ini mendadak hangat.
Tolong jangan bersikap baik padaku Al. Kau adalah milik kakakku. Selamanya, aku hanya akan meminta perasaan ini sendirian. Tolong, jangan kau buat aku berubah pikiran.
Angelina berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Berlama-lama memandang wajah tampan dengan rahang berbulu tipis di hadapannya ini membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan, Angelina merasa sedikit sesak, ketika mengingat bahwa dirinya sama sekali tidak pantas untuk menerima perasaan ini di dalam hatinya.
Dokter tersebut pun pergi diantar kembali oleh, Roy, sang asisten. Sekalian memerintahkan agar asistennya itu menebus resep obat yang di berikan oleh dokter tersebut. "Jangan lupa makanannya sekalian!" Begitulah pesan Alan padanya.
Beberapa saat kemudian, Alan memberikan obat pada Angel, dengan telaten. Ia berusaha mengingat apa yang dianjurkan oleh dokter kandungan tersebut. "Minumlah ini." Alan menyodorkan beberapa butir obat berbentuk kapsul selaput dan juga tablet. Ia sempat bergidik ngeri ketika Angelina harus menenggak obat sebanyak ini.
__ADS_1
"Kau bisa meminum semuanya? Atau aku harus menghancurkannya lebih dulu?" tanya Alan. Karena ia tau, jika sahabat yang menjadi istri di atas kertas ini susah minum obat sejak kecil. Namun, karena perbuatannya, wanita ini dengan terpaksa harus mengkonsumsi obat-obatan sebanyak ini selama menjalani kehamilannya.
"Ti–tidak usah. Aku pasti bisa, sini!" Angelina meraih obat yang ada di atas telapak tangan Alan. Kemudian menenggaknya langsung semua. Alhasil, ia pun tersedak.
Uhukk uhukk!
"Astaga!"
Alan yang panik, langsung memberikan Angelina minum. Tapi itu wanita itu semakin terlihat kesusahan bernapas. Alan kemudian teringat bagaimana pertolongan pertama pada orang yang tengah tersedak. Ia naik ke atas kasur dan berlutut di belakang tubuh Angelina. Melingkarkan lengan ke atas perut wanita itu, kemudian menekannya. Alan melakukan hal itu berulang-ulang.
Ayolah! Keluar !
Alan sangat ketakutan karena Angelina semakin sudah bernapas.
__ADS_1
...Bersambung...