
Setelah perjuangan dan usaha keras. Dengan segala kekhawatiran yang memenuhi isi kepala serta hatinya. Alan berhasil membuat, Angelina mengeluarkan obat yang tersangkut di dalam tenggorokannya.
Wanita itu sempat menarik nafas panjang sekali. Setelah normal, Alan segera memberikan minum kepada Angelina. Ia menyodorkan ujung gelas tepat di depan bibir istri di atas kertas itu. Tatapan mata keduanya bertemu. Hal itu membuat Angelina kesulitan untuk sekedar menelan air.
"Jangan memandangiku saja tapi minum airnya. Sebelum kamu muntah karena rasa pahit dari obat-obatan tadi," titah Alan kepada Angelina. Hingga pada akhirnya wanita itu menurut dan menenggak air yang disodorkan oleh mantan sahabat yang tanpa sengaja menjadi suaminya.
"Tunggu sini. Biar aku haluskan dulu obatnya." Kemudian Alan beranjak ke dapur, kemudian mencari alat yang sekiranya bisa ya gunakan untuk menghaluskan obat. Setelahnya, pria bertubuh tegap itu kembali ke dalam kamar.
"Nih, minum lagi obatnya. Maksudku, vitamin. Agar keadaanmu kembali pulih," titah Alan, dengan sendok yang telah ia sodorkan ke depan mulut Angelina.
Tanpa ragu, Angelina membuka mulutnya. Bagaimanapun ia harus mencoba menelan serbuk obat-obat itu. Semua demi kebaikan mahkluk yang telah tumbuh di dalam rahimnya. Tanpa, komando dari siapapun air mata begitu saja turun membasahi pipinya. Pelan tapi pasti, Angelina mulai terisak.
__ADS_1
Alan panik, semakin lama tubuh istri yang tak ia anggap itu semakin bergetar hebat. Akhirnya, Angelina tak lagi tahan. Wanita itu mengeluarkan semua rasa yang ia tahan sejak tadi. Rasa kaget, bahkan tak percaya jika takdir memberi hal terindah bagi sebagian wanita tapi, menjadi suatu hal yang sangat tidak ia harapkan.
Alan semakin lakik ketika melihat Angelina histeris. Dadanya ikut sesak menerima apa yang terjadi saat ini pada mereka. Terlebih, hubungannya dengan Angelina atas ketidaksengajaan. Satu hal yang tidak di harapkan. Akan tetapi, bagaimanapun juga mereka harus menerimanya.
Perasaan bersalah semakin menekan dadanya kuat. Karena kecerobohannya, salah satu sahabat yang ia sayang kini menderita. Alan telah menghancurkan masa depan wanita yang ia sayang sebagai sahabat dengan tulus. Wanita yang selalu ada untuknya. Bahkan, melebihi kekasihnya sendiri yang tak lain adalah Lilian kala itu.
Alan meraih raga itu ragu. Di rasa tak ada penolakan, maka ia pun segera membawa sosok rapuh itu ke dalam pelukannya. Posisi Alan yang berdiri dan Angelina yang duduk di kasur, membuat Alan leluasa mengecup pucuk kepala Angelina.
Angelina semakin sesak ketika mendengar ucapan lirih Alan di atas kepalanya. Bukan ia tak senang karena harus mengandung anak dari pria yang nyatanya sangat ia cintai sejak dulu. Akan tetapi, ia tak mau menghancurkan apa yang telah ia korbankan dulu.
Angelina memikirkan bagaimana nanti perasaan Alan, Lilian, juga kedua paman dan bibinya. Sungguh, ia tak memikirkan perasaannya sendiri. Ia menangis, justru kerena memikirkan perasaan orang lain.
__ADS_1
Angelina hanya bisa mengeratkan rangkulan lengannya ke pinggang, Alan. Suami yang hanya tertera di atas lembaran kertas. Sampai kapanpun pria ini tidak akan pernah mengetahui perasaan yang sebenarnya. Karena, ia yang menciptakan perasaan Alan agar hanya mencintai kakak sepupunya yaitu Lilian.
Bagaimana ini Tuhan? Kenapa kau berikan takdir seperti ini. Kenapa kau ikat kami semakin jauh? Aku ingin pergi darinya, dari mereka semua selamanya. Tapi kalau begini, semua rencana yang telah ku susun akan berantakan. Sebenarnya apa maumu Tuhan? Apa yang kau ingin berikan pada kisah hidupku. Apa aku masih kurang menderita karena pengorbanan dan rasa cintaku pada mereka. Apa kau ingin agar aku menyerah, hingga pada akhirnya memberi luka di hati mereka? Berikan aku jawabannya, Tuhan!
Angelina semakin terisak. Apalagi ketika memikirkan perasaan dari Lilian nanti. Ah, seumur hidup ia tak pernah melukai ataupun menoreh kekecewaannya di hati kakak sepupunya itu.
"Angel. Aku harus memberi tau semuanya. Ikut aku kerumah Paman Lionel."
Deg!
...Bersambung ...
__ADS_1