
Waktu berlalu hingga malam terus berganti dan Salma menguatkan hati nya untuk tetap bisa menjalani kehidupan nya jauh dari Devin dan buah hatinya.
Bersembunyi dibalik senyum pahit nya tanpa menunjuk kan betapa hancurnya menggenggam kepedihan, Salma mengingat keadaan sang ibu untuk menguatkan hati melupakan sosok yang begitu ia dambakan.
Hari hari berlalu tak berarti dan saat libur ia memilih datang ke rumah sakit jiwa untuk merawat sang ibu, Salma berharap kalau Sang ibu bisa sembuh dan mengatakan hal yang sebenarnya.
Sandi sendiri tidak bisa berbuat apa-apa Sedangkan hingga saat ini ia tidak bisa menemukan Ayah Salma.
Sandi tahu kalau Salma tersiksa karena terpisah dengan anak nya, Namun semua sudah menjadi keputusan bersama dan sandi tidak ingin ada keturunan Syarif di keluarga nya.
Waktu terus bergulir..
hingga lima tahun berlalu Salma sudah menyelesaikan kuliah nya, Ia lulus dengan nilai terbaik sebagai dokter psikiater.
Sebenarnya Ia tidak ingin mengambil jurusan itu namun semua ia lakukan untuk dirinya sendiri agar tahu bagaimana caranya tenang dalam guncangan rasa pahit yang selalu menyesakan dada.
Setidaknya Salma banyak belajar tentang kejiwaan dan Salma lega karena sedikit demi sedikit sang ibu mulai merespon nya, tersenyum saat Salma datang dan tidak menolak saat Salma menyuapinya makanan.
"Kak Charles mau nikah kata nya, kak Salma mau ikut ke Amsterdam ?"
Tanya Hana menatap wajah Salma yang langsung memucat mendengar nama kota itu.
"Ikut saja sekalian kita berlibur ?"
Ujar Maura dan di anggukan oleh Salma, enam tahun yang lalu membekas di hati.
Salma menyeka air matanya lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Kasihan kak Salma Mah !"
Maura mengangguk lalu menundukkan wajahnya kemudian bulir bening itu jatuh tak tertahankan.
Tiga tahun yang lalu Charles kembali datang untuk melamar Salma, namun dengan tegas Salma menolak nya. sebenarnya Charles ingin menebus kesalahannya, namun Salma sudah menutup pintu hati nya untuk pria lain.
Maura tahu hingga saat ini Salma mencintai Devin, sebab potret nya tidak pernah lepas dari genggaman.
__ADS_1
Maura juga tahu kalung liontin yang Salma pakai terdapat Poto mereka berdua, dan Salma tidak pernah lepas dari liontin itu.
Entah dimana kini Devin dan anak mereka, dan sekarang pasti sudah besar.
Salma masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang mengingat kejadian saat ia melahirkan bayi nya, dan Devin berjanji akan menjemput nya tapi lima tahun berlalu hanya luka dan airmata yang menjadi saksi pengharapan nya tiada batas akhir.
Salma meringkuk lalu memejamkan mata nya yang basah kemudian tertidur, tak ada pelarian yang mudah selain tidur dan melupakan semua rasa sakit yang menganga.
...----------------...
Seorang anak perempuan berusia lima tahun berjalan di belakang Dady nya dengan cemberut.
Devin menoleh ke arah pelangi yang menubruk tubuh nya.
"Daddy kenapa berhenti mendadak sih, his...!?"
Ujar Pelangi memanyunkan bibirnya membuat Devin terkekeh kecil.
"jangan marah seperti itu!"
Namun pelangi malah memalingkan wajahnya.
Pinta Pelangi memohon pada Devin.
"Oke kita akan pergi tapi besok saat Daddy menyelesaikan pekerjaan."
"Baiklah...!"
jawab Pelangi berjalan sambil menundukkan kepalanya masuk ke dalam rumah.
Lima tahun ini Devin tinggal di Amsterdam bersama Ramlan dan Miska, Bukan hanya mengurus pekerjaan tapi Devin masih mencari sosok itu.
Pernah beberapa waktu mendatangi Kediaman sandi karena Devin ingin sekali bertemu dengan Salma, namun dengan tegas sandi mengatakan untuk enyah dari kehidupan Salma sebab Salma akan di jodohkan dengan Anak kolega bisnis nya, namun hingga kini hal itu tidak pernah terwujud karena Salma selalu menolak dengan alasan ingin menyelesaikan kuliah dan hal lainnya.
Devin menghela nafas berat berdiri di bawah guyuran salju dan ia merasa dahaga karena merindukan Salma, jiwa nya selalu meringis dan pernah berpikir untuk menculik Salma namun urung karena Ia tidak mau terus bermasalah dengan sandi.
__ADS_1
"Salma, aku sangat merindukan mu ! apa kau masih ingat salju lah yang menjadi saksi kita bersama...!"
Gumam Devin menangis dalam hati, hingga saat ini ia masih berharap bisa menemukan ayah Salma.
Devin sudah janji akan menjemput Salma, tapi hingga saat ini ia masih tidak bergeming dalam rindu.
Perlahan Devin masuk ke dalam rumah dan melihat Miska tengah menyuapi pelangi makan.
"Daddy jangan lupa karena sudah janji pergi main ice skating !"
Ujar pelangi sambil mengunyah makanan nya dan hal itu membuat Devin gemas.
"Ya sayang, Daddy kan besok libur !"
Jawab Devin duduk di hadapan pelangi.
Putri nya itu sudah terbiasa hidup tanpa sosok ibu, jadi ia tidak pernah menanyakan tentang mommy nya.
Miska lah yang selama ini sabar merawat nya, dan sang ibu selalu mengatakan kalau pelangi anak Oma.
Sang ayah juga mencari keberadaan adik dan ayah nya Salma tapi belum mendapatkan hasil.
Ia selalu menasehati Devin untuk sabar dan fokus pada Pelangi, dan yakini bahwa Apa yang menjadi takdir nya akan menemukan jalan nya.
"Kamu yakin tidak mau mencari ibu untuk Pelangi ?"
tanya Miska setelah pelangi masuk bersama pengasuh nya.
"Ibu nya masih ada dan Devin hanya butuh waktu sampai bisa menemukan Om dan ayah nya Salma, Tak segampang itu mengganti Salma Bu, Devin hanya menginginkan nya !"
jawab Devin tetap teguh pada cinta mereka berdua, meskipun ia tidak tahu apakah Salma masih sendiri atau sudah bersama orang lain.
**
***
__ADS_1
****
bersambung...