
Brug....
Salma dan Devin terkejut saat Sandi membuka pintu dengan keras, Sandi curiga karena tidak biasa nya Salma mengunci pintu dan benar saja dugaan nya ternyata ada seseorang di dalam kamar itu.
"Papah....?"
Seru Salma dengan wajah memucat.
"Sejak kapan kamu berada di sini !?"
Tanya sandi mengepal kan tangan nya kuat kuat sebab geram dengan keberadaan Devin di kamar itu.
"Dan kamu Salma ?"
tunjuk Sandi membuat Salma membeku.
"Papah kecewa karena kamu berbohong demi pria itu, kamu tidak ingat bahwa keluarga nya sudah menghancurkan keluarga mu !"
Ucap sandi lalu menghampiri dan menarik paksa Salma.
"Ampun pah maaf kan Salma !"
ujar Salma terisak menoleh ke arah Devin yang tidak bergeming.
"pergi kamu dari rumah saya!"
Usir sandi pada Devin.
"papah akan ajak kamu ke suatu tempat agar kamu tahu kenapa papah begitu menentang hubungan kalian berdua !"
Tambah sandi lalu menunjuk pintu keluar pada Devin.
"Salma Abang janji akan upayakan agar kita bisa bersama tanpa kebencian !"
Ujar Devin lalu pergi meninggalkan rumah dengan berat hati.
Ia pikir sandi tidak akan mengetahui bahwa Ia menelusup masuk tapi ternyata ia cukup pintar dan Sigap mengenal situasi.
Siang...
Devin menyandar kan tubuh nya di kepala ranjang lalu mengacak rambutnya sendiri karena pusing memikirkan hubungan nya dengan Salma.
Entah apa yang hendak sandi lakukan untuk menjauh kan Salma dari nya.
"Akh....!"
Desah Devin kesal karena di Amsterdam pun tidak ada kabar sama sekali.
"Devin....!"
seru Ariel dari luar memanggil adik nya itu.
__ADS_1
"Sebentar !"
Devin langsung menghampiri pintu kamar.
"Ada apa ?"
Tanya Devin dengan wajah semerawut.
"Kau yang kenapa ? ini sudah siang apa kau tidak berniat pergi ke kantor ?"
Tanya Ariel memindai wajah Devin.
Devin duduk di sofa yang berada di depan kamar nya.
"Semalam aku menemui Salma dan kami ketahuan !"
jawab Devin membuat Ariel terkekeh kecil.
"pantas Wajah mu semrawut seperti ini !"
Devin menghela nafas panjang lalu kembali bersandar.
"Katakan aku harus bagaimana ?"
"bersabarlah dan sekarang pergilah ke kantor ! kau ada meeting kan hari ini ?"
Devin mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamar untuk mandi.
***
Sandi masih menunjukkan raut kecewa nya pada Salma, dan Maura tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Ia sendiri tidak menyangka jika kedua nya masih nekat untuk bersama setelah hari itu dan mungkin saat di rumah sakit juga Devin lah yang menemani Salma.
"pah... maafkan Salma ?!"
Ujar Salma namun sandi tidak menjawab hingga mereka tiba di sebuah rumah sakit jiwa.
Salma menelan Saliva nya melihat rumah sakit jiwa yang berada di hadapannya, kenapa sang papah mengajak nya ke rumah sakit itu.
Sandi mengajak Salma untuk turun dari mobil, namun Salma tidak bergeming melihat beberapa pasien yang berada di depan rumah sakit itu.
Mereka hidup tapi seperti tidak bernyawa ? kenapa ?
"Ayo Salma !"
ujar sandi menarik tangan Salma.
"Kenapa papah mengajak Salma kemari ?"
Tanya Salma memindai wajah sandi dan Maura.
__ADS_1
"agar kamu paham kenapa papah menentang mu dengan Devin !"
Jawab Sandi lalu mengajak Salma menghampiri seorang perempuan yang duduk sembari menatap Poto seseorang.
"Sebenarnya papah tidak ingin kamu mengetahui kenyataan pahit ini, tapi papah tidak punya pilihan lain sebab kamu bersikukuh ingin bersama dengan Devin !"
Ujar sandi dengan wajah sendu.
"Sembilan belas tahun yang lalu Ibu mu mencari ayah mu ke Amsterdam !"
sambung sandi menjelaskan apa yang terjadi pada masa lalu hingga membuat ibu nya mengalami depresi karena kehilangan sosok yang sangat ia cintai.
"jadi ini ibu Salma ?"
Ujar Salma dengan wajah berkaca-kaca.
"sebenarnya ayah tidak setuju saat kamu mengatakan ingin berlibur ke Amsterdam karena di kota itu ayah mu menghilang !"
cakap Sandi membuat pilu dan sedih.
"Salma, papah menjaga mu dengan sebaik-baiknya agar tidak bertemu dengan keluarga Syarif tapi kenyataannya malah...."
Sambung sandi menundukkan kepalanya lalu memeluk Maura.
"Maafkan Salma pah ?"
"jadi sekarang papah tanya padamu ? apa kamu masih ingin bersama Devin ? papah pun tidak menginginkan keturunan keluarga mereka ada pada keluarga kita !"
Jawab sandi lalu memeluk Salma.
"Maafkan papah Salma !"
Salma menggeleng kan kepala nya, Sandi tidak salah dan seharusnya Ia menurut untuk kebaikan nya sendiri, tapi Salma malah terus mengikuti Perasaan nya.
Salma memindai perempuan yang tidak ada rasa dan diam seribu bahasa bahkan tidak merespon kehadiran nya.
"Apa tidak ada yang bisa membuat ibu sembuh ?"
Tanya Salma memindai wajah sandi.
"Mungkin kehadiran ayah mu akan mengobati luka nya, namun selama ini papah mencari dan tidak menemukan hasil apapun !"
Jawab sandi menyesali keadaan itu, ia sendiri tidak tinggal diam sebab kehadiran Ayah Salma akan mengobati sakit jiwa yang di derita oleh ibu nya Salma.
cukup lama Salma memperhatikan perempuan paruh baya itu, namun perempuan itu tidak beraksi sama sekali dan hal itu membuat Salma sedih.
*
**
***
__ADS_1
bersambung...