
Salma memperhatikan Adit yang tengah bermain basket dengan Hana, Pria itu memang jago bermain basket, di kampus Adit menjadi idola para kaum wanita. Mereka kenal saat Salma masuk team cheers leader.
Salma mengagumi Adit karena bukan hanya wajah nya yang tampan, tapi ia juga Smart, Adit merupakan mahasiswa yang aktif dan berprestasi.
Seharusnya Ia bangga karena Adit menjatuhkan pilihan pada nya, lagi lagi Salma berandai andai sendiri. kalau saja ia tidak pergi ke Amsterdam mungkin hidupnya akan baik baik saja.
Salma membereskan barang-barangnya sendiri, lepas magrib mereka akan kembali ke Jakarta.
"Salma...!"
seru sandi lalu sedikit membuka pintu kamar, terlihat Salma tengah membereskan barang barang nya.
"boleh papah masuk ?"
tanya sandi melihat wajah Salma yang tertegun melihat Ia berada di ambang pintu.
"masuk pah, tidak apa apa !"
jawab Salma lalu sandi menyembul masuk ke dalam kamar dengan membuka lebar pintu.
"kamu sudah bersiap pulang ?"
Salma mengangguk, sandi memindai wajah Salma sedikit pucat.
"kamu sakit nak ?"
Tanya sandi menilik wajah Salma yang termangu.
"Papah dengar dari adik mu, kau semalam muntah terus ?!"
Salma tersenyum hambar mendengar penuturan Sandi.
"Hm, ya Salma hanya masuk angin pah!"
jawab Salma, Sandi mengangguk lalu berbincang hal lainnya.
Salma mengalihkan pembicaraan karena khawatir sandi curiga.
**
Charles terus memikirkan Salma, ia benar benar menyesali perbuatannya. sedangkan Salma sudah menutup diri dari nya, Ia tidak bisa memaafkan kesalahannya itu.
Charles berpikir untuk pulang ke Indonesia, beberapa waktu lagi kuliah nya selesai, semoga Salma mau memaafkan nya.
Attar memperhatikan Charles yang melamun sendiri, entah apa yang tengah adik nya pikir kan.
"Charles apa kamu baik baik saja..?"
Tanya Attar membuyar kan lamunannya.
"tidak kak, aku hanya ingin segera pulang ke Indonesia !"
"oh kakak kira kenapa ?"
__ADS_1
"kak, pernah dengar mami mengatakan kalau Salma bukan anak kandung om sandi ?!"
Attar mengangguk, Ia juga pernah dengar namun siapa orang tua nya menjadi rahasia yang tidak seorang pun tahu terkecuali Sandi dan Maura.
"Salah enggak kak kalau Aku suka sama Salma ?"
tanya Charles membuat Attar tertegun, tidak salah karena Salma cantik dan juga baik.
"Tidak Charles coba saja kamu raih hati nya !"
jawab Attar senyum menepuk pundak adik nya itu.
"sudah malam, ayo istirahat !"
Charles mengangguk lalu beranjak masuk ke dalam kamar.
****
Salma dan yang lain nya sudah berada dalam mobil, Sandi memperhatikan Salma yang sibuk dengan ponselnya.
Sebelum pulang mereka berbincang sebentar, Salma minta maaf pada Adit karena tidak bisa menerima ajakannya untuk menikah, Alasannya karena Salma ingin fokus pada kuliah nya dulu, namun apa jawaban Adit ?
"baiklah Salma aku akan menunggu sampai kamu siap ?"
Salma termangu sendiri, tetapi Maura cerita kalau alasan sebenarnya adalah salma sudah memiliki pilihan sendiri.
Sandi tidak tahu siapa pria yang di maksud oleh Salma, Ia berharap kalau Salma tidak salah pilih pria. apa mungkin pria itu yang beberapa hari ini menjemput Salma ke kampus?
Setengah jam kemudian Salma terlelap, si kembar lebih dulu tertidur. Hanya sang istri yang masih terjaga.
"Pelan saja sayang, yang penting kita selamat sampai Jakarta ?!"
Sandi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mesra pada istrinya itu.
**
Devin kira Salma akan pulang sore ini, tapi ternyata tidak. kekasih nya itu lepas magrib baru kembali dari Bogor. rasa nya ingin sekali bertemu dengan perempuan muda itu.
Devin bergabung makan malam dengan yang lain nya, Miska Memperhatikan Devin seperti tengah memikirkan sesuatu.
"kasihan Alena, ia sangat terpukul dan kecewa dengan keputusan kamu, Vin !"
Ujar Miska tanpa menoleh ke arah Devin yang langsung menatap sang bunda.
"Devin harus bagaimana ? apa dia lebih memilih menikah dengan Devin, tapi tiba tiba ada perempuan yang mengaku hamil anak Devin ? apa seperti itu lebih baik ?"
Ramlan memangku wajah nya sendiri mendengar kan percakapan kedua nya, Ariel sang kakak juga hanya diam mendengar kan.
"Dari awal kak Ariel kan yang di jodohkan, kenapa dia memilih Devin ?!"
Miska tak menjawab.
"Devin sudah berusaha menyukai nya, tapi bunda enggak tahu seperti apa sifat Alena yang sebenarnya. keras kepala dan tidak mau kalah.!"
__ADS_1
Miska masih diam tak menjawab penuturan Devin.
"Oke, di sini Devin yang jahat karena memutus harapan Alena, tapi itu lebih baik dari pada Semua tetap berjalan, tapi penuh dengan kebohongan, karena sampai saat ini Devin tidak mencintai Alena...!"
"Sudah....!"
sergah Ramlan pelan kemudian melanjutkan makan malam nya.
Alena meminta sang ibu untuk menghubungi Miska dan mengatakan kalau ia sampai sakit karena keputusan sepihak Devin, Alena bahkan malu untuk pergi ke kantor karena pernikahan nya tiba tiba saja batal.
Miska benar benar tidak enak hati karena sebelumnya mereka baik baik saja, Miska tidak menyangka kepulangan Devin dari Amsterdam merubah semua nya.
Devin langsung meninggal kan meja makan setelah selesai, Ia tidak berbicara apa pun pada Miska.
"sudah lah Bun jangan bahas masalah Alena lagi, sejak awal kita salah karena sudah memaksakan kehendak pada Devin. aku tidak tahu Devin sengaja tidur dengan perempuan itu, atau itu hanya sekedar alasan agar ia tidak menikah dengan Alena."
Miska mengedikan pundak nya tidak paham dengan pemikiran Devin, sejak kecil ia paling tidak bisa di paksa.
Sekolah dengan keinginan nya sendiri, jurusan apa yang di ambil juga tanpa campur tangan orang tua seperti Ariel yang selalu meminta pendapat mereka.
"Ariel harus apa ? kalau Alena mau dengan Ariel, aku siap menikah dengan nya Bun !"
ujar Ariel ikut berorasi.
"Bunda belum tahu karena Alena menyukai Devin, mamu tenang ya Riel, bunda akan cari kan perempuan yang lebih dari Alena !"
jawab Miska senyum lalu beranjak dari duduknya.
*
Pukul sembilan malam mereka sampai di rumah, Sandi memperhatikan Salma yang berlari kecil masuk ke dalam rumah.
sepanjang perjalanan beberapa kali ia meminta berhenti di rest area karena ingin ke kamar kecil, tak biasa nya kan Salma seperti itu ! Sandi semakin heran dengan putri nya itu.
"langsung istirahat ya, besok kan kembali sekolah...!"
ujar sandi pada si kembar yang langsung mengangguk, keduanya masuk ke dalam kamar.
"Salma kenapa jadi sering ke kamar mandi ?"
Tanya sandi penasaran, Maura sendiri tidak mengerti.
"mungkin karena kebanyakan minum, tak apalah itu normal !"
jawab Maura lalu masuk ke dalam kamar di ikuti oleh sandi, pria itu langsung meraih pinggang lalu memeluk nya dari belakang.
"apa kau tidak lelah ?"
"kau yang selalu membuat ku semangat !"
jawab sandi membuat Maura terkekeh kecil.
bersambung....
__ADS_1