Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )

Salah Kamar ( Adik Iparku, Istriku )
Bab. 34. Tak Ada Jarak Diantara Keduanya.


__ADS_3

Angelina melepas rangkulannya. Ia mendongak dan seketika tatapan mereka kembali bertemu, karena Alan memang tengah menunduk.


Deg deg ... deg deg ...


Kembali ia merasakan debaran hebat di dalam dadanya. Seakan jantungnya tidak berdetak dengan normal. Warna keabuan campur biru muda di iris mata, Alan selalu mampu membiusnya. Karena, itulah sejak dulu ia selalu membatasi jarak dengan pria tampan yang memiliki jambang di sekitar rahangnya ini.


Alan tak dapat berkedip. Wajah sembab dengan mata sayu penuh kecewa ini sama sekali tidak marah maupun menyalahkan dirinya. Hal itu justru membuat dirinya semakin merasa bersalah. Tanpa sadar, Alan pun menitikkan air matanya. Jakunnya turun naik merasakan sesak itu.


Kenapa dia memasang wajah itu. Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa ada rasa asing yang menjalar di dalam dadaku. Katakan? Apa yang harus aku lakukan sekarang.


Alan semakin tak dapat menguasai perasaannya. Ia tau, kedepannya Angelina pasti akan menderita. Apalagi Alan tau jika sahabatnya sangat susah menelan obat. Harus ada yang merawatnya. Dan ia ingin selalu ada di sisi Angelina sekarang. Merawat wanita yang mengandung calon anaknya itu.

__ADS_1


Alan menunduk hingga wajahnya dengan Angelina kian dekat. Wanita di bawahnya ini juga diam saja. Seakan terhipnotis dengan apa yang terpampang di hadapannya. Tatapan Alan yang begitu berbeda, dan belum pernah ia lihat sebelumnya. Begitu hangat hingga merasuk kedalam relung hatinya yang terdalam.


Alan semakin menundukkan tubuhnya, hingga ia memegang kedua bahu Angelina. "Aku akan mengatakan pada semuanya. Mengenai keadaanmu saat ini. Aku akan merawatmu, merawat kalian berdua." Alan menurunkan tangannya seiring raganya yang kini telah berjongkok di hadapan Angelina.


Tatapannya mengarah pada perut yang masih rata itu. Ada rasa tak percaya dan bahagia datang bersamaan. Juga dengan rasa bersalah karena hasil perbuatannya malam menjadi darah daging di dalam rahim wanita yang sama sekali tidak ia inginkan untuk mengandung keturunannya. Alan, mengikuti apa yang ia rasa dan inginkan dalam hatinya. Tangannya terulur ke depan, hingga Angelina menahan napasnya.


Tatkala, Alan meletakkan telapak tangan untuk mengelus perut tanpa ijin padanya lebih dikit. Ingin marah, tapi tak bisa. Nalurinya justru merasa hangat atas perlakuan pria itu sejak mengetahui kehamilannya.


Angelina seketika menundukkan pandangannya. Ia meresapi sakit yang ia rasakan seorang diri. Tak ingin terlihat semakin mengenaskan di hadapan suami dari kakak sepupunya ini. Ya, bahkan Angelina tidak mau mengakui Alan sebagai suaminya. Karena, ia sungguh sangat sadar akan posisinya.


Melihat hal itu, Alan menarik tangan yang ada di perut Angelina. Lalu, beralih ke wajah yang menunduk dengan rambut menutupi paras. Alan menyibak rambut itu, hingga ia kembali melihat luka, berderai di kedua pipi Angelina.

__ADS_1


"Jangan memendam perasaanmu itu sendirian. Aku terima jika pada saat ini kau ingin meneriaki ku, bahkan menamparku. Lakukanlah. Aku pantas mendapatkan itu darimu. Aku semakin merasa bersalah dan sangat jahat, ketika melihatmu seperti ini. Ku mohon, An. Pukul saja aku! Kurangi sesakmu!" Alan meraih tangan Angelina menggerakkannya untuk memukul wajahnya.


Akan tetapi wanita itu menahan gerakannya. Dengan saya masih berderai serta semakin deras mengalir, Angelina berucap.


"Kau melakukan itu tanpa sadar. Lalu, apa pantas aku menghukummu? Semua ini adalah takdirku. Takdir kita. Apa aku juga harus memukul diriku sendiri?" cecar Angelina sambil terisak. Ia sudah mengusap air matanya akan tetapi aliran itu sekan tak ada habisnya.


Melihat hal itu, dada Alan semakin sesak, hingga air mata itu pun tumpah juga di wajahnya. Ini adalah pertama kali Alan Jackson menangis selama ia dewasa.


Keduanya saling tatap dengan perasaan berbeda. Perasaan yang sangat sulit Alan jabarkan rasanya. Jemarinya terulur untuk mengusap air yang menyebabkan kedua mata Angelina sembab. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tak ada jarak lagi diantara wajah keduanya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2