Salju Di Amsterdam

Salju Di Amsterdam
salju di Amsterdam bab 11.


__ADS_3

Salma bersembunyi di balik tubuh Devin saat melihat Sandi, sang papah masuk ke dalam restoran dimana mereka tengah makan siang bersama.


"Ada apa Salma ?"


Tanya Devin memperhatikan tingkah aneh Perempuan yang berada di samping nya itu.


"Bang, ayo pulang sekarang !"


Ujar Salma lalu beranjak kemudian berlari kecil meninggalkan restoran itu, gegas Devin mengikuti Salma yang langsung kabur.


"Salma tunggu !"


Seru Devin membuat Sandi menoleh mendengar seseorang memanggil nama Salma.


"Ada apa pak sandi ?"


Tanya klien nya memperhatikan sandi seperti tengah mencari seseorang.


"Ah tidak....!"


elak sandi, mungkin itu hanya pendengar nya saja.


Devin menghampiri Salma yang berdiri di dekat mobil nya, gegas ia memeluk Salma yang langsung mematung.


"Ada apa Salma ? kenapa lari ?"


Salma mendongak menatap wajah pria tampan itu.


"Ada papah, aku belum siap mempertemukan mu dengan papah ?!"


"kenapa ?"


tanya Devin tak paham, padahal ia ingin sekali bertemu dengan orang tua Salma.


"Ayo pulang bang !"


Devin langsung mengangguk lalu membuka pintu mobil.


"Masuk lah....!"


Salma menurut lalu duduk di samping kemudi.


"langsung pulang atau mau pergi ke hotel ?"


"hm, langsung pulang saja, hm... Salma banyak tugas kuliah bang !"


"ya sudah, Ambillah ini untuk mu !"


Devin menyodorkan paper kecil berwarna coklat berisi jam cantik berwarna merah muda.


"Untuk Salma ?"


Devin mengangguk.


"Abang beli saat di Amsterdam, Sengaja untuk mu...Abang yakin akan kembali bertemu dengan mu!"


Salma termenung mendengar hal itu, sebenarnya beberapa kali mereka bertemu di Amsterdam, hanya saja ia yang selalu menghindar.


Salma kembali teringat pada malam itu, salju yang dingin dan kota Amsterdam yang menjadi saksi kedua nya bersama.


Salma membiarkan mobil melaju mengantar kan nya pulang ke rumah, kenapa rasanya enggan berpisah dengan Devin.


"terima kasih bang !"


Devin mengangguk sambil mengulum senyum.


**


beberapa hari berlalu,

__ADS_1


Salma mulai sibuk dengan jadwal kuliah nya, Dan Devin juga sibuk dengan pekerjaan nya. berulang kali sang bunda meminta nya untuk kembali memikirkan keputusan nya itu, dan Devin bersikeras untuk tetap membatalkan pernikahan nya dengan Alena.


Sementara sang ayah tak ikut campur karena tahu bagaimana Devin, ia keras kepala dan susah di atur, entah siapa perempuan yang Devin maksud, Ramlan sendiri belum mencari tahu karena akhir akhir ini ia sangat sibuk.


*


Sore ini Salma meminta Devin menjemput nya di kampus, Ia merasa pusing dan mual.


"sal, aku boleh tanya sesuatu ?"


tanya Arumi memindai wajah Salma yang terlihat pucat.


"Apa rum, tanya saja!"


Jawab Salma duduk di kursi menunggu kedatangan Devin.


"Siapa pria yang suka jemput kamu sal ?"


Salma langsung menoleh ke arah Arumi yang menatapnya lekat.


"hm, Aku...itu teman!"


jawab Salma lalu beranjak dari duduknya saat melihat mobil Devin berada di sebrang jalan.


"aku pulang ya, bang Devin sudah datang ?!"


"Devin ?"


tanya Arumi masih belum paham.


"Ya, aku dan dia bertemu di Amsterdam !"


Arumi mengangguk lalu membiarkan Salma pergi setelah cipika cipiki dengan nya.


Devin memperhatikan Salma yang hendak menyebrang, Adit juga berada tidak jauh dengan Salma yang berdiri di depan gerbang kampus.


siapa sih pria itu ?


Adit melebarkan matanya saat melihat mobil melaju kencang ke arah Salma yang tengah menyebrang jalan.


Gegas Adit berlari untuk menarik tubuh Salma agar menghindari mobil tersebut.


"Ah....!"


Salma terkesiap melihat mobil tiba tiba melaju kencang ke arah nya, Devin segera keluar dari mobil. Salma terhempas ke samping saat tiba tiba seseorang menarik tubuh nya.


"Salma....!"


Seru Devin bergegas menghampiri Salma dan membantu nya bangkit dari bawah.


"kamu tidak apa-apa Salma ?"


Ujar keduanya bersamaan.


Salma menatap Adit dan Devin yang terlihat cemas.


"hm, enggak apa apa !"


Salma langsung meraih tubuh Devin yang merengkuh nya.


"terimakasih kak !" ujar Salma pada Adit.


"ya, lain kali hati hati kalau menyebrang jalan !"


Adit langsung pergi meninggalkan kedua nya.


"Kamu enggak apa apa ?"


Salma menggeleng kan kepala nya cepat.

__ADS_1


"Ya sudah ayo pulang !"


Salma menoleh ke arah Adit yang pergi menggunakan motor sport nya.


keadaan begitu cepat berubah, Ia terus menjauh dari Adit karena tidak ingin memberikan harapan, sementara akhir akhir ini ia sering kali merasa mual dan ingin muntah.


"bang, aku lemas banget ! rasa nya pusing dan mual !"


Ujar Salma membuat Devin tertegun sejenak lalu menoleh ke arah Salma.


"ya sudah kita beli tes alat kehamilan saja, kalau kamu hamil Abang harus segera menikahi mu...!"


Salma terpaku mendengar kata menikah, Apa ia siap berada dalam ikatan itu ?


Devin melajukan mobilnya menuju apotek, Gegas ia turun meninggal kan Salma yang mematung sendiri.


"Kita langsung ke hotel saja ya ?"


Salma mengangguk saja.


Devin langsung mengajak Salma ke lantai kamar paling atas, residen suite.


Salma langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk tersebut, tubuh nya benar benar lemas. entah bagaimana ia berbicara pada sang papah jika ia benar benar hamil.


Devin mengusap kepalanya sayang, Salma langsung menangkap tangan itu dan meminta Devin untuk memeluknya.


"Mau cek sekarang ?"


Salma tertegun sendiri, ia sudah telat lebih dari satu bulan ini dan di pastikan bahwa ia memang hamil.


"Aku takut papah marah ?"


"Abang yang akan bicara dengan papah mu Salma ?" ujar Devin memeluk nya hangat.


Salma tidak meragukan kesungguhan Devin, pria itu menunjuk kan tanggung jawab nya. Salma bersyukur karena pria yang tidur dengan nya adalah pria baik, bukan pria hidung belang seperti kekhawatiran nya.


"Ya sudah....!"


Salma beranjak dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi membawa tes alat kehamilan.


tak membutuhkan waktu lama, garis dua itu benar-benar nyata terpatri dalam tas pack.


Salma tertegun sendiri dengan tangan yang bergetar, dalam rahim nya benar tumbuh kehidupan.


Salma takut kalau sang papah marah jika mengetahui hal ini.


"Salma ?"


seru Devin membuyarkan lamunannya.


Salma keluar dari kamar mandi dengan airmata di pipi nya, rasanya campur aduk. sedih, takut, khawatir....


"Aku hamil bang !"


Devin tertegun menatap alat yang di sodorkan oleh Salma.


"ya sudah kita temui papah mu, lebih cepat lebih baik Salma, aku akan menikahi mu !"


Ujar Devin dengan kesungguhan hati.


"tapi aku takut bang, aku tidak siap jika papah marah dan mungkin saja Papah akan memukul mu !"


"ya aku paham kekhawatiran mu, aku akan hadapi apapun resikonya Salma..!"


jawab Devin kemudian memeluk Salma.


Semua karena ulah Charles, pria itu benar benar tega. Salma akan menceritakan semua nya pada sandi berharap ia mau mengerti dan menerima Devin untuk mempertanggung jawabkan semua nya.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2