
Beberapa hari berlalu...
Salma kembali ke kampus, Sisa liburan ia habis kan di rumah, Salma tidak pernah kemana mana setelah pulang dari Amsterdam.
Salma berpikir untuk pergi ke apotek membeli sesuatu, Ia masih terus memikirkan tentang malam itu, satu minggu lagi jadwal ia menstruasi, bagaimana kalau Ia sampai telat, kemungkinan ia bisa hamil ?
Salma termenung sendiri memikirkan hal itu ? kemungkinan buruk itu bisa saja terjadi, lalu ia harus berbuat apa ?
"Salma, kamu sedang memikirkan apa !?"
Tanya Arumi membuat Salma menoleh.
"enggak, aku lagi mikirin pelajaran tadi !"
jawab Salma berbohong padahal sejak tadi ia tidak fokus.
"Oh aku kira sedang memikirkan apa ? wajah mu terlihat serius ?"
"benar kah terlihat seperti itu ?"
Arumi mengangguk.
Arumi memperhatikan Salma yang sedikit berubah, sejak pulang liburan sahabat nya itu menjadi pendiam, ia bahkan keluar dari team Cheers leader.
Teman teman yang lain juga sempat bingung, tapi Salma bilang. ia ingin fokus pada pelajaran. padahal kegiatan itu tidak menggangu sama sekali, apa lagi Salma pintar.
"Salma, apa kamu sedang ada masalah ?"
Tanya Arumi penasaran, tak biasanya salma murung seperti itu.
"enggak, aku cuma ngerasa sedikit pusing aja !"
Salma termangu sendiri, ia takut kalau apa yang ia rasakan adalah tanda tanda orang hamil.
"Aku balik duluan ya!" Ujar Salma lalu beranjak dari duduk nya menghampiri kendaraan roda dua nya. Adit juga sedikit heran karena akhir-akhir ini Salma menghindari nya.
Salma melajukan motornya menuju apotek, ia hendak membeli obat yang Ia dapatkan dari internet, mungkin benar bisa membuat nya menstruasi.
Salma tertegun saat penjaga apotek tersebut tidak bisa memberikan obat yang ia minta, penjaga apotek mengatakan bahwa obat tersebut harus dengan resep dokter.
Salma pulang dengan tangan hampa, ia tidak tahu harus berbuat apa jika sudah seperti itu.
Salma melajukan motornya menuju rumah, rasa nya ingin sekali tidur, tubuh nya terasa begitu lemas.
Gegas Salma pergi meninggalkan apotek tersebut, Salma menghentikan laju motor nya di depan tukang buah mangga.
"Buah harum manis nya non...!" ucap pedagang.
"ya, pak minta dua kilo !"
ujar Salma lalu membeli Cilok yang berada di samping pedagang buah.
Salma pulang dengan beberapa makanan yang di beli nya di jalan.
setengah jam kemudian Salma sampai di rumah, terlihat Maura tengah berbincang dengan teman teman arisan nya. Salma menyapa dan mencium tangan semuanya.
"cantik sekali Salma ? sama anak tante mau enggak ?"
ujar salah satu teman Maura, Salma hanya menanggapi dengan senyuman.
Maura juga ikut mengulas senyum, Salma langsung naik ke atas tangga.
"Anak teman ku seumuran Salma hamil, ayahnya marah besar dan sekarang di kirim ke luar negeri ?!"
ucap salah satu teman Maura.
"tidak di nikah kan ?"
Salma menghentikan langkahnya yang hendak naik ke atas tangga.
"Tidak, karena pria itu tidak sesuai dengan keluarga, akhirnya dia di kirim ke luar negeri !"
__ADS_1
Salma mempercepat langkah nya, Ia pun khawatir hal itu terjadi pada nya.
Salma memakan jajanannya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, rasanya lemas dan mengantuk.
*
sore...
Sandi memperhatikan Salma yang tengah melahap mangga yang sudah masak, namun kali ini di tambah dengan sambal rujak.
Memang tidak aneh karena Salma memang menyukai rujak, Sandi duduk di hadapan putri nya itu.
"Papah sudah pulang ?"
Sandi mengangguk.
"Enak sepertinya ?"
"enak pah...!"
Hana Yang menjawab pertanyaan dari sandi, adik nya itu tiba tiba datang dan mencolek sambal tersebut dengan mangga.
"Hana ?"
Perempuan berusia enam belas tahun itu mengulas senyum, berbeda dengan Hani. ia langsung masuk ke dalam kamar.
"Gimana kuliah kamu ?"
"tidak ada masalah ?!"
jawab Salma sambil melahap rujaknya.
"kalau anak papah yang satu lagi bagaimana sekolah nya !?"
"Sama seperti kak Salma !"
jawab Hana lalu beranjak naik ke kamar nya.
Salma mengangguk.
**
Beberapa hari berlalu.....
Salma tak sadar kalau beberapa hari ini ia sudah terlambat menstruasi, Ia sibuk dengan tugas kuliah nya.
Sore ini ia kembali ke rumah dengan tubuh yang terasa begitu lemas, mual dan ingin sekali muntah.
Salma merebah kan tubuh nya di ranjang, Ia terkesiap saat menyadari bahwa Seharusnya minggu kemarin ia mendapatkan menstruasi.
Salma terpaku dengan wajah memucat, Ia beranjak melihat tanggal di kalender.
"Astaga sudah lewat satu minggu !"
Salma mulai gusar dan berjalan kesana kemari sendiri.
"akh aku harus bagaimana ?"
Salma menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Salma....!"
Seru Maura dari luar kamar.
"Salma ?!"
panggil lagi Maura karena tak ada jawaban dari dalam.
"Ya mah ! ada apa ?!"
Salma membuka pintu.
__ADS_1
"Salma sayang Kamu bisa bantu mamah ?"
"Apa ?!"
tanya Salma singkat.
Maura meminta Salma mengantarkan berkas pekerjaan sandi yang tertinggal di rumah.
"Ya sudah, Salma ambil jaket dulu mah !"
Maura mengangguk lalu turun ke bawah menunggu Salma.
"biar cepat naik motor saja mah ?"
Salma tertegun lalu berlari ke arah wastafel.
Maura mengernyit heran saat Salma tiba tiba muntah, gegas Maura menghampiri.
"Salma, kamu sakit nak ?"
tanya Maura memijat tengkuknya.
"hm, seperti nya begitu mah, tapi tadi udah minum obat kok mah !"
Maura mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kamu di antar supir saja ya !"
Salma mengangguk.
Salma merasa sedikit pusing, namun tidak ingin membuat Maura cemas dan saat ini ia ingin sekali makan sesuatu yang masam, strawberry atau mangga muda mungkin, Salma pikir untuk mampir ke mall nanti.
Setengah jam kemudian Salma sampai di hotel, Maura mengatakan bahwa sang ayah tengah mengadakan meeting room di hotel berbintang itu.
gegas Salma menghubungi sandi untuk memberi tahu nya kalau ia sudah sampai di hotel tersebut.
Salma menunggu di lobby hotel, tanpa sadar seseorang tengah mengamati nya.
"Salma sayang !"
"papah, ini berkas nya !"
Ujar Salma memberikan map penting itu.
"terimakasih sayang !"
Salma mengangguk kecil, sandi memindai wajah Salma sedikit pucat.
"Sayang, apa kamu sakit ?"
"Hm, ya...eh bukan, tidak papah ! ya sudah Salma langsung pulang ya !"
sandi mengangguk membiarkan Salma pergi, padahal Salma pergi mencari toilet karena ingin sekali muntah.
Seorang mengikuti Salma dari belakang, Ia hendak memastikan apakah ia perempuan yang sedang ia cari ?
Oe.....Oe...
Devin tertegun mendengar Salma yang tengah muntah, gegas ia masuk ke dalam toilet.
Salma memijat keningnya yang terasa pusing, untung ia tidak pergi sendiri, kalau seperti ini bagaimana bisa ia membawa kendaraan.
Salma melebar kan pupil nya saat seorang pria berdiri di hadapannya ?
"Kamu ?"
Devin menatap lekat wajah perempuan itu, bukan hanya Salma yang tidak bisa melupakan malam itu, tapi bayangan wajah Salma begitu nyata di benak nya.
bersambung...
terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1