
"Apa, maksudmu, Al? Kenapa pertanyaannya seolah sebuah kecurigaan?" cecar Lilian yang mulai merasa tak nyaman. Karena ia merasa jika Alan pada saat ini tengah memojokkan dirinya.
"Aku sedang tanya padamu bukan memojokkan apalagi mencurigai. Karena, aku baru tahu jika seseorang yang hidup dengan satu ginjal maka ia tidak boleh kelelahan. Dan juga, manusia yang hidup dengan satu ginjal harus sering mengecek keadaannya serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Tapi, aku perhatikan kemukakan tidak pernah pergi ke rumah sakit ataupun mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Tolong jelaskan? Aku hanya khawatir terhadap keadaanmu, Li," tutur Alan panjang lebar.
"A–aku baik-baik saja. Bukan karena aku tak pernah cek up maupun konsultasi ke dokter. Tapi, memang keadaanku baik-baik saja. Mungkin, karena aku ikhlas dan bahagia. Sehingga, Tuhan juga baik padaku. Memberi kekuatan bagiku sehingga dapat menjalani kehidupan hanya dengan satu ginjal," balas Lilian terhadap pernyataan dari kekhawatiran Alan, suaminya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kegugupannya.
Alan menerima jawaban dari Lilian separuh hati. Ia tetap merasa ada yang janggal dari semua ini. Menurutnya, Angelina yang semakin tahun terlihat semakin lemah. Padahal, setaunya dulu wanita itu adalah gadis yang sangat energik dan bertenaga besar. Angelina, bahkan tidak pernah pingsan meskipun dirinya tidak makan dan minum seharian. Entahlah, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang harus diselidiki.
Sementara itu di kamar, Meriam.
wanita itu terlihat berjalan mondar-mandir. Ia merasa sangat-sangat kesal. Bahkan rahangnya terlihat beradu satu sama lain. Saling mencengkeram buku-buku tangannya sendiri dengan geram.
"Sial! Kenapa harus anak itu yang hamil! Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dia tidak boleh mendapatkan hak lebih tinggi dari putriku. Kehamilannya, perlahan akan membuka semua tabir dan kenyataan. Aku, harus merencanakan sesuatu kembali." Meriam kini berdiri seraya mencengkeram pinggiran nakas. Ia mendongak untuk melihat pantulan dari seringainya di cermin.
__ADS_1
Tak lama, Meriam keluar dari kamarnya. Namun, ia terkejut karena mendapati Lionel yang hendak masuk kedalam kamar juga. Jadilah keduanya berpapasan. Lionel langsung menelisik ekspresi istrinya itu secara seksama.
"Kenapa kau nampak berseri-seri? Apa kau merasa bahagia setelah mendengar kabar kehamilan Angelina? Kalau iya. Ayo kita kunjungi dia!" ajak Lionel yang nyatanya telah salah mendeskripsikan raut wajah dari istrinya itu.
Meriam tentu saja menjadi gagap seketika. Ia bahkan tak tahu harus memberi alasan apa. Akhirnya, mau tak mau ia pun mengangguk saja. Lagipula, dirinya memang harus melihat keadaan Angelina secara langsung, agar dapat merangkai kerangka dari rencana selanjutnya.
"Aku sangat senang ketika kau bisa menerima kenyataan. Semua ini adalah kehendak dari semesta. Sebuah takdir yang tidak bisa kita ubah. Ayo, ajak juga Lilian," titah Lionel. Ia nampak semakin bersemangat ketika istrinya itu bahagia dengan kehamilan keponakan mereka.
Demi, mensukseskan aktingnya barusan. Meriam pun memanggil putrinya. Namun, sebelum itu ia membisikkan sesuatu pada Lilian. "Kau harus bisa membujuk Alan, untuk menemani Angelina. Karena, kita harus memastikan bayi itu tidak terlahir ke dunia," bisik Meriam, yang seketika membuat bulu kuduk Lilian merinding.
"Kau ini bodoh atau gegar otak, Li. Bisa tidak kau pintar sedikit. Sekali-kali kau yang merencanakan sesuatu demi keselamatan kita," ucap Meriam geram. Karena, putrinya itu tidak pernah bisa berpikir cekatan dalam mencari solusi.
"Maksud, Mama apa sih?" Nada bicara Lilian agak tinggi karena ia mulai kesal. Sang mama selalu saja merendahkan dirinya.
__ADS_1
"Kalau kita membiarkan wanita itu tetap meneruskan kehamilannya. Maka, Alan dan keluarga Jackson akan tahu siapa yang telah mendonorkan ginjal sebenarnya. Karena, lambat laun dokter yang memeriksanya akan curiga atau mungkin saja Angelina menceritakan keadaan dirinya secara gamblang," tutur Meriam.
"Ah, begitu ya. Apakah, Alan sudah mulai curiga? Soalnya, dia baru saja menanyakan bagaimana keadaanku selama beberapa tahun hidup dengan satu ginjal saja. Bahkan, Aku tidak pernah terlihat kelelahan meskipun harus menghadapi serangan dari gelora Alan yang cukup buas," ungkap Lilian.
Tentu saja penuturan dari putrinya itu membuat Meriam terkejut bukan kepalang. Ia pun semakin khawatir saja. Nama baik dirinya serta Lilian terancam hancur berantakan.
"Haih, kau benar. Pantas saja jika Alan mencurigainya. Kau bahkan selalu sehat dan nampak segar. Salah ini. Seharusnya sesekali Mama membuatmu jatuh sakit. Karena kebanyakan orang yang menjalani kehidupan yang satu ginjal itu, pasti akan sering sakit dan lemah. Metabolisme juga berantakan. Karenanya, akan terjadi penurunan berat badan yang signifikan." Meriam seketika memijat pelipisnya. Ia harus mempercepat rencananya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Lilian mulai resah.
Meriam memutar bola matanya malas karena memiliki putri yang sangat telmi.
"Apa kalian sudah siap!" teriak Lionel dari dalam mobil. Sementara, itu Alan terus mencari tau bagaimana ciri-ciri orang yang kehilangan ginjalnya.
__ADS_1
"Kenapa, semua tanda-tanda ini ada pada Angelina? Bahkan, dia pernah dirawat di salah satu rumah sakit karena keracunan. Setahun, setelah tranplantasi ginjalku. Tapi, justru semua itu berbanding terbalik dengan keadaan Lilian." Alan menekan pemikirannya yang tidak-tidak.
...Bersambung...