Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 28. Tamu Atau Pengacau?


__ADS_3

Pada saat itulah, terdengar derap langkah yang berasal dari sepatu pantofel berlari mendekat ke arah mereka berdua.


"Berhenti Pak!"


Keempat orang pria pun menoleh ke asal suara secara bersamaan. Dimana suara nyaring tersebut berasal dari mulut seorang wanita cantik yang mengenakan blues serta celana kulot.


"Angelina!" ujar dua pria tampan secara bersamaan. Di saat penjaga lengah, Adam menepis tongkat yang hampir mendarat ke atas kepalanya. Lalu mendorong tubuh penjaga hingga mundur dan menabrak temannya sendiri.


"Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa di sini?" Dengan ekspresi bingung, Angelina menatap Alan dan Adam bergantian. Kakak beradik yang hanya selisih lima tahun ini pun sama, menatap Angelina juga dengan keadaan heran.


Kenapa bisa begitu?


Karena, penampilan Angelina yang berubah seratus delapan puluh derajat. Membuat mata kedua pria ini melongo seketika. Namun, hal itu ternyata tidak disadari oleh Angelina sendiri. Pikirannya fokus terhadap kejadian pemukulan yang hampir saja menimpa Jackson bersaudara ini.


"Alan!" Panggilan dari Angelina ini pun seakan mengembalikan kesadaran dari keduanya.


"Aku, maksudku kami berdua ... hanya ingin mengunjungimu," jawab Alan ternyata. Ia bahkan terpesona dengan warna mata Angelina. Dimana wanita di hadapannya ini tidak menggunakan kacamata lagi. Rambutnya juga di gerai indah jatuh hingga punggung. Sungguh tidak seperti Angelina yang biasa ia lihat sejak remaja dulu.


Dua petugas keamanan menghampiri Angelina, dan bertanya. "Maaf Nona. Apa benar kedua pria ini adalah kenalan anda?" Salah satu petugas menatap tegas pada Alan dan Adam meski ia sedang bertanya pada Angelina.


"Benar Pak. Itu suami saya dengan saudara laki-lakinya," jawab Angelina tegas dan lugas. Petugas pun meminta maaf karena sudah salah paham.


"Kau tau tidak siapa kami!" bentak Alan ketika petugas merasa bersalah.


"Sudah Al! Tidak perlu mengeluarkan tandukmu. Bukankah ini juga kesalahan kalian? Penjaga tidak akan curiga lalu mengambil tindakan jika perbuatan kalian itu tidak merugikan!" tahan Angelina dengan ucapan tegasnya. Hingga Alan hanya bisa terpaku. Begitupun dengan Adam. Dalam hatinya bertanya-tanya. Bagaimana, wanita cupu yang tidak sengaja menjadi istri kedua dari adiknya ini menjadi cantik betulan.


Adam pikir, di saat Angelina menjadi pengantin kecantikannya hanyalah berkat keajaiban make up. Tapi ternyata, di balik kaca mata dan cepolan rambutnya, Angeline memiliki kecantikan yang alami.


Lantas, kenapa dia menutupinya? Itulah yang ada di dalam pikiran Adam saat ini.

__ADS_1


Tak mau memperpanjang masalah, make Angelina pun membawa kedua pria ini masuk ke dalam huniannya. Keduanya pun mengekori Angelina.


Setelah sampai di dalam, Alan tak dapat menahan rasa keingintahuan yang tinggi terhadap Bagaimana tempat tinggal dari Angelina saat ini. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berbeda, dengan apa yang dilakukan oleh Adam kakaknya. Pria bertubuh lebih kecil dari Alan itu langsung mencari lemari pendingin.


"Maafkan aku, Angel. Tapi aku sangat haus sekali!" seru Adam yang tahu-tahu sudah berada di area dapur kecil, apartemen Angelina.


Tentu saja Adam tidak sekedar ingin mengambil air dingin. Pria itu di sekitar dapur yang menurutnya adalah lokasi paling penting di dalam sebuah hunian. Ia bisa meraba Bagaimana kehidupan Angelina selama ini. Apakah gadis ini tercukupi atau tidak.


Akan tetapi, segala kekhawatirannya itu terjawab sudah. Ketika sepasang mata elangnya melihat beberapa barang kebutuhan pokok masih berjajar rapi di dalam lemari pendingin. Sehingga, dirinya yakin jika Angelina tidak akan kekurangan makanan.


Sang papa memang sangat detil. Adam menarik sudut bibirnya hingga ke atas. Ia dapat membaca apa maksud dari Damian. Terbukti, dengan berubahnya penampilan Angelina saat ini. Sepertinya, hal itu yang akan ia cari tau jawabannya.


"Angel, kenapa kau pergi dari rumah?" tanya Alan yang kini sudah berada di depan meja makan. Karena Angelina nampak mengeluarkan makanan dari dalam box yang ia bawa.


"Darimana kau tau alamatku?" Bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya, Angelina justru melontarkan pertanyaan juga. Karena dirinya heran. Setelah satu pekan, Alan baru mencarinya. Apakah dirinya tidak ada artinya sama sekali?


"Ya sudah. Kau jawab saja pertanyaanku!" Mendapat jawaban seperti itu dari istrinya, seketika amarah menguasai dada Alan Jackson. Karena itu, langsung meraih lengan Angelina dan menariknya. Hingga, tubuh tinggi ramping Angelina merapat padanya.


Kedua mata Angelina pun mendelik. Sepasang telapak tangannya ia gunakan untuk menahan tubuh bagian depannya agar tidak menabrak dada bidang Alan. Akan tetapi, Angelina tak dapat membohongi perasaannya, sebab detak jantungnya berdegup tak beraturan.


"Susah sekali ya, menjawab pertanyaan dari suamimu ini, hah?" tanya Alan dengan penuh penekanan pada setiap kata yang terlontar dari bibir seksinya itu.


"Lepaskan aku! Jangan terlalu berlebihan terhadap hubungan kita, Al!" balas Angelina sarkas.


Ekhem!


Adam berdehem keras, hingga sosok yang saling menatap tanpa jarak itu memisahkan diri mereka. Alan menelan ludahnya. Ia bahkan lupa jika sang kakak juga ada di tempat yang sama dengannya.


Tak berbeda dengan Angelina, kedua pipinya juga merona merah lantaran malu yang teramat sangat. Entah, apakah ia masih sanggup mengangkat wajahnya saat berbicara dengan Adam nanti.

__ADS_1


"Seperti anak kecil!" Adam berkata dengan nada bicara datar, bahkan tanpa ekspresi. Ia justru terlihat menarik kursi meja makan, kemudian mengurutkan tangannya untuk meraih potongan kue yang telah Angelina sajikan di atas piring.


"Enak. Mending duduk, terus makan kue sambil ngobrol!" ujarnya tenang.


Angelina yang mengerti maksud Adam pun langsung ijin untuk membuat minuman.


"Tindakanmu barusan sungguh bodoh! Memerlukan!" sarkas Adam masih tanpa menoleh ke arah adik satu-satunya ini. Dia tetap menggigit potongan cake dengan santai. Bahkan, sambil menjilati jarinya yang terkena tetesan keju.


"Aku suaminya. Apa yang kulakukan barusan itu wajar!" kilah Alan, membenarkan perbuatannya.


"Apanya yang benar? Memojokkan wanita? Apa menurutmu adalah satu tindakan yang benar?" cecar Adam mencoba membuka pintu kesadaran Alan. Tapi sepertinya nihil dan sia-sia saja.


"Memojokkan bagaimana? Dia itu kan istriku, sedangkan yang dia lakukan adalah sebuah tindakan yang tidak sopan. Dia seperti tidak menganggap kehadiranku!" sahut Alan lagi. Seraya menjejalkan potongan cake kedalam mulutnya. Hingga keju meleleh di sekitar mulut. Adam melemparkan kotak tissue ke hadapan pria yang sialnya memiliki status sebagai adiknya.


"Kau ini. Apa kau tidak merasa bahwa tindakanmu barusan itu menyebalkan. Jelas saja dia tidak akan menjawab pertanyaanmu," ucap Adam menahan geram. Ia bahkan mencengkeram lututnya sendiri.


"Kau itu tau apa, Kak. Punya wanita juga tidak. Bagaimana kau bisa mendikte tindakanku barusan pada Angelina!" ketus Alan. Menusuk sisi sensitif dari seorang jomblo sejati.


Adam semakin mengencangkan kepalannya. Bahkan kedua tangannya kini saling beradu. Mulutnya terkunci rapat, namun bukan lantaran takut. Akan tetapi, Adam lebih memilih dan memilah ketika hendak berbicara.


Adam menyeringai sebagai nada meledek. "Aku, yang tidak pernah mempunyai wanita saja tahu bagaimana cara dan sikap seperti apa yang pantas ditunjukkan kepada mereka. Tidak sepertimu, di kasih istri dua tapi tidak tau bagaimana menetapkan jalinan itu agar berjalan semestinya. Hingga, Daddy terpaksa memisahkan kalian. Apa setelah sampai sini kau masih tidak sadar, Al?"


"Kau!"


Mendengar ucapan dari sang kakak, Alan justru kesal. Ia pun sontak berdiri dan menggebrak meja makan.


"Jika hanya ingin mengacau. Sebaiknya kau pergi dari rumahku!" perintah Angelina. Seraya meletakkan nampan yang berisi cangkir minuman dengan kasar. Kedua matanya menatap tajam ke arah kedua pria yang ada di hadapannya ini.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2