Salju Di Amsterdam

Salju Di Amsterdam
salju di Amsterdam bab 26.


__ADS_3

Devin mendatangi kejadian tempat perkara perkelahian Om dan ayah istri nya. Seseorang mengatakan bahwa keduanya menghilang entah kemana, perkiraan sementara mereka hanyut terseret arus sungai yang tidak jauh dari tempat itu. namun tidak ada yang berhasil mencari keberadaan mereka karena tempat tersebut cukup terjal dan tidak mudah untuk melakukan pencarian.


Devin tidak menyerah dan akan memberikan hadiah yang besar bagi siapapun bisa menemukan kedua atau salah satu nya.


Devin tertegun menatap ponselnya sendiri, entah kenapa Salma terus mematikan Ponselnya? padahal Devin ingin sekali mendengar suara nya, namun Salma seperti tidak merespon keinginan nya itu.


"Salma aku sangat rindu, jangan acuhkan aku seperti ini, Aku berada di Amsterdam untuk mencari keberadaan ayah mu dan berharap kalau apa yang terjadi hanya sebuah kekeliruan agar kita bisa bersama..."


Devin mengirim kan pesan tersebut kemudian memejamkan matanya lalu terlelap.


Tiga hari berlalu...


Salma termenung menatap benda pipih yang berada di atas meja belajar nya, sudah tiga hari ini ia tidak mengaktifkan ponsel tersebut.


Salma memutuskan untuk menjauhi Devin dan menutup semua cerita singkat yang pernah ada meskipun tersiksa, tapi Salma mencoba untuk menguatkan hati nya.


Salma tertegun saat merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam perut nya, Salma yakin ia tidak salah ia benar benar merasa kan sesuatu yang bergerak gerak.


Dokter bilang jika usianya sudah masuk empat bulan maka ia akan merasakan pergerakan bayi nya, Salma memejamkan mata dan bulir bening itu kembali mengalir.


Empat bulan berlalu semua berjalan begitu lambat, dan kebersamaan nya dengan Devin begitu singkat namun hal itu mampu membuat nya begitu dalam mencintai pria itu.


Tak mudah melupakan Devin walau kenangannya tak seberapa, namun hangat pelukan pria itu begitu Salma rindukan.


Salma menghela nafas panjang menarik ingus nya lalu menghapus air mata nya sendiri.


besok adalah jadwal ia periksa kandungan, sebulan yang lalu Devin datang memaksa ingin ikut serta, tapi besok tidak akan lagi karena pria itu juga berada jauh dari nya.


Salma membuka laci dan melihat satu set perhiasan yang menjadi mas kawin nya dengan Devin, sandi melarang nya memakai nya, dan Salma tidak menentang perintah sandi. Jika saja dulu ia menurut mungkin keadaan nya tidak akan seperti, tapi nasi sudah jadi bubur dan Salma tidak bisa kembali pada masa itu.


Salma beranjak dari duduknya lalu melangkah ke ranjang kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah padahal ia tidak banyak beraktivitas tapi rasanya letih. Ia menatap langit langit kamar dan Salma langsung memejamkan mata nya ketika bayangan keduanya di Amsterdam kembali memutar, Salma terpaku saat senyuman Devin membayangi benak nya.


kenapa susah sekali melupakan pria itu? semakin mencoba justru membuat nya begitu jelas nyata di pelupuk mata.


**


Pagi...


Salma memicingkan matanya saat matahari menembus masuk ke dalam kamar nya, waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Salma, sayang kamu sudah bangun ?"


Seru seseorang dari luar membuat Salma tertegun sejenak.

__ADS_1


"Salma....!"


ulang Maura dari luar mengetuk pintu, pagi ini jadwal Salma periksa kandungan nya ke rumah sakit.


Salma beranjak dari ranjang lalu menghampiri pintu kemudian membuka nya.


"Salma, kamu baru bangun ?"


Salma mengangguk.


"jam delapan Nanti kita ke rumah sakit, kamu enggak lupa kan ?"


Salma mengangguk lagi.


"ya sudah cepat siap siap setelah itu kita sarapan ya !"


"ya mah !"


jawab Salma masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian...


Sandi memperhatikan Salma melangkah ke meja makan, tubuh nya sedikit berisi dan mungkin itu pengaruh kehamilan nya.


ujar sandi saat Salma sampai di hadapan nya.


"Ya pah...!"


jawab Salma singkat tanpa menatap wajah sandi.


"Kamu butuh Salma ?"


Tanya sandi menilik wajah Salma tampak sendu.


"Tidak pah, Salma tidak butuh apa apa !"


sandi mengangguk.


"Salma boleh ketemu sama ibu ?"


Tanya Salma membuat sandi tertegun sejenak menatap wajah Salma yang menunggu respon nya.


"Ya nanti ada waktu nya kamu sabar ya Salma !"

__ADS_1


Salma tak menjawab, ia tidak tahu kenapa sandi menyembunyikan keberadaan ibu kandung nya.


Setelah sarapan sandi pamit lebih dulu ke kantor, si kembar juga sudah pergi sejak tadi pagi.


"sebenarnya aku kemarin udah ada rencana untuk menikah, tapi batal !"


Ujar seorang wanita dalam televisi, Salma tertegun lalu menoleh ke arah televisi.


"kenapa batal mbak Alena ?"


Ujar presenter acara tersebut, Salma memperhatikan apa yang tengah di bahas. Alena merupakan pengusaha perempuan muda yang sukses dengan beberapa prestasi nya.


"Batal karena calon suami ku memilih perempuan yang lebih dulu tidur dengan nya !"


jawab Alena menundukkan wajah berpura pura sedih.


"kok bisa sih mbak Alena ?"


Alena terkekeh lalu menyeka air matanya.


"ya seperti itulah mungkin kita enggak jodoh !"


jawab Alena tersenyum getir, Ia berharap Devin atau Salma melihat acara tersebut hingga mereka sadar bahwa ia kecewa dan tidak terima begitu saja.


Salma memalingkan wajahnya dari televisi, Maura pahami apa yang Salma rasa kan.


"ya sudah Salma ayo kita berangkat sekarang !"


Salma mengangguk lalu beranjak dari duduknya mengikuti langkah Maura.


"mamah paham dengan apa yang kamu rasakan, tapi kamu tidak perlu menghiraukan apapun yang membuat mood kamu buruk, ibu hamil itu tidak boleh stres jadi bebas kan apa pun yang menjadi beban !"


Ujar Maura merangkul pundak Salma.


*


**


***


bersambung..


happy weekend, terima kasih sudah mampir ke novel ini, Author senang dan semangat sekali kalau reader like and komentar 🤭🤭😍😍💪🙏

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2