
Maura mengatakan kalau Sandi akan kembali ke Indonesia besok siang, Hana bersiap untuk menemani Salma di rumah sakit sementara Hani memilih di rumah bersama Maura.
Malam itu Salma merasa pusing dan ingin muntah, Sejak tadi juga Salma merasa kan pergerakan dari janin nya.
"kenapa kak ?"
Tanya Hana memperhatikan Salma yang gelisah.
"hum, tidak Hana kakak hanya merasa pusing sedikit !"
jawab Salma tanpa ekspresi wajah.
"Mau Hana panggil kan dokter kak ?"
Tanya Hana mendekati Salma yang duduk di ranjang.
"Tidak usah Salma Kakak tidak apa-apa! kakak tidur saja !"
Hana mengangguk lalu kembali ke sofa kemudian berbaring sambil memainkan ponsel nya.
Malam semakin larut dan Salma masih terjaga dari tidur nya sementara Hana sudah terlelap sejak tadi.
Salma menoleh pada pintu yang terbuka, Ia pikir dokter atau suster masuk untuk memeriksa keadaan nya.
Salma tertegun saat Devin kembali mendatangi nya, pria itu menggunakan switer Hoodie berwarna hitam dengan celana training berwarna merah maroon.
"Bang.... kamu datang lagi ?"
Tanya Salma hampir tidak percaya dengan penglihatan nya.
"Aku tak bisa tidur karena terus memikirkan mu Salma, Jadi aku memberanikan diri untuk datang !"
jawab Devin membuat Salma termangu menatap wajah tampan suami nya itu.
"hum kenapa kamu belum tidur ?"
Tanya Devin kemudian mencium pipi Salma singkat.
"Aku......!"
Salma terpaku mendapat perlakuan seperti itu dari Devin.
"Apa kamu juga merindukan Abang ?"
Salma diam tidak menjawab pertanyaan dari Devin, pria itu langsung naik ke ranjang membuat Salma menganga.
"Bang kamu mau apa ?"
__ADS_1
Tanya Salma tertegun saat Devin mengajak nya untuk berbaring lalu merengkuh tubuh nya yang kecil.
"Aku tidak bisa menahan diri Salma, dan aku tersiksa dengan keadaan ini !"
Ujar Devin mencium pipi nya lama hingga Salma terpaku sendiri.
"Aku ingin melewati malam ini bersama dengan mu, Aku rindu Salma !"
Kedua nya bersama tidak menjadi dosa karena kedua nya terikat pernikahan dan memang seharusnya kalian bersama.
Beberapa waktu kemudian Salma ikut terlelap bersama Devin, pria itu memeluk nya dari belakang.
Entah kenapa Salma merasa nyaman dan hilang kegelisahan nya saat bersama Devin, Ia bahkan tidak segan membalikkan tubuhnya lalu memeluk pinggang Devin.
benar kata Ariel kalau Salma sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran nya, dan selama ini ia sakit karena terlalu melawan keinginan nya.
Hana terbangun ingin ke kamar mandi dan tertegun saat membuka gorden penutup di mana menampakkan dua manusia yang tengah terlelap dalam cinta.
Hana tersenyum lebar lalu kembali menutup gorden dan berpura pura tidak tahu keberadaan Devin di ranjang itu.
Waktu menjelang subuh keadaan begitu dingin dan Salma menarik selimut yang melorot ke bawah.
Tertegun saat melihat wajah tampan tertidur dengan pulas di samping nya, Ini adalah malam pertama yang mereka lalui bersama selain di Amsterdam.
Salma tersenyum menatap wajah Devin yang tenang dan terdengar suara dengkuran halus nya.
Ujar Salma membangun kan Devin sebab pagi pagi sekali Maura akan datang menggantikan Hana menemani nya di rumah sakit.
"Aku tidak mau Salma, aku ingin selalu berada di dekat mu !"
lirih Devin lalu memeluk Salma erat.
"bang kau harus siap dengan semua kemungkinan buruk yang terjadi, bisa saja kalau pada akhirnya kita berpisah !"
Ujar Salma membuat Devin melebarkan matanya.
"Apa Salma ?"
"bang, seharusnya kita belajar dari sejarah untuk terbiasa bersama !"
"Aku tidak sanggup Salma !"
Sanggah Devin kemudian mencium bibir Salma hingga tak jadi melanjutkan bicaranya.
Salma mendorong dada bidang milik Devin pelan lalu melepaskan pagutan bibir keduanya.
"jangan menciptakan kenangan manis yang kelak akan membuat ku tersiksa !"
__ADS_1
"Kenapa harus tersiksa Salma yakinlah kita akan bersama !"
Salma terkekeh pahit tak ingin membayangkan hal manis yang mungkin saja hasil nya lebih dari kata pahit.
"Aku akan berusaha agar kita bisa bersama dan setelah itu kita akan tinggal di Amsterdam !"
Cakap Devin membuat Salma tertegun mendengar dan mengingat apa yang terjadi di kota bersalju itu.
Salma memalingkan wajahnya lalu bergeser sedikit dari Devin kemudian termenung sendiri.
"Aku tidak mau berharap banyak bang, saat ini aku hanya ingin menata hati ku dan bersiap atas segala kemungkinan yang akan terjadi !"
Ujar Salma menoleh pada Devin.
"meskipun sebenarnya aku ingin bersamamu tapi aku tidak bisa membantah papah dan mamah !"
sambung Salma membuat Devin tertegun.
"Mereka yang sudah membesar ku dari kecil, Aku hanya bisa menurut selain itu aku pasrah dengan keadaan jika kelak kita....!"
Salma menunduk lalu menitikkan air mata nya.
"Hanya dengan cara itu akan membalas kebaikan mereka, tenaga, waktu dan materi yang mungkin tidak terhingga..!"
Devin merengkuh tubuh Salma lalu mencium pipi Salma berulang kali.
"Jadi kamu akan tetap memilih untuk berpisah jika keadaan nya tetap sama !"
"Maafkan aku bang !"
jawab Salma menangis memeluk Devin.
"bukan orang tua ku yang membuat masalah ini tapi kenapa papah mu menyertakan semua nya !"
jawab Devin menyesal kan keadaan itu.
"Abang akan tetap berusaha mencari keberadaan ayah mu Salma, jika jenazah nya tidak ada aku yakin beliau masih hidup !"
"jangan terlalu berharap bang sebab kejadian nya sudah begitu lama dan Salma sendiri tidak yakin jadi untuk kedepannya kita persiapkan diri saja !"
ujar Salma begitu memilukan.
*
**
**
__ADS_1
bersambung...